Rabu, 21 Oktober 2015

Sederhana Saja...

Ada yang bilang , wanita baik akan disandingkan dengan pria yang baik dan wanita tidak baik akan disandingkan dengan pria yang tidak baik pula.Tapi, pada kenyataannya, masih ada saja wanita baik yang justru bersanding dengan pria yang tak baik atau sebaliknya. Saat menjalin hubungan bersama seseorang, baik pria atau wanita akan melihat karakter pasangan sebelum memutuskan untuk menikah. Wanita maupun pria juga akan melihat kebaikan-kebaikan yang ada di dalam diri pasangan. Namun tahukah kamu? Rupanya, beberapa pria justru lebih memilih wanita sederhana yang tak memiliki kebaikan lebih di dalam diri. 



Usia saya saat ini 23 menjelang 24 tahun. Masih muda dan saya punya banyak mimpi yang akan saya kejar. Tapi saya lebih memilih untuk menyeleksi mimpi-mimpi saya untuk diwujudkan.  Awal tahun lalu saya sendiri, tanpa pasangan, dan sibuk menyelesaikan tugas akhir kuliah saya sambil mengajar kursus musik,  berpikir untuk merencanakan kuliah pascasarjana lagi, belajar bahasa Jerman, mengambil kursus singkat di Jerman, mencari beasiswa lain, dan masih banyak lagi. Belum terlintas untuk.....mencari calon suami. Sampai pada akhirnya, dia datang dan 'menghancurkan' mimpi-mimpi saya. Dia pria biasa-biasa saja. Tidak terlalu tampan, tidak terlalu kaya raya, sederhana, tidak terlalu ingin tampil berlebihan, tapi dia pekerja, baik dan sayang keluarga. Kami berteman sudah lama, jika ditotal-total ya sudah hampir 6 tahun. Saya tidak pernah berpikir sebelumnya untuk memilih dia jadi pasangan saya jika saya melihat ke belakang--siapa saja yang pernah menjadi pacar saya. Tidak pernah sama sekali. Hanya saja kami 'tidak sengaja' saling mengontak, menanyakan kabar, yang diawali oleh dia menyuruh saya mencarikan dia pacar. Awalnya ingin jadi mak comblang, malah kami yang berpacaran. Saya tertarik dengan dia dan kami punya banyak kesamaan walaupun perbedaan diantara kami cukup membuat kami suka berantem-berantem kecil.

Sampai pada akhirnya kami memutuskan untuk menua bersama... Artinya, saya harus mulai menyeleksi mimpi saya dan mengutamakan keluarga yang (nantinya) akan kami bangun.

Mimpi saya? saya skip. Hanya sampai di kuliah pascasarjana dulu. Saya tidak jadi belajar bahasa Jerman dan mengambil pelatihan disana. Saya tidak jadi apply beasiswa musik gereja di Belanda. Saya tidak jadi ikut pertukaran mahasiswa walaupun saya sempat dapat jatah ke China.

Saya tidak ingin tampil cemerlang lebih dari dia. 
.
.
.
.
.

Saya lebih memilih untuk mendandani diri saya dengan kebaikan-kebaikan diri., bukan dengan pakaian mahal, sepatu bagus, dan polesan make-up di wajah. Hal itu cukup sesekali saja. Saya belajar meredam emosi, menggunakan akal sehat saya, lebih sabar untuk menghindari konflik dan sebenarnya hal itu belum sempurna saya lakukan. LoL.
Saya ingin memajukan dia, menyemangati dia untuk memanjat tangga karirnya.
Sesederhana itu, saya hanya ingin jadi guru yang baik untuk murid saya dan untuk anak saya nantinya. Sesederhana itu, saya ingin mendukung pasangan saya untuk lebih maju dalam karir dan penampilannya di keluarga besar nanti. Saya tidak ingin bersaing di dalam hubungan. Saya akan tetap bekerja selepas menikah nanti, dia pun bekerja dan pastinya itu adalah tugas utama dia. Saya hanya ingin pikiran saya jalan dengan bekerja.
Saya ingin menghormati dia sebagai kepala keluarga (nanti). Yang saya tahu, pastinya dia ingin mengayomi saya dan bebas menikmati kebersamaan tanpa perasaan bersalah karena kami 'seimbang'. 




