Kamis, 21 Januari 2021

How I Met You Again (#AdaNamaYangAbadiDiHatiTapiTakBisaDinikahi)

 Dear S,

Terima kasih atas pertemuan kita kemarin. Setelah 10 tahun sejak perpisahan kita akhirnya kita bertemu lagi. Melepaskan apa yang pernah kita genggam dalam hati kita masing-masing dan menyelesaikan apa yang tidak pernah terselesaikan setelah hari itu, dan saling melepaskan agar kita bahagia dengan pilihan kita.

Setidaknya, aku tahu kamu selalu baik-baik saja. Aku tahu kamu masih bahagia dengan mimpi dan ambisimu. Kalau kupikir, bagus juga kita dulu berpisah. Hehehe... Aku tahu kamu masih menginginkan waktumu sendiri untuk meraih semuanya. Dulu koas, internship, lalu entah kemana kamu pergi. Yang aku tahu kamu terus belajar, belajar, dan belajar. You are the cutest nerd that I ever had.

Kita berpisah waktu itu. Tapi tidak ada kata putus yang keluar dari mulut kita masing-masing. Hanya kehampaan lalu semua menguap begitu saja. Hilang. Sampai 3 tahun setelah perpisahan itu, kamu menghubungiku kembali. Menanyakan kabar, ya hanya seperti itu. Tipikal kamu, tanya kabar-jawab singkat lalu kembali sibuk di duniamu sendiri.

Circa 2015, kamu bertanya kabarku, apakah aku sudah menikah. Aku jawab belum. Kamu bilang kamu sedang ada di pendidikan spesialis di Manado. Kamu bilang, "Iya, aku sekolah, sekolah, sekolah terus." It was great, S. Aku senang dengan laki-laki pintar yang punya ambisi tinggi.

Kamu bilang, "Ayo dong ke Manado." Tapi aku menggeleng, aku gak bisa. Aku takut merasa hampa lagi walaupun waktu itu aku sudah punya kekasih...

Yang pada akhirnya di tahun 2017 aku menikah dan aku undang kamu. Kamu cuma 'read'. Tidak membalas apapun lalu benar-benar menghilang...

Sampai di 2020 lalu kamu kembali menghubungiku. Bertanya kabar. Sungguh aku kaget dengan dirimu sekarang. Jadi Perwira Angkatan Laut. Lalu aku teringat kalau dulu aku gak mau punya pasangan yang berprofesi sebagai TNI atau Polisi. Hahaha... Kamu bilang Januari 2021 kamu mau datang ke Jakarta menemuiku. Mungkin aku bodoh jika mengatakan 'Ya' dan memang akhirnya kita bertemu. 

Kamu mengomeliku masih seperti dulu. Ceplas-ceplos, gak mikir, apa adanya. "Kamu kenapa gak hamil-hamil?Kamu makannya gak pernah bener kan? Gak makan sayur kan kamu? Kamu susah minum vitamin. Dari dulu masih aja begitu." Aku cuma mesem-mesem aja mengiyakan. Hehehe...

Aku ingat di sekitar 2010 kamu selalu bilang aku harus minum vitamin E, makan kacang-kacangan karena waktu itu sela-sela kuku aku selalu terkelupas sampai berdarah...

Kamu selalu bilang aku harus makan banyak sayur karena aku bilang waktu poopy-ku bermasalah...

S, terima kasih sudah pernah mengajarkan aku untuk mengejar mimpi terus menerus.

dan terima kasih dulu sudah pernah membanting hatiku dengan kenyataan bahwa prioritasmu bukan keluarga bahkan aku. 

S, aku ingat kemarin kamu bilang, "Gak ada yang pasti di dunia ini, Shinta.. Terlebih perempuan. Aku gak tau sampai kapan mau sendiri. Sudah cukup sepertinya kalau sendiri. " waktu aku tanya kenapa kamu gak cari istri aja.

S, di akhir pertemuan kita, kamu bilang ke aku supaya aku baik-baik saja di sini. Kamu kasih semua resep vitamin untuk aku. Kali ini aku akan jalanin semua.

Pada akhirnya, aku gak bisa berkata banyak. Aku cuma bisa bilang mudah-mudahan kamu cepat menikah...And I was surprised that you said so many things...

"Shinta, besok aku antar mama berobat dulu ya. Rabu aku ke Surabaya dan Jum'at aku kembali ke Sorong. Kamu baik-baik disini. Kamu cepat hamil ya, make your kids the another version of you. Kamu cewek paling baik yang aku pernah aku punya dulu."

Lalu kita berpelukan. Melepas apa yang sesak semenjak kita berpisah. 

Terima kasih untuk semuanya... Namamu akan selalu ada di bagian hati kecilku walau kita tidak bersatu lagi.




I really believe you were the greatest thing that ever happened to me

God bless your path, dear Letda Laut (K) dr. Stevanus C.P. Supit, S.H


Selasa, 15 Desember 2020

At A Glance

Kadang kita perlu mendengarkan kata hati. Apakah benar-benar kita membutuhkannya? Apakah benar-benar kita menyayanginya?

Di tiga tahun ini aku hanya ingin menuliskan sekilas dari apa yang tersirat di benakku. Tentang keinginan menikah, untuk kalian yang berpikir jika menikah itu menyenangkan.

Jangan pernah menikah jika kamu memang belum siap.

Jangan pernah menikah jika kamu yakin kalau kamu bisa melakukan ini itu hanya dengan diri kamu sendiri. 

Jangan pernah menikah hanya karena kamu mau menghindari konflik dengan orang tuamu

dan jangan pernah menikah hanya karena kamu takut menua sendirian.

Aku bukan tidak bahagia. Tapi kesalahanku adalah aku belum menyelesaikan perasaan lamaku ketika aku menikah.

Dia datang lagi...

Pertama hanya melalui mimpi. Tapi dengan bodohnya aku mencari tahu tentang dia begitu kuatnya.

