Senin, 16 November 2015

Buzz the Day with 24

No, i dont want say the words that much. Aku cuma pengen berterima kasih saja kepada Tuhan atas karunia dan penyertaannya sepanjang hari sampai aku tetap bisa sehat, bernafas, dan terberkati hingga di usia 24 ini.

Terima kasih untuk seorang ibu yg melahirkan saya ke dunia 24 tahun lalu di usianya yang senja dan sempat terbaring koma ketika melahirkan saya. Mungkin saya selama ini merupakan anak yang menyebalkan, mungkin jalan pikir kita jauh berbeda, tetapi sehat-sehatlah selalu agar bisa mendampingi putrimu yang kepala batu ini. Tetaplah berjalan tegap hingga akhirnya bisa menyerahkanku kepada priaku di depan altar. Tetaplah mengokohkan tangan agar masih bisa menggendong cucumu nanti...

Terima kasih untuk tante dan sepupu saya Ricardo dan Lita yang tetap ada di  keadaan saya yang sakit maupun sehat, susah ataupun senang. Saya belum bisa jadi saudara yang menyenangkan, ada saja kelakuan saya yang mungkin menyakiti kalian ya. Saya cukup berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.

Teruntuk sahabat, Shintia Dewi...
Nothing to say, but..
I am really love our friendship.
Mendoakan ketika jauh. Saling menanyakan kabar walaupun dalam kemasan 'sat, jing,nyet' hahaha. Terima kasih untuk suara merdunya di instagram. Bali masih terus menanti langkah kita disana :)

Terakhir,
Kamu...
Terima kasih sudah mau mendampingiku selama ini, wanita menyebalkan, manja, dan posesif. Terima kasih untuk waktu dan tenagamu. Atas kejutan, hadiah, dan bunga yang kamu berikan ke tanganku di tengah malam hari ulang tahunku. Untuk pertama kalinya kamu berani mencium pipiku di depan orang tuaku. Terima kasih atas keseriusanmu. Terima kasih, pria menyebalkan!
Maybe you annoy me more than i ever thought, but i want to spend every irritating minutes with you.

Selamat datang, 24...

Sabtu, 07 November 2015

TIGA RATUS ENAM PULUH LIMA BERSAMA


Apa yang bisa diceritakan oleh satuan waktu? Sebuah transformasi, dari seorang yang sangat dikenal menjadi seorang yang begitu asing...
dan seorang asing yang tiba-tiba menjadi bagian hidup..


Tepat satu tahun lalu, ketika saya memutuskan untuk mengiyakan ajakan jalan seorang laki-laki yang  sudah mengenal saya sejak lebih dari 5 tahun lalu.. Tanpa ekspekstasi berlebih. Hanya sekedar mengisi hari Sabtu yang sama saja dengan minggu minggu sebelumnya--jalan dengan siapapun yang mengajak.

Ketika itu, hidup sedang stagnan-stagnannya. Ditinggal pergi cinta dan berusaha untuk menyukai seseorang tapi tak bisa.

Dengan setelan dress blouse lengan panjang berwarna oranye, converse buluk dan rambut tertata apa adanya kami memutuskan menghabiskan malam itu.

Entah apa yang menarik perhatian dari seorang laki-laki yang hanya mengenakan kaos berkerah, jeans dan sepatu sendal. Tapi semakin saya berbicara banyak dengan dirinya, semakin saya ingin mengenal orang ini lebih dalam.

Mungkin pintar.. Pun sopannya.

Apapun, kami memutuskan untuk menutup malam itu dengan menonton resital biola klasik di auditorium Institut Kesenian Jakarta. Sebuah keputusan dan sebuah pembuka bagi jalan berikutnya...

Suatu hari nanti, kami berencana...
kami akan berlutut didepan altar. Berjanji kepada Tuhan kami untuk sehidup semati membangun kehidupan mengatasnamakan ibadah.

Suatu hari nanti,
Saya masih tak terbayang jika hari itu, saya menerima ajakan yang lain.. atau menolak ajakan teman lama yang kaku dan super nyebelin itu. Mungkin ceritanya bukan seperti ini.









Selamat satu tahun,
Benny Alden Siregar ;)


Rabu, 21 Oktober 2015

Sederhana Saja...