Yang terutama... saya mau dia merasa kalau dia memang berarti untuk saya.







Pagi ini, 08.34
GMIS Staff Room




Rabu, 14 Oktober 2015

Syarat Hidup

Syarat Hidup


Generasi Sebelumnya
Ada seorang operations manager dari sebuah client kantor gue – yang cool banget. Kita undang dia makan siang dan nasinya keras. Kita sebagai vendor yang baik, meminta maaf. Dia bilang,
“Gak papa. Justru saya suka nasi keras. Gak suka tuh saya, beras sushi.”
“Kok sukanya nasi yang keras Pak?” I cannot help but to ask.
“Iya, orang tua saya ngajarin jangan pernah buang makanan. Nasi kemarin juga kita makan.”
This may be simple. But this, blew my mind.
Dan gue lihat banyak orang tua mulai mengambil langka yang tidak disadari, berdampak.
“Saya waktu kecil, miskin. Saya pastikan anak-anak saya mendapatkan yang terbaik, termahal.”
“Waktu kecil, saya makan aja susah. Saya pastikan mereka itu sekarang makan enak.”
“Waktu kecil, saya belajar ditemani lilin dan 2 buku. Sekarang anak saya, saya sekolahkan ke Inggris.”
We experienced the worst and therefore we tend to give the best.
The question is, is the best…is what our children need? Really?
Orang sukses itu menjadi sukss karena (1) dididik dengan benar, terlepas dari dari apakah dia kaya atau miskin (2) dididik oleh kesulitan yang dia hadapi.
Kita akui ada anak orang kaya yang tetap jempolan attitudenya dan perjuangannya. Tapi kita lihat kebanyakan orang sukses juga dulunya sulit. Kesulitan (dalam beberapa kasus, kemiskinan) itu yang menjadi drive orang-orang untuk menjadi sukses. Ini adalah resep yang nyata. Kesulitan yang orang-orang sukses ini hadapi adalah ladang0 ujian di mana mereka menempa diri mereka menjadi orang sukses.
Pertanyaannya, jika kita ingin mencetak anak-anak yang bermental baja, kenapa kita justru memberikan semua kemudahan? Kenapa justru kita hilangkan semua kesulitan itu?
Karena dengan menghilangkan kesulitan-kesulitan itu, justru kita menciptakan generasi yang syarat hidupnya banyak.