Sampai akhirnya aku berkomunikasi kembali dengan dia. Aku tahu ini salah. Tapi aku tidak mau membohongi diriku kalau aku merindukannya. Sangat merindukannya sampai aku menangis tanpa air mata ketika mendengar kabarnya. 

dan untuk pertama kalinya aku menyadari keputusanku menikah cepat waktu itu adalah salah. Ada hal yang belum aku selesaikan dengan hatiku. 


Senin, 09 Desember 2019

Singapore 2019 (Day 01, Plus Tiket Pergi dan Pengeluaran)

Hellooo...
Kali ini gue mau ceritain sedikit tentang liburan gue ke Singapore di 4-6 Desember 2019 kemarin. Tadinya gue males banget pergi kesana, tapi karena yang baginda ratu di rumah minta pergi terus ya udah gue booking lah tiket via Traveloka. Deg-degan juga bookingnya karena rada mepet kan. Itu pun beli tiket pergi dulu, tiket pulang masih mahal.

Rinciannya : JKT-KL-SG (kudu lewat KL, namanya juga promo), harganya : Rp 475.000,- per orang. Berhubung pergi berdua sama nyokap ya jadi sekitar Rp 950.000,-

Transitlah kita di KL sambil foto-foto manja coz nyokap gue demen banget difoto yaallah...




Jam 11.30 Waktu Singapura akhirnya kami tiba di Changi, cus..lanjut nyari Jewel.. AHAHAHA.. Norak ye gue baru ke Jewel... 

Waktu masih di Jakarta, gue sibuk cari tau tentang Jewel. Pas liat di Traveloka kok ada tiketnya? Tapi gue tanya teman gue yang udah kesana, katanya free. Plus pas udah  nyampe SG, kata orang-orang sana,"Just go, it is in public area.". Oke baeklaaahhh.. kalo yang free langsung cepet kaki gue..

Tadaaaaaaaaaaaaaa....

Mak.. nemu Jewel juga kita , Makkk...


Udah puas foto-foto, langsung deh kita nyari KFC (hari pertama KFC ajalah dulu daripada puyeng mikir mau makan apa). Jadi tuh, Jewel itu ya public area. Ada di tengah-tengah Plaza yang ada di Changi Airport. Di Plaza tersebut banyak tempat makan dan toko. 

Di KFC gue coba untuk memesan 1 paket aja dulu, cek ombak itu porsinya kayak gimana. Ternyata meennnn...Ayamnya gedong banget. Harganya 10 SGD aja sih ( Sekitar Rp 103.000,-) tapi udah dapat 1 nasi, 1 coke gede, 1 salad, 1 dessert, 2 ayam gede. Ya udah gue cuma minta tambah 1 nasi aja. Total 11 SGD, karena harga nasi adalah 1 SGD saja.. Tapi gue lupa fotoin porsi makanannya.


*********************

SIM CARD dan MRT TICKET

Gue cuma mau info aja nih, kalo beli SIM Card di Bandara itu harganya 35 SGD alias 350ribuan dan kalo lo beli di Sevel, itu cuma 12 SGD. 

MRT Ticket :
Gue gak beli Tourist Pass karena lagi mikir bakal naik MRT terus apa bakal pake Grab, mengingat gue jalan sama nyokap gue dan kondisi kekuatan kakinya berubah-ubah... 

Rata-rata ongkos gue di hari pertama adalah 2.5 SGD atau 25ribuan (Berdua jadi 50ribuan) sekali jalan.






********************

Menuju Hotel


Gue milih hotel di deket MRT Nicoll Highway, udah arah ke Bugis sih. Sebenarnya rada salah juga milih hostel ini. Kirain deket dari MRT, ternyata jalannya cukup bikin gempor. Untung ada eskalator, jadi mak gue aman lah kakinya. Nama hostelnya adalah Five Stones Hostel, sekarang kerjasamanya dengan RedDoorz. Alamatnya di 285 Beach Rd, Singapura 199550. Berikut adalah foto-foto yang gue ambil dari Google, karena lagi-lagi gue lupa fotoin. (Pikun pikun pikun).


Tampak Depan, Sekarang udah ganti plang jadi RedDoorz ya (Sumber : Google)

Kamar untuk 2 orang / Non-Dormitory (Sumber : Google)

Living Room dan Breakfast Area (Ada DVD Player, TV, Buku-buku)

Harga private room for 2 pax : Rp 650.000,- semalam, total 3D2N = Rp 1.300.000,- Include Breakfast (Toast, Cereal, Tea/Coffee). 




********************

ORCHARD ROAD (Lucky Plaza, Sommerset, Paragon, Concorde, Centre Point)

Cuma wisata Mall aja, guys... Tapi asik loh. Disini gue menikmati es krim 1 dollar yang udah gak 1 dollar lagi, tapi 1.2 SGD wkwkwkwk...

Untuk makan, better you go to Lucky Plaza, Lower Ground, towards to McDonald, you'll find a food court. Makanannya enak-enak, harganya sekitar 5-7 SGD (Sekitar 51 ribuan sampai 75 ribuan), untuk minuman ya 1-2 SGD (10ribuan-20ribuan).










******************



DAY 01 Done... 

Bakal gue lanjutin nanti...



Rekap biaya pengeluarannya yuk 


Biaya di bawah untuk 2 Orang
Tiket JKT-SG : Rp 950.000,-
KFC di Jewel : Rp 113.000,-
MRT ke Hotel : Rp 52.000,-
Biaya Menginap di Hostel 3D2N : Rp 1.300.000,-
SIM Card (Beli di Seven Eleven) : Rp 120.000,-
MRT Ke Orchard PP : Rp 110.000,-
Dinner di Lucky Plaza : Rp 150.000,- (Include Drink)


TOTAL : Rp 2.795.000,-












Jalan-Jalan Ke Thailand 2018 (Day 01)

Hello,
Udah lama banget gak nulis-nulis disini. Maklum aja ya, rutinitas after married itu gak kira-kira hihihi. Berhubung udah pisah rumah sama mertua dan suami tipenya yang suka makan makanan rumahan, mau gak mau harus urus semuanya sendiri (dibantu Pak Suami juga sih!). Bangun pagi lalu masak komplit, siapin bekal, trus berangkat ngajar ke sekolah, pulang ngajar dari sekolah juga harus ngajar privat lagi, pulang ngajar lalu masak untuk makan malam, terus kalau sempat ya ngepel rumah. Nyuci? Gak dong, serahkan jasa cuci mencuci ke Laundry terdekat. Hahahahaa..