Ada yang bilang , wanita baik akan disandingkan dengan pria yang baik dan wanita tidak baik akan disandingkan dengan pria yang tidak baik pula.Tapi, pada kenyataannya, masih ada saja wanita baik yang justru bersanding dengan pria yang tak baik atau sebaliknya. Saat menjalin hubungan bersama seseorang, baik pria atau wanita akan melihat karakter pasangan sebelum memutuskan untuk menikah. Wanita maupun pria juga akan melihat kebaikan-kebaikan yang ada di dalam diri pasangan. Namun tahukah kamu? Rupanya, beberapa pria justru lebih memilih wanita sederhana yang tak memiliki kebaikan lebih di dalam diri. 



Usia saya saat ini 23 menjelang 24 tahun. Masih muda dan saya punya banyak mimpi yang akan saya kejar. Tapi saya lebih memilih untuk menyeleksi mimpi-mimpi saya untuk diwujudkan.  Awal tahun lalu saya sendiri, tanpa pasangan, dan sibuk menyelesaikan tugas akhir kuliah saya sambil mengajar kursus musik,  berpikir untuk merencanakan kuliah pascasarjana lagi, belajar bahasa Jerman, mengambil kursus singkat di Jerman, mencari beasiswa lain, dan masih banyak lagi. Belum terlintas untuk.....mencari calon suami. Sampai pada akhirnya, dia datang dan 'menghancurkan' mimpi-mimpi saya. Dia pria biasa-biasa saja. Tidak terlalu tampan, tidak terlalu kaya raya, sederhana, tidak terlalu ingin tampil berlebihan, tapi dia pekerja, baik dan sayang keluarga. Kami berteman sudah lama, jika ditotal-total ya sudah hampir 6 tahun. Saya tidak pernah berpikir sebelumnya untuk memilih dia jadi pasangan saya jika saya melihat ke belakang--siapa saja yang pernah menjadi pacar saya. Tidak pernah sama sekali. Hanya saja kami 'tidak sengaja' saling mengontak, menanyakan kabar, yang diawali oleh dia menyuruh saya mencarikan dia pacar. Awalnya ingin jadi mak comblang, malah kami yang berpacaran. Saya tertarik dengan dia dan kami punya banyak kesamaan walaupun perbedaan diantara kami cukup membuat kami suka berantem-berantem kecil.

Sampai pada akhirnya kami memutuskan untuk menua bersama... Artinya, saya harus mulai menyeleksi mimpi saya dan mengutamakan keluarga yang (nantinya) akan kami bangun.

Mimpi saya? saya skip. Hanya sampai di kuliah pascasarjana dulu. Saya tidak jadi belajar bahasa Jerman dan mengambil pelatihan disana. Saya tidak jadi apply beasiswa musik gereja di Belanda. Saya tidak jadi ikut pertukaran mahasiswa walaupun saya sempat dapat jatah ke China.

Saya tidak ingin tampil cemerlang lebih dari dia. 
.
.
.
.
.

Saya lebih memilih untuk mendandani diri saya dengan kebaikan-kebaikan diri., bukan dengan pakaian mahal, sepatu bagus, dan polesan make-up di wajah. Hal itu cukup sesekali saja. Saya belajar meredam emosi, menggunakan akal sehat saya, lebih sabar untuk menghindari konflik dan sebenarnya hal itu belum sempurna saya lakukan. LoL.
Saya ingin memajukan dia, menyemangati dia untuk memanjat tangga karirnya.
Sesederhana itu, saya hanya ingin jadi guru yang baik untuk murid saya dan untuk anak saya nantinya. Sesederhana itu, saya ingin mendukung pasangan saya untuk lebih maju dalam karir dan penampilannya di keluarga besar nanti. Saya tidak ingin bersaing di dalam hubungan. Saya akan tetap bekerja selepas menikah nanti, dia pun bekerja dan pastinya itu adalah tugas utama dia. Saya hanya ingin pikiran saya jalan dengan bekerja.
Saya ingin menghormati dia sebagai kepala keluarga (nanti). Yang saya tahu, pastinya dia ingin mengayomi saya dan bebas menikmati kebersamaan tanpa perasaan bersalah karena kami 'seimbang'. 




Yang terutama... saya mau dia merasa kalau dia memang berarti untuk saya.







