Catatan H-5
Hari ini dihabiskan dengan (masih) bekerja dan ikut konseling pranikah. Apa sih isi dari konseling pranikah terakhir kami?
Tentu saja, resume dari semua bahan konseling tentang membentuk keluarga Kristen yang penuh kasih dan menjadikan Kristus sebagai kepala keluarga. Artinya adalah kami berdua harus selalu mengandalkan Kristus sebagai pimpinan kami. Konseling pranikah pun gak jauh-jauh tentang "Istri harus menghormati suami dan suami harus mengasihi istri". Ya, walaupun kelihatannya klise, tapi hal ini harus ada demi keseimbangan rumah tangga. Amang pendeta mengingatkan Benny untuk mengasihi dan mencintai aku. Satu kalimat yang bikin aku senyum sendiri adalah waktu amang bilang ke Benny, "Kau tau kan dia anak tunggal? Cintai dia sepenuh hati, tapi jangan memanjakan dia." Eaa.. eaa.. Ku tak boleh dimanja :p .Amang pendetaku gak banyak bertele-tele tentang teori rumah tangga berdasarkan Alkitab. Beliau hanya mengatakan bahwa kehidupan rumah tangga sesungguhnya tidak berpatokan pada teori-teori yang ada di konseling pranikah. Kalian akan tau dan belajar sendiri, katanya.
Terus.. tadi juga belajar jalan dari pintu gereja menuju altar.. Bang Benny jalannya kecepetan terus -_-. Well, hari ini bener-bener oke sih.. God is great! Semoga Tuhan selalu melindungi kami dan keluarga besar kami dalam menyambut hari Sabtu nanti. Amin...
Senin, 18 September 2017
Minggu, 17 September 2017
H-6, Terima kasih :)
D-6 As A Single
Seharusnya saya menulis tentang 7 hari terakhir saya sebagai seorang lajang.. Tapi, berhubung segala persiapan menuju hari pernikahan ini sangat melelahkan maka saya akan menulisnya dimulai dari H-6.
Saya akan menuliskan tentang rasa terima kasih saya terhadap orang-orang yang pernah lalu lalang di hati saya sepanjang saya diizinkan berpacaran sejak kelas 3 SMA, hingga saya menemukan belahan jiwa saya.
.
.
Untuk kamu yang pernah singgah di hati saya, yang dulu saya kira itu cinta sejati saya tapi ternyata itu hanyalah cinta monyet.. Hahaha.. Terima kasih ya, sudah pernah ada dan membuat saya pernah punya pacar super posesif, yang gak ngebolehin saya pergi kemana-mana kecuali ke sekolah (lalu kampus) kemudian ke rumah. Kamu memberikan banyak pelajaran bagaimana bisa sabar menghadapi orang menjengkelkan seperti kamu di usia saya yang baru 17 tahun waktu itu..
.
.
Untuk Pak Dokter, terima kasih karena pernah membuat saya tau rasanya sakit diselingkuhi di depan mata saya sendiri. Bagaimana dengan tegarnya saya berbalik badan meninggalkan kamu setelah kita berbicara 6 mata dengan dia. Sukses untuk pendidikan spesialisnya!
.
.
Untuk kamu, yang saat ini sudah jauh di Nusa Tenggara. Terima kasih sudah pernah jatuh dan bangun bersama saya menghadapi stressnya skripsi, bagaimana kaca mobil dibobol dan laptopmu diambil yang pada akhirnya skripsimu molor 1 tahun, gimana sedihnya kamu waktu gak diterima di Krakatau Posco-salah satu tempat pekerjaan impianmu, gimana sedihnya cinta usia 20an yang kita miliki tanpa restu orang tua. Kamulah orang yang pernah membuat saya menjadi kuat memperjuangkan apapun..
.
.