Oke baiklah, itu sekilas info tentang kehidupan gue sebagai istri dan wanita pekerja. Kali ini gue mau ceritain dikit tentang liburan gue di Bangkok bareng nyokap dan sepupu gue di Desember 2018 kemarin. Suami gak diajak? Lah dia paling susah cuti, beb. Jadi gue liburan tanpa doi.

Rencana perjalanan ke Thailand ini udah dibuat sejak 1 tahun sebelumnya sama nyokap gue. Alasan beliau pengen kesana ya karena info kuliner dan belanja yang dia dengar dari TV atau dari teman-temannya. Yah namanya emak-emak kan, demen banget jalan-jalan yang ada belanjanya.

So, mulai dari mikir sana-sini, ngitung sana-sini jadilah gue booking tiket ke Thailand untuk perjalanan dari 11-14 Desember 2018. Oiya disini gue mau nulis tentang perjalanan dan budget yang gue keluarkan ya.

Yuk.. mulai dari hari pertama :

Untuk penerbangan ke Bangkok, gue ambil Thai Lion. Harganya sekitar Rp 1.200.000,-an (Ini udah yang paling murah ya, guys). Kami berangkat 06.30 dengan penerbangan selama 3 jam.

Penampakan sedikit dari Bandara Don Mueang, Bangkok

Tempat Nunggu Bus, Grab, dan Transportasi Lainnya



Seusai urusan dengan pihak Imigrasi Bandara, kami membeli Sim Card khusus Turis. Harganya sekitar 200 THB atau Rp 100.000,-an aja untuk 7 hari dengan kuota 4G Unlimited. Ini penampakan bungkus Sim Cardnya ya guys, gue comot dari Tokopedia soalnya udah dibuang pas disana. 



Trus kami langsung order Grab ke hostel tempat kami akan menginap. Kenapa pilih Grab? Karena kami bertiga dan harga naik Busnya bakal beda tipis dengan ongkos Grab plus gue bawa nyokap gue yang udah encok-encokan jadi kan kasihan ya bawa orang tua untuk naik Bus umum. Tapi kalo kalian berniat untuk naik Bus umum ke kawasan tempat kami menginap (Phya Thai/Victory Monument) kalian bisa pilih bus dengan nomor A2 ya. 
Kami naik Grab dengan ongkos THB 170 dan Voila! Sampai juga di Motley House, kawasan Phya Thai.
The Motley House ini gue temukan melalui blog juga loh. Biaya menginap per malamnya sekitar 800 THB exclude breakfast. Tapi tenang aja, di sekitar Motley House banyak penjual makanan dan snack. Kalau jalan sedikit, sekitar 4 rumah di sebelah kanan Motley House itu ada 7Eleven guys. So, ga usah takut kelaparan ya... Untuk makan siang seusai sampai disana plus makan pagi di hari berikutnya, kami selalu makan di warung makan yang berjarak 2 rumah dari Motley House. Tapi ini khusus yang non-halal ya.. 
Segini Tuh Murah Harganya Loh!


****Lanjut Nanti****


To You

Untuk kamu yang ada di sana, yang saat ini pun masih kelihatan sendiri... Tenanglah, aku baik-baik saja disini. Cukup bahagia dengan kehidupanku sekarang...
Untuk kamu yang ada di sana, yang masih saja sibuk dengan pencapaian karirmu, teruslah semangat. Kejar apa yang belum kamu dapatkan...
Untuk kamu yang ada di sana, yang suka sekali berorganisasi, berdebat, menggagas ide, dan berkumpul bersama teman-teman seperjuanganmu, semoga organisasimu, perkumpulanmu, atau apalah itu bisa terus berjaya dan melahirkan generasi-generasi penerus yang tahan uji, lebih kaya akan ide, lebih bisa mengatur waktu dan energi sehingga kalian terus berjalan menapaki kesuksesan...

Kadang aku berpikir... Kenapa ya kita gak jadian dulu? Padahal udah sama-sama dekat. Sama-sama tau cerita hidup masing-masing. Tapi setelah aku pikir-pikir, ada bagusnya kita gak jadian. Bisa-bisa akan banyak konflik. Karena setelah aku menikah dengan dia dan memperhatikan kehidupanmu, banyak hal yang mungkin tidak bisa aku tolerir... Seperti kehebohanmu dan betapa dominannya kamu saat bercerita dan gak boleh didebat, bisa jadi patung aja aku dengerinnya. Atau... sibuknya kamu dengan perkumpulan pemuda di margamu itu sampai kadang pulang pagi.. Bisa elus dada ngelihatnya...

Ah... jadi kembali mengenang kan. Tapi tak apa, walau aku sudah bersuami. Yang manis-manis tetaplah manis untuk diingat. Sejauh ini kalau diputar kembali memori itu, tidak ada yang jelek. Cuma masalah hobi ngaretmu aja yang bikin gondok.

Umurmu berapa hari ini? 30 tahun ya? Udah cukuplah ngacir kesana kemari ngurusin perkumpulan marga itu.... Saatnya cari pendamping biar ada yang ngingetin supaya gak pulang pagi gara-gara nongkrong di bandrek UKI...

Selamat ulang tahun ya...