Pagi ini, 08.34
GMIS Staff Room




Rabu, 14 Oktober 2015

Syarat Hidup

Syarat Hidup


Generasi Sebelumnya
Ada seorang operations manager dari sebuah client kantor gue – yang cool banget. Kita undang dia makan siang dan nasinya keras. Kita sebagai vendor yang baik, meminta maaf. Dia bilang,
“Gak papa. Justru saya suka nasi keras. Gak suka tuh saya, beras sushi.”
“Kok sukanya nasi yang keras Pak?” I cannot help but to ask.
“Iya, orang tua saya ngajarin jangan pernah buang makanan. Nasi kemarin juga kita makan.”
This may be simple. But this, blew my mind.
Dan gue lihat banyak orang tua mulai mengambil langka yang tidak disadari, berdampak.
“Saya waktu kecil, miskin. Saya pastikan anak-anak saya mendapatkan yang terbaik, termahal.”
“Waktu kecil, saya makan aja susah. Saya pastikan mereka itu sekarang makan enak.”
“Waktu kecil, saya belajar ditemani lilin dan 2 buku. Sekarang anak saya, saya sekolahkan ke Inggris.”
We experienced the worst and therefore we tend to give the best.
The question is, is the best…is what our children need? Really?
Orang sukses itu menjadi sukss karena (1) dididik dengan benar, terlepas dari dari apakah dia kaya atau miskin (2) dididik oleh kesulitan yang dia hadapi.
Kita akui ada anak orang kaya yang tetap jempolan attitudenya dan perjuangannya. Tapi kita lihat kebanyakan orang sukses juga dulunya sulit. Kesulitan (dalam beberapa kasus, kemiskinan) itu yang menjadi drive orang-orang untuk menjadi sukses. Ini adalah resep yang nyata. Kesulitan yang orang-orang sukses ini hadapi adalah ladang0 ujian di mana mereka menempa diri mereka menjadi orang sukses.
Pertanyaannya, jika kita ingin mencetak anak-anak yang bermental baja, kenapa kita justru memberikan semua kemudahan? Kenapa justru kita hilangkan semua kesulitan itu?
Karena dengan menghilangkan kesulitan-kesulitan itu, justru kita menciptakan generasi yang syarat hidupnya banyak.


