Selasa, 15 November 2016

My 25

My 25

Thanks to God, because of HIS blessings until this day. Segala sesuatu (mungkin) dimulai di usia ini. Well, usia 25 bukan hanya sekedar memikirkan anti-aging apa yang cocok untuk kulit saya, ke Pulau mana saya harus berwisata sebelum... ehem.. saya dibawa orang...
25... berarti saya tidak bisa lagi bermain-main dengan pekerjaan saya. Berbeda sekali ketika saya masih duduk di tingkat akhir-dimana saya bisa bekerja sambilan atau masa-masa dimana saya bisa seenaknya pindah tempat kerja hanya karena teman kerja saya kurang asik. Saya sadar, pengalaman yang banyak dan mendalam sangat dibutuhkan untuk jenjang karir saya berikutnya. Saya sadar, usia 25 tidak lagi bisa seperti usia 20an awal. Dimana saya bisa dengan entengnya membuang uang untuk sekedar ngopi-ngopi haha-hihi, yang akhirnya saya berpikir 40ribu-50ribu jika saya simpan secara rutin bisa membeli sesuatu yang jauh lebih penting.

25... berarti tidak ada lagi sifat egois dan kekanak-kanakan ala anak tunggal yang dulu kental saya miliki. Berbagi. Sepupu yang segudang, keponakan yang bisa dibuat kesebelasan, dan orang-orang tua yang bisa saya ajak mengobrol tentang kehidupan keluarga, membuat saya berpikir bahwa mengantarkan mama saya arisan jangan hanya duduk dan bermain HP, tapi juga bersosial dengan keluarga lainnya.

25... berarti tidak seenaknya FLING dengan orang lain selain kekasih. Tidak bisa lagi bermain-main karena usia sudah banyak dan untuk ini semua butuh keseriusan. Mempererat komitmen dengan dia yang selalu setia dengan keadaan saya.

Yah.. Saya rasa hidup saya sudah cukup bermakna.Berkat Tuhan yang tidak berhenti mengalir, Kebawelan ibu saya, ngambek-ngambeknya keponakan saya kalau saya hanya mampir ke rumah mereka sebentar-hanya sekedar memeluk dan mencium pipinya, rusuh dan lucunya abang-abang sepupu saya yang super excited mempersiapkan pernikahan saya sampai-sampai mereka mencoba mendesign kebaya saya (haduuuh..tepok jidat), support dari teman-teman terdekat saya, bisa berkumpul dengan PAB 2017 komunitas baru saya, dan... mempersiapkan hari besar dalam hidup saya dengan dia...

Terima kasih, Tuhan.. Pastinya berkat Tuhan selalu ada, saya-nya aja yang kurang bersyukur




Terima kasih, Mami..kalo gak dibawelin gak bakal jadi kayak gini



Terima kasih, Aju dan Lita... Supporter hidup saya yg rela-rela aja rumahnya saya jadikan tempat istirahat kalau sedang bolos




 Terima kasih, Ito dan Eda..Yang selalu repot pengen saya kayak gini, kayak gitu untuk hari besar itu..




Terima kasih, kakak Tita, abang Teo, adek Tier buat kasih sayangnya ke Aunty Shintaaaa... 






Terima kasih, Fidi...Yang selalu sabar dengan mood saya dari zaman kuliah

Terima kasih PAB 2017 yang super rempong, gosip sana sini, ejek2an sana sini, sharing vendor sana sini.. Plis, jangan suka baper kita yaaak..

nb : foto editan mak Duma Hutabarat-arteiis batak PAB 2017


Terima kasih, Cinta... 













Senin, 07 November 2016

Selamat Merayakan Delapan Yang Ke-2

Merayakan delapan yang kedua

Tidak banyak yang bisa aku sampaikan. Cukup saja aku mengenang bagaimana proses kita bisa saling berbicara kembali setelah hampir lima tahun berpisah waktu itu. Bagaimana sesimple itu kita bisa kembali bertemu dengan jujur, tanpa embel-embel hanya ingin berteman saja-urusan pacaran belakangan saja-padahal ujung2nya pacaran juga. Tidak, semua mengalir begitu saja. Setelah terpisah selama itu, kita bisa dengan santainya menyapa,”Apa kabar?” dan “Masih ingat aku kan?”, kemudian terus saling berkomunikasi sampai pada akhirnya di titik delapan itu kita berkomitmen dengan seriusnya. Bersama-sama berperang melawan sakitnya masa lalu, terus berkomitmen menepis semua ketidakcocokan hanya dengan satu kalimat di dalam hati-yang selalu mengingatkan aku untuk tidak berpaling lagi. Kita terus mencoba bangkit ‘kan? Dari hari ke hari dengan segala amarah, tangis, dan tawa. Dari mulai kita saling berdiam karena canggung sampai sekarang kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak tertutupi lagi antara kita. Mulai dari rasa bingung ketika kamu marah dan yang tidak pernah aku mengerti kenapa kalau kamu marah pasti selalu diam dan berbicara seperlunya, sampai sudah mengerti kalau kamu makan sesuatu pasti selalu ada motto ‘save the best for the last’. Yah... kamu selalu menyisihkan lauk yang menurutmu paling enak untuk dimakan terakhir and see what? Kebiasaanmu yang satu itu sama sepertiku. Sepaham itu pula aku mengerti kalau kamu susah fokus untuk mendengarkan semua rentetan ceritaku setiap hari yang ujung-ujungnya aku akan selalu marah karena kamu tidak selalu menangkap apa isi curhatanku. Aku tidak selalu mengingat banyak hal yang sudah pernah kita lalui.Tentu kamu tahu kan kebiasaan pelupaku? Hahaha..

Well, semoga semakin hari kita semakin menjadi lebih baik. Semoga semua cita-cita kita bisa diberkati oleh Tuhan dan semua bisa terjadi oleh karena kehendak-Nya. Mungkin kita jarang untuk mengatakan ‘I Love You’, tapi kita tahu secuek apapun kita, kita akan tetap kembali ke ‘rumah’ dan itu ada di dalam hati kita. Selamat merayakan delapan yang kedua sayang.. I LOVE YOU