Generasi Berikutnya
Apa yang terjadi dengan dari hasil thinking frame ‘dulu saya susah, saya tidak ingin anak saya susah’? Ini yang terjadi:
Anak dari teman ibu gue terbiasa makan beras impor thailand. Di 98, kita terkena krisis dan orang tuanya tidak lagi mampu beli beras impor. Yang terjadi adalah, anaknya gak bisa makan.
Ada anak dari teman yang terbiasa makan es krim haagen dasz, ketika pertama kali makan es krim lokal, dia muntah.
Ada cucu yang ngamuk di rumah neneknya karena di rumah nenek, gak ada air panas.
Gue tidak mencibir mereka. Apa adanya seorang manusia itu terjadi dari nature dan nurture. Semua ini, adalah nurture.
Bahkan di kantor pun sama. Di kantor kebetulan gue jadi mentor seseorang (saat ini). Dalam sebuah kesempatan, dia pernah berkata “Duh, gak nyaman di posisi ini.”
Di lain kesempatan, “Sayang ya, si X resign, padahal dia membuat saya nyaman di kantor sini.”
Pada kali kedua gue mendengar mentee gue ngomong ini, gue mulai masuk “Kamu sadar gak, kamu udah 2 kali menggarisbawahi bahwa kenyamanan dalam kerja itu, penting bagi kamu.”
“…”
“Emang sih idealnya nyaman. Tapi sayangnya, this is life. We don’t get to pick ideal situations. Sometimes we need to settle with what we have and deal with it.
Tentang kenyamanan, coba jadikan itu sebagai sesuatu yang ‘nice to have’ dan bukan ‘must have’.”
What to Do?
Gue menyukai cara Sultan Jogja mendidik anak-anaknya. Gue pernah dengar bahwa di saat batita, anak sultan dikirim untuk hiidup di desa. Makan susah, main tanah, mandi di sumur. Intinya, meski dia anak sultan, dia tidak tahu bahwa dia anak sultan dan dia merasakan standar hidup yang rendah – dan merasa cukup dengan itu. Setelah agak besar, dia kembali ke istana. Dampaknya, semua Sultan, bersikap merakyat. Dia makan steak, tapi dia tahu bahwa steak yang dia makan adalah sebuah kemewahan. Bukan sebuah syarat hidup niminum.
Gue pun memiliki syarat-syarat hidup. Semakin kesini, semakin gue bertumbuh dewasa, dan semakin banyak fase hidup yang akan gue lewati termasuk bakal jadi seorang ibu nantinya, gue mau mengubah total dan gue kikis hilang itu semua. Karena gue tidak ingin anak-anak gue memiliki syarat hidup yang banyak. Dan satu-satunya cara memastikan itu terjadi adalah bahwa gue pun tidak boleh memiliki syarat hidup banyak.
Gue mau mengajak mereka naik kopaja atau transjakarta setiap hari ke sekolah, sebelum mereka merasakan bahwa naik angkutan umum itu, rendah.
Gue membiarkan mereka tidur di lantai. Siapa tahu suatu saat nanti mereka ternyata akan susah.
Gue mematikan AC saat mereka tidur – siapa tahu mereka suatu saat cannot afford air conditioning.
Gue tidak akan menginstall air panas karena gue ingin anak-anak gue baik-baik saja jika suatu saat nanti mereka tiap hari harus mandi air dingin.
Gue melarang mereka main tablet karena gue ingin mereka tidak tergantung dengan kemewahan itu, termasuk lebih mengikis kemampuan kreatifitas mereka.
Gue melarang mereka menilai teman dari merk mobil mereka karena merk mobil itu gak pernah penting, dan gak akan penting.
Kita pergi ke mall memakai kopaja. And we have fun ketawa-ketawa, seperti jutaan orang lain.
Gue tidak membuang nasi kemarin yang memang masih bagus. Instead gue makan sama anak-anak gue. Siapa tahu suatu saat, that is all they can afford. Agak keras. And we like it.
We teach them to pursue happiness so that they learn the value and purposes of things. Not the price of things.
Nasi kemarin yang masih perfectly safe to eat, masih punya value. Kopaja dan mercy memiliki purpose yang sama, yaitu mengantar kita ke sebuah tempat.
AC atau gak AC memberikan value yang sama. A good night sleep.
Kenapa semua ini penting? Kita harus ingat bahwa generasi bapak kita adalah generasi yang bersaing dengan 3 milyar orang. Mereka bisa mengumpulkan kekayaan dan membeli kemudahan untuk generasi kita. Kita harus bersaing dengan 7 milyar orang. Anak kita nanti mungkin harus bersaing dengan 12 milyar orang di generasi mereka. Gue mau mereka dibentuk karena 'kesusahan' bukan karena 'ibunya gak pernah punya hal-hal itu sehingga gue harus menyediakan apa yang tak tersedia di zaman gue muda'
One needs to be a fucking tough person to be able to compete with 12 billion people. Dan percaya lah, memiliki syarat hidup yang banyak, tidak akan membantu anak-anak kita bersaing dengan 12 milyar orang itu.




GMIS Staff Room
13.16

Ya... Biar Saja Begitu...

Saya percaya, beberapa orang dalam hidup kita memang ditakdirkan hanya untu mengisi masa lalu tapi tidak untuk masa depan.

Beberapa orang lainnya ditakdirkan untuk mengisi hati tapi tidak untuk mengisi hidup.
Sebagian lainnya bersemayam dalam ingatan tapi sudah terkubur dalam hati.

Nah, post ini mau bercerita sedikit tentang mantan-mantan pacar.

Sebagai seorang Scorpio sejati, sudah lumrah bila tidak punya mantan.
.
.
.
.
.
.
.
oke saya bohong.

Saya punya sekitar 5 mantan (sejauh yang bisa saya ingat
 dan saya anggap), nah hubungan saya dengan semuanya ini sekarang bisa dibilang baik-baik saja ya.