Generasi Berikutnya
Apa yang terjadi dengan dari hasil thinking frame ‘dulu saya susah, saya tidak ingin anak saya susah’? Ini yang terjadi:
Anak dari teman ibu gue terbiasa makan beras impor thailand. Di 98, kita terkena krisis dan orang tuanya tidak lagi mampu beli beras impor. Yang terjadi adalah, anaknya gak bisa makan.
Ada anak dari teman yang terbiasa makan es krim haagen dasz, ketika pertama kali makan es krim lokal, dia muntah.
Ada cucu yang ngamuk di rumah neneknya karena di rumah nenek, gak ada air panas.
Gue tidak mencibir mereka. Apa adanya seorang manusia itu terjadi dari nature dan nurture. Semua ini, adalah nurture.
Bahkan di kantor pun sama. Di kantor kebetulan gue jadi mentor seseorang (saat ini). Dalam sebuah kesempatan, dia pernah berkata “Duh, gak nyaman di posisi ini.”
Di lain kesempatan, “Sayang ya, si X resign, padahal dia membuat saya nyaman di kantor sini.”
Pada kali kedua gue mendengar mentee gue ngomong ini, gue mulai masuk “Kamu sadar gak, kamu udah 2 kali menggarisbawahi bahwa kenyamanan dalam kerja itu, penting bagi kamu.”
“…”
“Emang sih idealnya nyaman. Tapi sayangnya, this is life. We don’t get to pick ideal situations. Sometimes we need to settle with what we have and deal with it.
Tentang kenyamanan, coba jadikan itu sebagai sesuatu yang ‘nice to have’ dan bukan ‘must have’.”
What to Do?
Gue menyukai cara Sultan Jogja mendidik anak-anaknya. Gue pernah dengar bahwa di saat batita, anak sultan dikirim untuk hiidup di desa. Makan susah, main tanah, mandi di sumur. Intinya, meski dia anak sultan, dia tidak tahu bahwa dia anak sultan dan dia merasakan standar hidup yang rendah – dan merasa cukup dengan itu. Setelah agak besar, dia kembali ke istana. Dampaknya, semua Sultan, bersikap merakyat. Dia makan steak, tapi dia tahu bahwa steak yang dia makan adalah sebuah kemewahan. Bukan sebuah syarat hidup niminum.
Gue pun memiliki syarat-syarat hidup. Semakin kesini, semakin gue bertumbuh dewasa, dan semakin banyak fase hidup yang akan gue lewati termasuk bakal jadi seorang ibu nantinya, gue mau mengubah total dan gue kikis hilang itu semua. Karena gue tidak ingin anak-anak gue memiliki syarat hidup yang banyak. Dan satu-satunya cara memastikan itu terjadi adalah bahwa gue pun tidak boleh memiliki syarat hidup banyak.
Gue mau mengajak mereka naik kopaja atau transjakarta setiap hari ke sekolah, sebelum mereka merasakan bahwa naik angkutan umum itu, rendah.
Gue membiarkan mereka tidur di lantai. Siapa tahu suatu saat nanti mereka ternyata akan susah.
Gue mematikan AC saat mereka tidur – siapa tahu mereka suatu saat cannot afford air conditioning.
Gue tidak akan menginstall air panas karena gue ingin anak-anak gue baik-baik saja jika suatu saat nanti mereka tiap hari harus mandi air dingin.
Gue melarang mereka main tablet karena gue ingin mereka tidak tergantung dengan kemewahan itu, termasuk lebih mengikis kemampuan kreatifitas mereka.
Gue melarang mereka menilai teman dari merk mobil mereka karena merk mobil itu gak pernah penting, dan gak akan penting.
Kita pergi ke mall memakai kopaja. And we have fun ketawa-ketawa, seperti jutaan orang lain.
Gue tidak membuang nasi kemarin yang memang masih bagus. Instead gue makan sama anak-anak gue. Siapa tahu suatu saat, that is all they can afford. Agak keras. And we like it.
We teach them to pursue happiness so that they learn the value and purposes of things. Not the price of things.
Nasi kemarin yang masih perfectly safe to eat, masih punya value. Kopaja dan mercy memiliki purpose yang sama, yaitu mengantar kita ke sebuah tempat.
AC atau gak AC memberikan value yang sama. A good night sleep.
Kenapa semua ini penting? Kita harus ingat bahwa generasi bapak kita adalah generasi yang bersaing dengan 3 milyar orang. Mereka bisa mengumpulkan kekayaan dan membeli kemudahan untuk generasi kita. Kita harus bersaing dengan 7 milyar orang. Anak kita nanti mungkin harus bersaing dengan 12 milyar orang di generasi mereka. Gue mau mereka dibentuk karena 'kesusahan' bukan karena 'ibunya gak pernah punya hal-hal itu sehingga gue harus menyediakan apa yang tak tersedia di zaman gue muda'
One needs to be a fucking tough person to be able to compete with 12 billion people. Dan percaya lah, memiliki syarat hidup yang banyak, tidak akan membantu anak-anak kita bersaing dengan 12 milyar orang itu.




GMIS Staff Room
13.16

Ya... Biar Saja Begitu...

Saya percaya, beberapa orang dalam hidup kita memang ditakdirkan hanya untu mengisi masa lalu tapi tidak untuk masa depan.

Beberapa orang lainnya ditakdirkan untuk mengisi hati tapi tidak untuk mengisi hidup.
Sebagian lainnya bersemayam dalam ingatan tapi sudah terkubur dalam hati.

Nah, post ini mau bercerita sedikit tentang mantan-mantan pacar.

Sebagai seorang Scorpio sejati, sudah lumrah bila tidak punya mantan.
.
.
.
.
.
.
.
oke saya bohong.

Saya punya sekitar 5 mantan (sejauh yang bisa saya ingat
 dan saya anggap), nah hubungan saya dengan semuanya ini sekarang bisa dibilang baik-baik saja ya.

Sebut saja Wortel, mantan terakhir saya. Dia paling lama berpacaran dengan saya. Hampir 3 tahun (jika ditambah dengan hubungan tanpa status). Saya menjalani hampir semua naik-turun emosi dengan dia. Dari mulai stres kuliah, bolos kuliah bareng, cemburu dengan teman satu laboratoriumnya, pacaran jarak jauh karena dia ditempatkan di luar pulau waktu magang, mendampingi dia sidang-wisuda, bertemu dan berpergian dengan keluarga besarnya, sampai menemani dia tes kerja sana-sini. Pada akhirnya harus berakhir karena restu orang tua saya. Ibu saya tidak menyukai keluarganya yang –kata ibu saya- penuh dengan hedonisme. Loncat dari kafe yang satu ke kafe lainnya, gila terhadap barang branded, dan sebagainya. Sekarang dia tetap sendiri, fokus pada karirnya di perusahaan listrik milik negara. Katanya sih sempat dikenalkan dengan polwan oleh ayahnya, tapi dia menolak. Saya tahu dia tidak secepat itu bisa move on dari saya walaupun dia tidak pernah menghubungi saya lagi.