Jumat, 29 Desember 2017

Reflection of 2017




























Reflection of 2017

2017 was a wonderful year I ever had. In addition so many tears and drama that occured in this year, but I found a lot of happiness going on. I found a lot of new friends who really support me and many listen to my grievances, who accept me as is and although they upset me, they still can understand me.
In April he came with his family to propose to me in front of my family. All went well with a little drama that usually happens in the batak family.. Yeah, I have to keep in mind during my wedding preparations. I spent a lot of money, energy, emotions, and tears to prepare for this marriage. I watched during the preparation, many families wanted to make a profit in the middle of spending this money. There is also a very indifferent person though they are my close family. One blood but not in one heart.







Mother? I'm still quarreling all year round. But I'm getting used to it. I'm starting to think it's normal. Angry, irritated, yelled, then silent and warm again. That is my cycle with my mom, LOL.

Lover? he became my husband now. After dating for three years, it almost broke up many times because of unstable emotion, I finally chose him as a life partner and we made a vow on 23rd September 2017. Right after marriage and remembering what has happened, I learned that families do not always expect a reward for the good that is given to us, which we think a close family can turn out to be a bitch with all kinds of requests, your friends you think you love enough , was not willing to take a difficult path to attend your wedding. They who you think do not care, even came and congratulated. This year married, basically I do not regret with all the preparations full of drama. Happy, proud, and grateful. God who enabled me and my husband to pass through!
and.. yeah..the new year stands before us, like a chapter in a book waiting to be written. We can help write that story by setting goals.

By the end of this year I just wish I could forget all the hurt and learn to continue to be a much better person, For my husband, my family, and my friends. May be in the next year I may get more blessings and joy. I hope that in this year to come, I make mistakes. Yes!Mistakes! Because if I’m making mistakes, then I’m making new things, trying new things, learning, living, pushing myself, changing myself, changing my world. I’m doing things I've never done before, and more importantly, I’m doing something..





Dante Coffee, 13.29

Senin, 18 September 2017

Catatan H-5

Catatan H-5

Hari ini dihabiskan dengan (masih) bekerja dan ikut konseling pranikah. Apa sih isi dari konseling pranikah terakhir kami?
Tentu saja, resume dari semua bahan konseling tentang membentuk keluarga Kristen yang penuh kasih dan menjadikan Kristus sebagai kepala keluarga. Artinya adalah kami berdua harus selalu mengandalkan Kristus sebagai pimpinan kami. Konseling pranikah pun gak jauh-jauh tentang "Istri harus menghormati suami dan suami harus mengasihi istri". Ya, walaupun kelihatannya klise, tapi hal ini harus ada demi keseimbangan rumah tangga. Amang pendeta mengingatkan Benny untuk mengasihi dan mencintai aku. Satu kalimat yang bikin aku senyum sendiri adalah waktu amang bilang ke Benny, "Kau tau kan dia anak tunggal? Cintai dia sepenuh hati, tapi jangan memanjakan dia." Eaa.. eaa.. Ku tak boleh dimanja :p .Amang pendetaku gak banyak bertele-tele tentang teori rumah tangga berdasarkan Alkitab. Beliau hanya mengatakan bahwa kehidupan rumah tangga sesungguhnya tidak berpatokan pada teori-teori yang ada di konseling pranikah. Kalian akan tau dan belajar sendiri, katanya.
Terus..  tadi juga belajar jalan dari pintu gereja menuju altar.. Bang Benny jalannya kecepetan terus -_-. Well, hari ini bener-bener oke sih.. God is great! Semoga Tuhan selalu melindungi kami dan keluarga besar kami dalam menyambut hari Sabtu nanti. Amin...

Minggu, 17 September 2017

H-6, Terima kasih :)

D-6 As A Single

Seharusnya saya menulis tentang 7 hari terakhir saya sebagai seorang lajang.. Tapi, berhubung segala persiapan menuju hari pernikahan ini sangat melelahkan maka saya akan menulisnya dimulai dari H-6.

Saya akan menuliskan tentang rasa terima kasih saya terhadap orang-orang yang pernah lalu lalang di hati saya sepanjang saya diizinkan berpacaran sejak kelas 3 SMA, hingga saya menemukan belahan jiwa saya.
.
.
Untuk kamu yang pernah singgah di hati saya, yang dulu saya kira itu cinta sejati saya tapi ternyata itu hanyalah cinta monyet.. Hahaha.. Terima kasih ya, sudah pernah ada dan membuat saya pernah punya pacar super posesif, yang gak ngebolehin saya pergi kemana-mana kecuali ke sekolah (lalu kampus) kemudian ke rumah. Kamu memberikan banyak pelajaran bagaimana bisa sabar menghadapi orang menjengkelkan seperti kamu di usia saya yang baru 17 tahun waktu itu..
.
.
Untuk Pak Dokter, terima kasih karena pernah membuat saya tau rasanya sakit diselingkuhi di depan mata saya sendiri. Bagaimana dengan tegarnya saya berbalik badan meninggalkan kamu setelah kita berbicara 6 mata dengan dia. Sukses untuk pendidikan spesialisnya!
.
.
Untuk kamu, yang saat ini sudah jauh di Nusa Tenggara. Terima kasih sudah pernah jatuh dan bangun bersama saya menghadapi stressnya skripsi, bagaimana kaca mobil dibobol dan laptopmu diambil yang pada akhirnya skripsimu molor 1 tahun, gimana sedihnya kamu waktu gak diterima di Krakatau Posco-salah satu tempat pekerjaan impianmu, gimana sedihnya cinta usia 20an yang kita miliki tanpa restu orang tua. Kamulah orang yang pernah membuat saya menjadi kuat memperjuangkan apapun..
.
.
Untuk orang yang pernah saya cintai diam-diam... Saya akui saya pernah sayang sama kamu tapi saya tidak pernah bisa mengungkapkannya. Beberapa kali kita pergi bersama tapi tidak satupun kata itu terucap dari bibirku.. Saya, orang yang jatuh cinta denganmu secara diam-diam hanya bisa mendoakan. Dulu saya cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh.. Saat ini pun saya doakan agar kamu lekas mempunyai pasangan. Hihihi..
.
.
.
Dan kamu, orang terakhir dan selamanya akan lalu lalang di hati dan pikiran saya. Saya tidak menyangka kamulah yang akan menjadi pasangan hidup saya, orang yang dengan sabarnya mendengarkan cerita saya tentang 4 orang diatas. Orang yang selalu memberi semangat ketika saya pernah disakiti si orang nomor 2 yang saya ceritakan. Sekarang saya semakin siap mengarungi semuanya dengan kamu.. Terima kasih sudah menunggu saya selama ini..