Sebut saja Wortel, mantan terakhir saya. Dia paling lama berpacaran dengan saya. Hampir 3 tahun (jika ditambah dengan hubungan tanpa status). Saya menjalani hampir semua naik-turun emosi dengan dia. Dari mulai stres kuliah, bolos kuliah bareng, cemburu dengan teman satu laboratoriumnya, pacaran jarak jauh karena dia ditempatkan di luar pulau waktu magang, mendampingi dia sidang-wisuda, bertemu dan berpergian dengan keluarga besarnya, sampai menemani dia tes kerja sana-sini. Pada akhirnya harus berakhir karena restu orang tua saya. Ibu saya tidak menyukai keluarganya yang –kata ibu saya- penuh dengan hedonisme. Loncat dari kafe yang satu ke kafe lainnya, gila terhadap barang branded, dan sebagainya. Sekarang dia tetap sendiri, fokus pada karirnya di perusahaan listrik milik negara. Katanya sih sempat dikenalkan dengan polwan oleh ayahnya, tapi dia menolak. Saya tahu dia tidak secepat itu bisa move on dari saya walaupun dia tidak pernah menghubungi saya lagi.


Lalu ada Mas yang satu lagi. Mas ini udah mau married dengan perempuan berparas meneduhkan. Kami tidak temenan di hampir semua sosial media karena sempat saling remove setelah putus. Sempat tidak sengaja bertemu beberapa kali di mall. Hanya menegur seadanya, lalu pergi.


Selanjutnya, ada Mas Dokter. Saya berpacaran dengannya sewaktu dia masih di tingkat akhir Fakultas Kedokteran, dan juga Fakultas Hukum. Ya, dia mengambil dua jurusan dalam satu kampus. Saya mengenal patah hati terdahsyat dari dia. Saya belajar untuk meluangkan waktu saya ketika saya sadar dia pergi karena saya tidak pernah ada untuk dia. Dia mahasiswa tante saya. Kami bertemu di koridor rumah sakit, berteman, sampai pada akhirnya memutuskan untuk pacaran walaupun beda suku. Saya sibuk kuliah karena baru awal semester satu dan tidak terlalu fokus pacaran. Saya tidak tahu dulu itu saya sayang dia atau tidak, tapi perlakuannya membuat saya hampir tidak percaya dengan lelaki lagi.


Dan masih ada mas-mas lainnya. Ya bisa dibilang hubungan kami masih baik.Tidak akrab, tapi tidak bermusuhan,


Tapi tidak dengan mantan saya yang satu ini ya,
Sejak berpisah memang kami sama-sama memutuskan untuk tidak saling komunikasi. Bukan karena bermaksud apa-apa, tapi kami lebih nyaman seperti itu. Walau akun twitter kami masih saling mengikuti, tapi komunikasi antara kami bisa dibilang nihil. Walau nomor whatsapp masih tersimpan dengan nama jelasnya, tapi hampir tak ada pesan tertinggal di situ.

Bukan, bukan karena antara kami masih ada rasa,
Tapi ntah kenapa, kami lebih baik begini.
Bukan pula karena kami menjaga perasaan pasangan masing-masing, karena kebetulan kami memiliki pasangan yang sama sekali tidak melarang komunikasi.

Kami hanya...
ya lebih nyaman seperti ini.
Memperhatikan dari jauh, bertukar kabar dari orang lain, saling mendoakan yang terbaik.

Ntahlah, saya tidak tau bagaimana mendeskripsikannya, tapi yang jelas, getaran hangat ketika namanya disebut itu pasti akan terus ada,
kembali lagi bukan karena kami masih ada rasa,
kami hanya bertahun terbiasa. :)



Yaah...Keputusan mengenai mengakhiri hubungan bukan perkara mudah. Akan terus terbawa bahkan hingga ke depannya kelak. Masa lalu seseorang itu ada, tiap manusia memiliki cerita hangatnya masing-masing. Senyum yang terkembang karena nostalgia, doa yang terpanjat tanpa sadar.

Tapi masa lalu ya masa lalu, ia terletak jauh di belakang,
ia tersimpan rapi di ingatan tapi tak berbekas di hati.
Ia menjadikan kita yang hari ini,
yang bisa dengan ikhlas melepaskan cerita yang dulu pernah indah,
yang bisa bersyukur bahwa hari ini kita bisa sama-sama bahagia,
walau tak lagi bersama.