Untuk orang yang pernah saya cintai diam-diam... Saya akui saya pernah sayang sama kamu tapi saya tidak pernah bisa mengungkapkannya. Beberapa kali kita pergi bersama tapi tidak satupun kata itu terucap dari bibirku.. Saya, orang yang jatuh cinta denganmu secara diam-diam hanya bisa mendoakan. Dulu saya cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh.. Saat ini pun saya doakan agar kamu lekas mempunyai pasangan. Hihihi..
.
.
.
Dan kamu, orang terakhir dan selamanya akan lalu lalang di hati dan pikiran saya. Saya tidak menyangka kamulah yang akan menjadi pasangan hidup saya, orang yang dengan sabarnya mendengarkan cerita saya tentang 4 orang diatas. Orang yang selalu memberi semangat ketika saya pernah disakiti si orang nomor 2 yang saya ceritakan. Sekarang saya semakin siap mengarungi semuanya dengan kamu.. Terima kasih sudah menunggu saya selama ini..
Seharusnya saya menulis tentang 7 hari terakhir saya sebagai seorang lajang.. Tapi, berhubung segala persiapan menuju hari pernikahan ini sangat melelahkan maka saya akan menulisnya dimulai dari H-6.
Saya akan menuliskan tentang rasa terima kasih saya terhadap orang-orang yang pernah lalu lalang di hati saya sepanjang saya diizinkan berpacaran sejak kelas 3 SMA, hingga saya menemukan belahan jiwa saya.
.
.
Untuk kamu yang pernah singgah di hati saya, yang dulu saya kira itu cinta sejati saya tapi ternyata itu hanyalah cinta monyet.. Hahaha.. Terima kasih ya, sudah pernah ada dan membuat saya pernah punya pacar super posesif, yang gak ngebolehin saya pergi kemana-mana kecuali ke sekolah (lalu kampus) kemudian ke rumah. Kamu memberikan banyak pelajaran bagaimana bisa sabar menghadapi orang menjengkelkan seperti kamu di usia saya yang baru 17 tahun waktu itu..
.
.
Untuk Pak Dokter, terima kasih karena pernah membuat saya tau rasanya sakit diselingkuhi di depan mata saya sendiri. Bagaimana dengan tegarnya saya berbalik badan meninggalkan kamu setelah kita berbicara 6 mata dengan dia. Sukses untuk pendidikan spesialisnya!
.
.
Untuk kamu, yang saat ini sudah jauh di Nusa Tenggara. Terima kasih sudah pernah jatuh dan bangun bersama saya menghadapi stressnya skripsi, bagaimana kaca mobil dibobol dan laptopmu diambil yang pada akhirnya skripsimu molor 1 tahun, gimana sedihnya kamu waktu gak diterima di Krakatau Posco-salah satu tempat pekerjaan impianmu, gimana sedihnya cinta usia 20an yang kita miliki tanpa restu orang tua. Kamulah orang yang pernah membuat saya menjadi kuat memperjuangkan apapun..
.
.
Untuk orang yang pernah saya cintai diam-diam... Saya akui saya pernah sayang sama kamu tapi saya tidak pernah bisa mengungkapkannya. Beberapa kali kita pergi bersama tapi tidak satupun kata itu terucap dari bibirku.. Saya, orang yang jatuh cinta denganmu secara diam-diam hanya bisa mendoakan. Dulu saya cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh.. Saat ini pun saya doakan agar kamu lekas mempunyai pasangan. Hihihi..
.
.
.
Dan kamu, orang terakhir dan selamanya akan lalu lalang di hati dan pikiran saya. Saya tidak menyangka kamulah yang akan menjadi pasangan hidup saya, orang yang dengan sabarnya mendengarkan cerita saya tentang 4 orang diatas. Orang yang selalu memberi semangat ketika saya pernah disakiti si orang nomor 2 yang saya ceritakan. Sekarang saya semakin siap mengarungi semuanya dengan kamu.. Terima kasih sudah menunggu saya selama ini..
Langganan:
Postingan (Atom)