Lalu ada Mas yang satu lagi. Mas ini udah mau married dengan perempuan berparas meneduhkan. Kami tidak temenan di hampir semua sosial media karena sempat saling remove setelah putus. Sempat tidak sengaja bertemu beberapa kali di mall. Hanya menegur seadanya, lalu pergi.


Selanjutnya, ada Mas Dokter. Saya berpacaran dengannya sewaktu dia masih di tingkat akhir Fakultas Kedokteran, dan juga Fakultas Hukum. Ya, dia mengambil dua jurusan dalam satu kampus. Saya mengenal patah hati terdahsyat dari dia. Saya belajar untuk meluangkan waktu saya ketika saya sadar dia pergi karena saya tidak pernah ada untuk dia. Dia mahasiswa tante saya. Kami bertemu di koridor rumah sakit, berteman, sampai pada akhirnya memutuskan untuk pacaran walaupun beda suku. Saya sibuk kuliah karena baru awal semester satu dan tidak terlalu fokus pacaran. Saya tidak tahu dulu itu saya sayang dia atau tidak, tapi perlakuannya membuat saya hampir tidak percaya dengan lelaki lagi.


Dan masih ada mas-mas lainnya. Ya bisa dibilang hubungan kami masih baik.Tidak akrab, tapi tidak bermusuhan,


Tapi tidak dengan mantan saya yang satu ini ya,
Sejak berpisah memang kami sama-sama memutuskan untuk tidak saling komunikasi. Bukan karena bermaksud apa-apa, tapi kami lebih nyaman seperti itu. Walau akun twitter kami masih saling mengikuti, tapi komunikasi antara kami bisa dibilang nihil. Walau nomor whatsapp masih tersimpan dengan nama jelasnya, tapi hampir tak ada pesan tertinggal di situ.

Bukan, bukan karena antara kami masih ada rasa,
Tapi ntah kenapa, kami lebih baik begini.
Bukan pula karena kami menjaga perasaan pasangan masing-masing, karena kebetulan kami memiliki pasangan yang sama sekali tidak melarang komunikasi.

Kami hanya...
ya lebih nyaman seperti ini.
Memperhatikan dari jauh, bertukar kabar dari orang lain, saling mendoakan yang terbaik.

Ntahlah, saya tidak tau bagaimana mendeskripsikannya, tapi yang jelas, getaran hangat ketika namanya disebut itu pasti akan terus ada,
kembali lagi bukan karena kami masih ada rasa,
kami hanya bertahun terbiasa. :)



Yaah...Keputusan mengenai mengakhiri hubungan bukan perkara mudah. Akan terus terbawa bahkan hingga ke depannya kelak. Masa lalu seseorang itu ada, tiap manusia memiliki cerita hangatnya masing-masing. Senyum yang terkembang karena nostalgia, doa yang terpanjat tanpa sadar.

Tapi masa lalu ya masa lalu, ia terletak jauh di belakang,
ia tersimpan rapi di ingatan tapi tak berbekas di hati.
Ia menjadikan kita yang hari ini,
yang bisa dengan ikhlas melepaskan cerita yang dulu pernah indah,
yang bisa bersyukur bahwa hari ini kita bisa sama-sama bahagia,
walau tak lagi bersama.