Senin, 17 April 2017

Marhusip Day : DONE

Hello..
Gue mau cerita tentang hari Marhusip gue yang sudah dilaksanakan di hari Sabtu, 15 April 2017 yang lalu. Apa sih itu Marhusip? Marhusip adalah salah satu proses menuju ke pesta pernikahan di dalam Adat Batak dan bisa juga disebut dengan lamaran. Dalam acara ini pihak keluarga besar calon pengantin laki-laki akan membawa makanan khasnya atau disebut dengan tudu-tudu sipanganon yaitu 1 ekor babi atau bisa digantikan oleh sapi ke kediaman pihak calon pengantin perempuan. Makanan tersebut disajikan di atas nampan dan sebagai balasan, pihak keluarga calon pengantin perempuan akan memberikan senampan ikan mas arsik.

Daging babi yang diberikan ke pihak keluarga perempuan

Ikan mas yang diberikan kembali ke pihak laki-laki




Para Raja Hata (Pembawa Acara) baik dari pihak calon pengantin laki-laki maupun calon pengantin perempuan akan berbalasan pantun dan selanjutnya akan diadakan rapat untuk membahas keperluan pesta seperti tanggal pemberkatan, gereja tempat pemberkatan, ulos yang diberikan, dan lain-lain. Pada saat rapat tersebut, calon pengantin akan 'disembunyikan' dan baru dipersilakan keluar ketika rapat keluarga besar sudah selesai dan diberikan uang ingot-ingot sebagai simbol pengingat pesta yang akan datang..


With Uang Ingot-Ingot

Raja Parhata Saling Memberikan Uang Ingot-Ingot

Suasana Marhusip 01

Suasana Marhusip 02




How did I feel when I was in these moment? Yang pasti deg-degan, grogi karena akan diperkenalkan ke keluarga besar Siregar alias keluarga besar calon suami gue. Berkali-kali liat cermin apakah dandanan sudah oke. Yeah, obviously okay cause my best friend, Raisa did a very good make up on me. Satu hal yang bikin gue bete cuma baju gue yang kegedean. Entah nyokap gue yang jahitnya kebesaran apa emang gue udah mengecil dengan sempurna? Tsah! Tapi apapun itu, gue bersukacita karena hari Sabtu kemarin adalah the good day for us. Semua lancar di hari itu, gak ada ngotot-ngototan. Memang, kalo suatu acara berjalan dengan tulus hati di masing-masing orang yang menghadirinya, semua akan berjalan lancar. Yang terpenting adalah berdoa dan berserah kepada Tuhan soal acara-acara seperti ini. Nah sekarang, sudah mulai makin mempersiapkan untuk hari H. Semoga semua lancar!




Thanks to :
1. MUA : Raisa Piscessa br Siahaan ( IG : @thesisters_MUA)
2. Decoration : Roemah Hantar Wulan (IG : @wulanmustika), detail price : 5 Flower Papers @20.000, Bunting Flag around Rp 100.000,- +Background tiles Rp 16.000,-
3. Photographer : Rian Samosir ( IG : @samosir_voyages)
4. Catering : By Family
5. Songket : De'Majestic Ps Mayestik Kebayoran Baru
6. Yellow Kebaya : Made by Mom

Selasa, 07 Maret 2017

Walk Down The Aisle with 'Angles Brought Me Here'




Enam bulan lagi gue akan melangkah bersama pilihan gue, orang yang selama ini adalah teman baik gue, musuh terbaik gue, sekaligus ayah dan abang gue.. Well, setelah perjalanan panjang penuh krikil, lumpur, api, segala macemnya, dan mungkin akan ada beberapa rintangan lagi menuju hari H. Gue cuma bisa berdoa agar gue dan dia, terutama orang tua kami diberi kekuatan lebih, dan kebijaksanaan lebih untuk menghadapi semuanya menuju hari H.

Waktu kecil, gue gak pernah memimpikan seperti apa konsep pernikahan gue, terutama ketika pemberkatan di gereja. Gue cuma tau pengantin akan melangkah pelan menuju altar, jemaat bernyanyi, Pendeta menumpangkan tangan di atas kepala pengantin, selesai ibadah kemudian ke gedung. Sampai pada akhirnya gue beranjak remaja hingga seumur gini, gue sadar... pemilihan lagu untuk melangkah menuju altar itu juga penting. Karena setiap lagu mempunyai suasana tersendiri, apalagi kalo kita mengerti liriknya.

Mengingat dia adalah teman lama gue yang sangat baik, rela mendengarkan curhatan ga jelas gue yang panjang lebar itu, dan kita udah melewati segalanya bersama. Dari mulai sayang-sayangan, cuek-cuekan, marah-marahan, sampai ketawa-ketawa lagi, Gue memilih 'Angels Brought Me Here' untuk lagu pengantar gue dan dia melangkah ke altar nanti. (Dalam hati berdoa semoga wedding singer gue bisa nyanyiin ini,secara tone nya naik turun pake modulasi :D ).


