Senin, 29 Agustus 2016

29aug2016

dia... pria paling sabar yang pernah saya temui. Berulang kali saya membuat dia kesal, mungkin marah walau hanya dipendam dalam hati, dia tetap diam dan dengan senyum terus menanggapi omelan-omelan saya. Hal ini terus berulang selama 1.5 tahun lebih menjalin hubungan.
Tapi, mungkin kali ini dia lelah
Lelah dengan saya yang terus menerus mengomel tanpa ada sebab jelas
Lelah dengan saya yang tidak pernah merasa puas dengan berat badan dan lekuk tubuh yang ada
Lelah dengan saya yang selalu saja mengeluh tentang jerawat di wajah
Dia lelah dan saya merasa sudah saatnya berhenti.
Terlalu rumit untuk bercerita tentang kisah masa kecil saya yang membentuk diri saya sampai tidak pernah bisa percaya diri lagi. Terlalu kompleks untuk diketahui banyak teman dekat termasuk kekasih sendiri.
Saya gak mau kehilangan dia, walaupun sekarang dia rela kehilangan saya.
Yang saya tahu, saat ini saya tidak lagi cukup baik untuk kehidupannya. Apa yang harus diperjuangkan lagi, jika dia sudah benci dengan saya, lengkap dengan hidup saya.
Saya Cuma bisa menerima dia apa adanya, tanpa berharap dia juga bisa menerima saya tanpa syarat
saya Cuma bisa sayang dengan dia sekuat ini, tanpa berharap rasa sayangnya kembali seperti dulu...

Ketika dia meminta saya pergi dari hidupnya, mungkin dia akan berjalan terus. tapi bagi saya, dunia saya sudah berakhir...