Selasa, 11 Agustus 2015

Edisi Kangen Dosen Pembimbing

Beliau dosen favorit gue. Masih muda, enerjik, disiplin, tapi asik buat diajak nongkrong. Namanya Helena Evelyn Limbong. Lulusan S1 Seni Musik Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan melanjutkan magister di kampus yang sama pula. Beliau dosen pembimbing akademi juga. Mulai dari semester satu hingga semester tiga, gue jarang bertemu beliau, hanya sekedar konsultasi KRS saja. Namun, ketika mengambil kuliah Sejarah Musik 1 di semester lima, gue mulai menghabiskan waktu di kampus dengan beliau, itu juga karena 4 SKS sih.. Hehehe... Awal-awal mengikuti kuliah dengan beliau sih kesannya menegangkan sekali. Kami harus presentasi setiap minggu, merangkum setiap minggu, dan ada kuis tiap minggu yang berkaitan dengan sejarah musik kuno dari Yunani, Mesir, India, China, dan kawan-kawannya. Ngerti gak pas kuliah Sejarah, Shin? Jawabannya adalah NGGAK. Gue bukan tipe pembelajar yang dapat menghapal cepat. Ketika teman-temanku mempresentasikan materi kuliah, 50 persennya  bengong dan 50 persennya pura-pura ngerti aja. Lagipula gue rada malas menghapal nama-nama tangga nada Yunani atau Mesir apalagi India. Urutannya masing-masing berbeda dan dengan nama yang jelas-jelas berbeda. Pas kuliah Sejarah dapat nilai apa? Puji Tuhan dapat B ya... Bisa kan.. Bisa dong, soalnya bu Helena kalo ngasih soal UTS dan UAS itu ya soal analisa, bukan mentok-mentok hapalan mati soal si sejarah musik kuno. Itu yang gue senangi dari si ibu. Soal analisa, walaupun kadang pura-pura ngerti pas kuliah ya masih nyangkut aja sih di otak kalo masalah penggunaan si tangga nada dan filosofinya. Lanjut di Sejarah Musik 2, sudah mulai asyik mendalami sejarah nih. Kali ini yang dipelajari ya soal sejarah musik Barat, masalah zaman Barok, Renaissance, Klasik, Abad Pertengahan, sampai musik moderen, lalu dibahas juga riwayat hidup komposer-komposernya. Dapet nilai apa di kuliah ini? Dapet A dong. Kan udah mulai bertobat ceritanya. (Iya, gue bandel banget zaman kuliah dulu. Sering bolos gara-gara job). Lanjut makin berlanjut ya mulai deh kuliah Komposisi 1 dan 2, dimana kami harus membuat komposisi lagu di akhir semester, harus ada ceritanya, dan harus ada syarat-syarat isi lagu yang sudah kami pelajari di kuliah. Susah loh, ngegabungin hal matematis dalam musik dan penggunaan hati buat menciptakan sebuah lagu. Kadang kalo ngikutin syarat jadinya kayak musik mesin. Kaku.  Bu Helena dengan sabar ngejelasin ke kami pola-pola lagu, dinamikanya, hitungan ketukannya biar gak gantung kalo disambungin ke lirik lagu.
Masuklah gue ke dalam dunia perskripsian. Dosen pembimbing gue ya si Bu Helena. Alasan gue pengen dibimbing sama beliau adalah beliau pakar sejarah musik, bisa etnomusikologi juga, dan metodologi penelitiannya cucoklah sama gue. Judul penelitian gue waktu itu adalah “Rekonstruksi Fo’Ere Nias di Museum Pusaka Nias, Kota Gunung Sitoli Provinsi Sumatera Utara”. Gue jauh-jauh ke Nias buat ambil data. Dengan memohon restu via telepon sama si Ibu, berangkatlah gue menuju Nias.  Ya, perjalanan skripsi gue sih gak lancar-lancar amat. Skripsian 2 semester say! Ditolak sidang waktu semester 8. Sedih dong... Gak apalah. Kalo kata si Ibu mah ‘Yang penting skripsimu berguna, Shin. Gak asal bikin walaupun lambat.’ Ada lagi pas beliau bilang dengan bercanda ‘Yaelah, Shin. CPNS belom buka, lo dikasih jatah kampus 7 tahun ya dipake aja.’ Hahahaha...
 Setelah penolakan sidang pas semester 8, mulailah gue getol konsul-konsul sama si Ibu yang dengan sabar membimbing gue (walaupun kadang marah-marah pas gue kecepetan dateng). Di setiap selesai bimbingan pasti gue diajak nongkrong sama beliau. Kalo gak makan bakmi Siantar ya makan BPK Cawang. Hahahahaha. Itu yang gue demen sama si Ibu.  Galak di kampus tapi asik di luar. Tapi, kayaknya gue doang yang diajak nongkrong sih, anak lain nggak sama sekali. Langsung deh di-cap anak kesayangan. Iyalah kesayangan. Suaminya masih semarga sama patjar gue. Hihihihi... Inget banget tuh pas latihan sidang dirumah si Ibu. Abang Benben nemenin sampai tengah malam.Yang resenya, si Ibu ngasih kesempatan ke abang Ben buat nanyain gue-sok2 jadi penguji. Pertanyaan bang Ben ya mematikan sih. Apa guenya grogi? Hahaha. Tapi ya sudahlah ya... Hmm.. pas sidang gue Cuma ditanya sama penguji, ‘Shinta, habis ini skripsinya mau diapain?’ Trus gue jawab, ‘Mau saya kirim ke Museum, Pak.’ Dosen penguji ngangguk-ngangguk, trus gue disuruh keluar lagi nunggu peserta lain. Udah, gitu doang.. 2 Semester ngerjain skripsi, dana keluar banyak sampe ke Nias, waktu terpakai, diakhirilah perjuangan gue 4.5 tahun di rawamangun dengan pertanyaan skripsi mau diapain.