Buat yang belum tau lagunya bisa di-search di Youtube. Gue hanya menuliskan beberapa bait lirik disini :

It's been a long and winding journey,But I'm finally here tonight
Picking up the pieces, And walking back into the light
Into the sunset of your glory, Where my heart and future lies
There's nothing like that feeling, When I look into your eyes

My dreams came true, When I found you
I found you...My miracle

If you could see what I see, That you're the answer to my prayers
And if you could feel the tenderness I feel, You would know
It would be clear, That angels brought me here




It's been a long and winding journey.....Bener banget.. Semua hal yang gue lewati sama dia demi menuju kehidupan berumah-tangga gini bener-bener panjang dan banyak hal-hal yang hampir bikin kami 'gila'. Tapi, Tuhan selalu beri kekuatan buat menghadapinya dan gue yakin dia lah yang punya tulang rusuk ini... Hal lainnya yang bikin gue yakin adalah dia selalu bisa tahu apa yang gue rasakan...If you could see what I see, That you're the answer to my prayers...

Sampai bertemu di altar dengan lagu ini...






Shinta,
08.03.2017/ 09.18






Kamis, 09 Februari 2017

Tujuh Bulan Lagi :)

Fase hidup selanjutnya setelah aku lulus kuliah dan bekerja akan segera tiba dalam waktu tujuh bulan dari sekarang. Rasa deg-degan, khawatir, sedih, bahagia, semua bercampur jadi satu. Apakah aku bisa mempersiapkannya dengan baik? Apakah dana yang dibutuhkan bisa tercukupi? Dan apakah kehidupan setelah menjalankan hari besar itu bisa menjadi lebih baik?
Semua kutanyakan dalam hatiku. Pikiranku bercabang. Semerawut. Aku cuma bisa berusaha dan berdoa sama Tuhan agar semua bisa berjalan lancar. Semoga rezeki aku, dia, dan kedua belah pihak keluarga kami boleh dicukupkan oleh Tuhan. Sehingga semua boleh berbahagia bersama kami.
Untuk materi dan mental, aku hanya merasa semua belum terpenuhi 100%. Masih boros, manajemen keuanganku lumayan buruk. Masih sering ngambek, baperan, dll. Semoga aja semua bisa menjadi lebih baik dari hari ke hari, karena menikah bukan hanya karena cinta...

...

Yang aku tahu, menikah tidak hanya karena aku cinta sama dia, tapi juga memang butuh komitmen yang luar biasa erat. Aku berpedoman pada beberapa ayat yang tertulis di Alkitab, "...apa yang dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia.." dan "..Hendaklah kau setia sampai mati."
.
.
.
Menikah butuh usaha untuk membuat pasangan kita bahagia. Berlaku manis dan berkata hal-hal baik yang bisa menyemangati dan membahagiakan dia.
Menikah butuh kejujuran. Bersatu dengan orang yang tadinya asing, dan kita harus membagi rasa bersama, keluh kesah, masalah, apapun yang kita alami.
Menikah butuh kesabaran untuk paham dengan pasangan. Aku dan dia lahir dari latar belakang keluarga yang berbeda dan memiliki kebiasaan yang berbeda. Memahami sifatnya dan apa yang dia butuhkan kadang masih sulit untuk aku lakukan...

Menikah, bukan karena dua orang sempurna bersatu untuk bekerja sama membangun kehidupan, tapi dua orang yang jauh dari sempurna saling mendukung dalam perbedaan yang ada..
.
.
.
.
-Shinta-
13.05

Selasa, 15 November 2016

My 25

My 25

Thanks to God, because of HIS blessings until this day. Segala sesuatu (mungkin) dimulai di usia ini. Well, usia 25 bukan hanya sekedar memikirkan anti-aging apa yang cocok untuk kulit saya, ke Pulau mana saya harus berwisata sebelum... ehem.. saya dibawa orang...
25... berarti saya tidak bisa lagi bermain-main dengan pekerjaan saya. Berbeda sekali ketika saya masih duduk di tingkat akhir-dimana saya bisa bekerja sambilan atau masa-masa dimana saya bisa seenaknya pindah tempat kerja hanya karena teman kerja saya kurang asik. Saya sadar, pengalaman yang banyak dan mendalam sangat dibutuhkan untuk jenjang karir saya berikutnya. Saya sadar, usia 25 tidak lagi bisa seperti usia 20an awal. Dimana saya bisa dengan entengnya membuang uang untuk sekedar ngopi-ngopi haha-hihi, yang akhirnya saya berpikir 40ribu-50ribu jika saya simpan secara rutin bisa membeli sesuatu yang jauh lebih penting.

25... berarti tidak ada lagi sifat egois dan kekanak-kanakan ala anak tunggal yang dulu kental saya miliki. Berbagi. Sepupu yang segudang, keponakan yang bisa dibuat kesebelasan, dan orang-orang tua yang bisa saya ajak mengobrol tentang kehidupan keluarga, membuat saya berpikir bahwa mengantarkan mama saya arisan jangan hanya duduk dan bermain HP, tapi juga bersosial dengan keluarga lainnya.

25... berarti tidak seenaknya FLING dengan orang lain selain kekasih. Tidak bisa lagi bermain-main karena usia sudah banyak dan untuk ini semua butuh keseriusan. Mempererat komitmen dengan dia yang selalu setia dengan keadaan saya.

Yah.. Saya rasa hidup saya sudah cukup bermakna.Berkat Tuhan yang tidak berhenti mengalir, Kebawelan ibu saya, ngambek-ngambeknya keponakan saya kalau saya hanya mampir ke rumah mereka sebentar-hanya sekedar memeluk dan mencium pipinya, rusuh dan lucunya abang-abang sepupu saya yang super excited mempersiapkan pernikahan saya sampai-sampai mereka mencoba mendesign kebaya saya (haduuuh..tepok jidat), support dari teman-teman terdekat saya, bisa berkumpul dengan PAB 2017 komunitas baru saya, dan... mempersiapkan hari besar dalam hidup saya dengan dia...

Terima kasih, Tuhan.. Pastinya berkat Tuhan selalu ada, saya-nya aja yang kurang bersyukur




Terima kasih, Mami..kalo gak dibawelin gak bakal jadi kayak gini



Terima kasih, Aju dan Lita... Supporter hidup saya yg rela-rela aja rumahnya saya jadikan tempat istirahat kalau sedang bolos




 Terima kasih, Ito dan Eda..Yang selalu repot pengen saya kayak gini, kayak gitu untuk hari besar itu..




