dia... pria
paling sabar yang pernah saya temui. Berulang kali saya membuat dia kesal,
mungkin marah walau hanya dipendam dalam hati, dia tetap diam dan dengan senyum
terus menanggapi omelan-omelan saya. Hal ini terus berulang selama 1.5 tahun
lebih menjalin hubungan.
Tapi,
mungkin kali ini dia lelah
Lelah dengan
saya yang terus menerus mengomel tanpa ada sebab jelas
Lelah dengan
saya yang tidak pernah merasa puas dengan berat badan dan lekuk tubuh yang ada
Lelah dengan
saya yang selalu saja mengeluh tentang jerawat di wajah
Dia lelah
dan saya merasa sudah saatnya berhenti.
Terlalu
rumit untuk bercerita tentang kisah masa kecil saya yang membentuk diri saya
sampai tidak pernah bisa percaya diri lagi. Terlalu kompleks untuk diketahui
banyak teman dekat termasuk kekasih sendiri.
Saya gak mau
kehilangan dia, walaupun sekarang dia rela kehilangan saya.
Yang saya
tahu, saat ini saya tidak lagi cukup baik untuk kehidupannya. Apa yang harus
diperjuangkan lagi, jika dia sudah benci dengan saya, lengkap dengan hidup
saya.
Saya Cuma
bisa menerima dia apa adanya, tanpa berharap dia juga bisa menerima saya tanpa
syarat
saya Cuma
bisa sayang dengan dia sekuat ini, tanpa berharap rasa sayangnya kembali
seperti dulu...
Ketika dia
meminta saya pergi dari hidupnya, mungkin dia akan berjalan terus. tapi bagi
saya, dunia saya sudah berakhir...