29 Desember 2014, resmilah gue jadi S.Pd dengan bimbingan si Ibu. I lopyu pulllllll....


Maaf ya, Bu. Kalo aku sering nyusahin ibu gara-gara salah mulu pas ngerjain skripsi, ada yang lupa dibenerin lah, ada lupa masukin gambar lah, ada yang salah bikin footnote lah. Maaf juga, suka ingkar janji selama janjian konsul, maklum ya bu penyakit anak musik kalo udah kena job manggung. Maaf bu, sampai hari ini masih belum bisa temuin ibu lagi, belum bisa traktir ibu. Padahal aku udah kerja, pengen banget traktir ibu di bakmi Siantar. Gantian, kan dulu ibu yang traktir aku kalo abis bimbingan. Sabar ya, Bu. Aku gak lupa kok sama ibu-kayak yang ibu komen pas di facebook aku. Gak lupa sama sekali sama dosen cantik dan pinter kayak ibu. Pokoknya kalo aku off, aku pasti main ke kampus. Miss you, Ibu ! :* 

Senin, 03 Agustus 2015

Yang Tidak Perlu Dikemukakan

Teman-teman seorganisasi saya di gereja mempunyai rencana berkunjung ke salah satu gereja di kota Yogyakarta, tepatnya pada 14-17 Agustus nanti. Tadinya saya mengiyakan, tapi ternyata saya tidak punya cukup banyak 'nyali' untuk membolos pada upacara peringatan kemerdekaan RI nanti. Ketika berkali-kali ditanya kenapa tidak bisa ikut, saya hanya bisa menjawab 'Gak bisa izin, masih karyawan baru.' Dan dengan segala macam caranya, teman-teman saya mulai merayu saya agar mau mengubah keputusan saya. Mulai dari 'Kalo bilang izin dari gereja emang ga bisa?' atau 'Ayolah ikut, Kak. Nanti kita bikinin surat izin, kalo perlu gue deh yang dateng ke kepala sekolah lo.' , sampai ada yang menurut saya sih agak kasar 'Yaelah, gitu aja gak bisa izin. Si A juga guru, Si B juga guru tapi bisa izin.'  Untuk yang terakhir saya memang sempat geram, tapi saya tahan saja, daripada adu mulut. Padahal sudah panas di dalam hati ini.

Saya tidak mau melecehkan tempat kerja si A dan si B yang juga berprofesi sama dengan saya, mungkin peraturan di sekolah mereka amat amat sangat longgar,sehingga bebas saja untuk meninggalkan sekolah. Saya juga tidak mau  menanggapi terlalu dalam soal ocehan teman-teman saya.

Saya memilih diam dan menulis di blog ini.

Pertama, saya sudah tidak terlalu dekat dengan mereka. Tau sendirilah ya kalau jalan-jalan keluar kota dan menginap dengan orang-orang yang kita sendiri enggan untuk mengakrabi. Kenapa? Karena mulutnya kasar-sering menyebut penghuni kebun binatang dan nama-nama tempat setelungkup tangan di celah paha manusia,lalu  tingkah lakunya ketika bertamu terkadang -maaf- malu-maluin. Saya memang agak kasar dengan teman-teman saya di kampus dulu, tapi saya masih bisa menjaga mulut saya ini untuk tidak menyebutkan si doggie di depan altar gereja.