Terima kasih, kakak Tita, abang Teo, adek Tier buat kasih sayangnya ke Aunty Shintaaaa... 






Terima kasih, Fidi...Yang selalu sabar dengan mood saya dari zaman kuliah

Terima kasih PAB 2017 yang super rempong, gosip sana sini, ejek2an sana sini, sharing vendor sana sini.. Plis, jangan suka baper kita yaaak..

nb : foto editan mak Duma Hutabarat-arteiis batak PAB 2017


Terima kasih, Cinta... 













Senin, 07 November 2016

Selamat Merayakan Delapan Yang Ke-2

Merayakan delapan yang kedua

Tidak banyak yang bisa aku sampaikan. Cukup saja aku mengenang bagaimana proses kita bisa saling berbicara kembali setelah hampir lima tahun berpisah waktu itu. Bagaimana sesimple itu kita bisa kembali bertemu dengan jujur, tanpa embel-embel hanya ingin berteman saja-urusan pacaran belakangan saja-padahal ujung2nya pacaran juga. Tidak, semua mengalir begitu saja. Setelah terpisah selama itu, kita bisa dengan santainya menyapa,”Apa kabar?” dan “Masih ingat aku kan?”, kemudian terus saling berkomunikasi sampai pada akhirnya di titik delapan itu kita berkomitmen dengan seriusnya. Bersama-sama berperang melawan sakitnya masa lalu, terus berkomitmen menepis semua ketidakcocokan hanya dengan satu kalimat di dalam hati-yang selalu mengingatkan aku untuk tidak berpaling lagi. Kita terus mencoba bangkit ‘kan? Dari hari ke hari dengan segala amarah, tangis, dan tawa. Dari mulai kita saling berdiam karena canggung sampai sekarang kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak tertutupi lagi antara kita. Mulai dari rasa bingung ketika kamu marah dan yang tidak pernah aku mengerti kenapa kalau kamu marah pasti selalu diam dan berbicara seperlunya, sampai sudah mengerti kalau kamu makan sesuatu pasti selalu ada motto ‘save the best for the last’. Yah... kamu selalu menyisihkan lauk yang menurutmu paling enak untuk dimakan terakhir and see what? Kebiasaanmu yang satu itu sama sepertiku. Sepaham itu pula aku mengerti kalau kamu susah fokus untuk mendengarkan semua rentetan ceritaku setiap hari yang ujung-ujungnya aku akan selalu marah karena kamu tidak selalu menangkap apa isi curhatanku. Aku tidak selalu mengingat banyak hal yang sudah pernah kita lalui.Tentu kamu tahu kan kebiasaan pelupaku? Hahaha..

Well, semoga semakin hari kita semakin menjadi lebih baik. Semoga semua cita-cita kita bisa diberkati oleh Tuhan dan semua bisa terjadi oleh karena kehendak-Nya. Mungkin kita jarang untuk mengatakan ‘I Love You’, tapi kita tahu secuek apapun kita, kita akan tetap kembali ke ‘rumah’ dan itu ada di dalam hati kita. Selamat merayakan delapan yang kedua sayang.. I LOVE YOU

Senin, 29 Agustus 2016

29aug2016

dia... pria paling sabar yang pernah saya temui. Berulang kali saya membuat dia kesal, mungkin marah walau hanya dipendam dalam hati, dia tetap diam dan dengan senyum terus menanggapi omelan-omelan saya. Hal ini terus berulang selama 1.5 tahun lebih menjalin hubungan.
Tapi, mungkin kali ini dia lelah
Lelah dengan saya yang terus menerus mengomel tanpa ada sebab jelas
Lelah dengan saya yang tidak pernah merasa puas dengan berat badan dan lekuk tubuh yang ada
Lelah dengan saya yang selalu saja mengeluh tentang jerawat di wajah
Dia lelah dan saya merasa sudah saatnya berhenti.
Terlalu rumit untuk bercerita tentang kisah masa kecil saya yang membentuk diri saya sampai tidak pernah bisa percaya diri lagi. Terlalu kompleks untuk diketahui banyak teman dekat termasuk kekasih sendiri.
Saya gak mau kehilangan dia, walaupun sekarang dia rela kehilangan saya.
Yang saya tahu, saat ini saya tidak lagi cukup baik untuk kehidupannya. Apa yang harus diperjuangkan lagi, jika dia sudah benci dengan saya, lengkap dengan hidup saya.
Saya Cuma bisa menerima dia apa adanya, tanpa berharap dia juga bisa menerima saya tanpa syarat
saya Cuma bisa sayang dengan dia sekuat ini, tanpa berharap rasa sayangnya kembali seperti dulu...

Ketika dia meminta saya pergi dari hidupnya, mungkin dia akan berjalan terus. tapi bagi saya, dunia saya sudah berakhir...

Jumat, 10 Juni 2016

Dicari, Cowok Setia ! (Co-pas : http://24hoursworship.com/dicari-cowok-setia/ )

“Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?”
kesetiaan


“Dicari, cowok setia”. Demikian status salah seorang teman di sebuah situs jejaring. Sebegitu sulitnyakah mencari cowok setia? Dari komentar-komentar yang ada ternyata ia baru saja putus karena pasangannya ketahuan selingkuh. Jika kita melihat perkembangan di jaman modern ini masalah kesetiaan memang menjadi barang yang semakin langka. Ketidaksetiaan semakin lama semakin dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Lewat berbagai lagu, film dan kejadian sehari-hari kita terus menemukan berbagai bentuk ketidaksetiaan sebagai sesuatu yang manusiawi dan lumrah. Tidak heran maka semakin lama semakin sulit saja menemukan sosok manusia yang bisa setia, baik dalam hubungan, pekerjaan dan sebagainya, termasuk tentunya pada Tuhan. Ada banyak alasan yang bisa dijadikan dasar untuk melegalkan ketidaksetiaan itu. Membesar-besarkan kekurangan pasangan, mencari-cari kejelekan misalnya, sampai kepada menyalahkan pihak ketiga. “Bukan saya yang mulai, tapi dia yang menggoda duluan..” itu contoh alasan klasik yang menyalahkan pihak ketiga, padahal setiap manusia punya pilihan apakah mau untuk tetap setia atau menyambut godaan itu.
Mencari orang baik mungkin mudah, tapi mencari orang yang setia sama sulitnya dengan mencari jarum ditumpukan jerami. Jika ini kita alami hari-hari ini, hal yang sama sebenarnya sudah terjadi sejak dahulu kala. Salomo menuliskan hal ini dalam salah satu Amsalnya. “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6). Mengaku teman itu mudah, namun menjadi sahabat yang setia baik dalam suka maupun duka susahnya minta ampun. Dari masa ke masa kita akan terus berhadapan dengan masalah ini, bahkan diantara kita sendiri pun mungkin sulit untuk setia. Padahal masalah kesetiaan ini merupakan salah satu kualitas utama yang diharapkan ada dalam diri orang percaya. Lihatlah apa pesan Paulus kepada Timotius. “…kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.” (1 Timotius 6:11). Sementara Salomo mengingatkan“Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong.”(Amsal 19:22).
Kepada Tuhan pun manusia seringkali sulit untuk setia. Sementara Tuhan memberikan kasih setiaNya yang begitu besar, untuk setia sedikit saja kita susah. Alasannya bisa bermacam-macam. Mulai dari merasa permintaan tidak didengarkan Tuhan, tidak kunjung lepas dari kesulitan, uang, jabatan bahkan jodoh. Tidak jarang kita melihat orang yang rela menyangkal imannya demi kekasih. Tuhan begitu mengasihi kita. Bahkan anakNya yang tunggal pun Dia berikan agar kita semua selamat. Kurang apa lagi? Kehadiran Yesus di dunia ini untuk menggenapkan kehendak Bapa pun sudah menunjukkan sesuatu yang seharusnya bisa kita teladani. Yesus membuktikan kesetiaanNya menanggung segala beban dosa kita sampai mati. Tanpa itu semua mustahil kita bisa menikmati hadirat Tuhan hari ini dan mendapat janji keselamatan setelah episode kehidupan di dunia ini. Kita mengaku sebagai anak Tuhan, tapi kita tidak kunjung bisa meneladaniNya. Disamping itu sering pula kita terus meminta perkara besar dalam doa-doa kita, sementara perkara kecil saja kita tidak bisa menunjukkan kesetiaan dan tanggung jawab. Apa yang dijanjikan Tuhan kepada orang setia sesungguhnya jauh lebih besar daripada berkat dalam kehidupan dunia yang sementara ini.“Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu 2:10c). Ada mahkota kehidupan yang siap dikaruniakan kepada semua orang yang mau taat dan setia sampai mati.
Dalam perumpamaan tentang talenta kita sudah melihat bagaimana Tuhan memandang kesetiaan. Ketika kita diberi perkara kecil, kita harus sanggup mempertanggungjawabkan itu dan melakukannya dengan baik. Lihat apa kata Tuhan kepada hamba yang mampu setia kepada perkara kecil yang dipercayakan Tuhan. “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21,23). Bagaimana reaksi Tuhan kepada orang yang tidak setia? Haruskah Tuhan mempercayakan sesuatu yang lebih besar kepada orang yang tidak sanggup bertanggungjawab dalam perkara kecil? Tentu tidak. “campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”(ay 30). Itu menjadi bagian dari orang yang tidak setia. Maka benarlah nasihat yang diberikan Lukas. “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10).
Mulailah setia dari perkara-perkara kecil. Ketika ada sesuatu yang dipercayakan Tuhan kepada kita, lakukanlah dengan benar dan dengan setia. Bersyukurlah senantiasa, meski apa yang ada saat ini mungkin kecil dibandingkan jerih payah kita, tapi ingatlah bahwa Tuhan pasti menghargai kesungguhan, kejujuran dan kesetiaan anda. Pada saatnya nanti, Dia akan mempercayakan sesuatu yang lebih besar. Menjadi baik saja tidak cukup, kita harus mampu pula meningkatkan kapasitas diri kita untuk menjadi pribadi yang setia, yang bisa dipercaya. Untuk menerima janji dan berkat Tuhan dibutuhkan usaha serius dan perjuangan kita untuk terus setia. Dan semua itu berawal dari hal yang kecil. Tuhan akan melihat sejauh mana kita bisa dipercaya untuk sesuatu yang lebih besar lagi. Tidaklah sulit bagi Tuhan untuk memberkati kita, tapi kita dituntut untuk membuktikan dulu sejauh mana kita mampu setia kepadaNya. Disamping itu, saya pun percaya bahwa lewat hal-hal yang kecilpun Tuhan mampu memberkati kita secara luar biasa. Apapun yang ada pada kita saat ini, bersyukurlah untuk itu, dan lakukan sebaik-baiknya dengan kesetiaan dan kejujuran. Tuhan mampu memberkati itu menjadi luar biasa, dan mempercayakan kita untuk hal-hal yang lebih besar lagi pada waktunya.

Rabu, 11 Mei 2016

Bimbang-Melly Goeslaw

Pertama kali aku tergugahDalam setiap kata yang kau ucapBila malam telah datangTerkadang ingin ku tulis semua perasaan
Kata orang rindu itu indahNamun bagiku ini menyiksaSejenak ku fikirkan untuk ku benci saja dirimuNamun sulit ku membenci
Pejamkan mata bila kuingin bernafas legaDalam anganku aku berada disatuPersimpangan jalan yang sulit kupilih
Ku peluk semua indah hidupkuHikmah yang ku rasa sangat tulusAda dan tiada cinta bagiku tak mengapaNamun ada yang hilang separuhDiriku