Kedua,  saya sudah punya kekasih (LoL). Apalagi sih yang dicari waktu ada kunjungan pemuda antar gereja. Ya pasangan hidup lah! Saya cukup menjaga mata dan hati saya agar tidak jalan-jalan kemana-mana (cukup di Jakarta aja). Relasi memang penting, tapi tujuan paling utama kunjungan itu mencari relasi hidup, bukan relasi pertemanan :p . Lagian mama saya yang ceriwis itu berkata, "Ngapain lo ikut kunjungan? Udah mau dikawinin juga, mau cari apaan lagi disana? Biarin aja mereka yang jomblo-jomblo itu yang kesana."   Ini mah mama saya yang protektif, pacar saya malah nyantai aja -_-


Jelas kan alasannya, gak mungkin saya jelasin juga ke mereka sih. Nanti dianggap  sok sibuk, caper, sok cantik, sok heboh, sok famous. Udah tau lah tabiat-tabiatnya. Padahal mah emang saya sibuk, cantik, heboh, dan famous. Terus saya bisa apa atuh kalo Tuhan ngasihnya gini?  Lalalalalalalalala

Alasan Untuk Bersama

Pada suatu siang ketika anak-anak didik kami sudah pulang ke rumah mereka masing-masing, seorang teman sejawat menghampiri saya yang sedang duduk  menelungkupkan kepala di atas meja. Teman saya menjawil lengan saya agar saya bangun dan menoleh ke hadapannya. Lantas saya membenarkan posisi saya, seakan-akan sudah mengerti ada hal yang mengganggu pikiran teman saya ini.

“Gue butuh istri.” Ujarnya
“Lah, tiba-tiba ngomong gitu. Angin apa?” tanyaku dengan keheranan
“Ya udah pengen diurusin sih. Udah bosen tinggal sendiri, udah bosen bikin makan sendiri. Udah pengen ada yang nemenin.”
“Yeh. Kalau alasannya itu mah lo hire pembokat aja.” Jawabku dengan sewotnya
....
Alasan untuk bersama.
Mungkin untuk beberapa orang, mengucapkan janji sakral di depan Tuhan dan umatnya itu sesimpel dilandasi oleh rasa ingin tak mau lagi sendirian meratapi hidup dan dunia yang begitu kejam. Beberapa lainnya mungkin beralasan macam-macam, ada yang karena dituntut keluarga, ada juga yang memilih karena memang sudah tak ingin lagi mencari.

Untuk saya, pernikahan itu setinggi-tingginya keputusan manusia. Ada seseorang yang kita putuskan untuk berbagi dosa, bertanggung jawab di akhirat kelak. Jadi orangnya ya ga bisa sembarangan. Menikah bukan hanya tentang perkara ada yang menemani, atau karena ada yang ngurusin atau melipatkan baju. Menikah adalah tentang keputusan hidup bersama, bagaimana dua orang yang sebelumnya tak ada hubungan darah menjadi sah dipersatukan atas nama Tuhan.

Pernikahan yang hanya karena ‘sudah tidak ingin sendiri’ adalah pelecehan kesakralan arti janji depan Tuhan.
Lalu kapan waktu yang tepat untuk menikah?

Untuk saya...

Menikahlah dengan orang  yang diawali oleh rasa jatuh cinta.
Menikah itu hal mudah, bisa dibuat murah (tapi kayaknya nggak deh buat orang Batak).Pondasi awal pernikahan adalah rasa saling cinta, bukan sekedar materi berlimpah. Karena hanya cinta yang bisa membuat manusia bertahan ketika hidup sedang berat-beratnya, bagaimana cinta membuat sepasang manusia tetap tertawa ketika cobaan sedang ramai menghinggapi.

Pernikahan bukan jalan pintas, teman. Bukan juga sesuatu yang harus dilakukan secepat-cepatnya. Pernikahan itu proses, akhir dari awal yang baru. Pernikahan bukan tujuan hidup, bukan pula check list tanda sudah sukses.


Bayangin aja kalau kita menikah tanpa diawali jatuh cinta, apa gak takut di tengah pernikahan mendadak merasakan kupu-kupu di dalam perut dan senyum melengkung karena orang lain? :p

Senin, 27 Juli 2015

You Know My Name, And You Will Read My Story ;)

Welcome to my new blog.

 I'd like to introduce this blog owner, my name is Shinta. I am a music teacher at one of International School at Jakarta. Teaching is my passion, I am addicted to books, travelling, and coffee. Yes, I love coffee very much.  This is not my first blog, so it means this is not my first time to write somethings. I have one other and I decided to close that blog . Maybe this blog contains like my previous blog that contains poems, my love story, my experience at school, my music life, my family, or others.


Enjoy !


xoxo