Senin, 16 November 2015

Buzz the Day with 24

No, i dont want say the words that much. Aku cuma pengen berterima kasih saja kepada Tuhan atas karunia dan penyertaannya sepanjang hari sampai aku tetap bisa sehat, bernafas, dan terberkati hingga di usia 24 ini.

Terima kasih untuk seorang ibu yg melahirkan saya ke dunia 24 tahun lalu di usianya yang senja dan sempat terbaring koma ketika melahirkan saya. Mungkin saya selama ini merupakan anak yang menyebalkan, mungkin jalan pikir kita jauh berbeda, tetapi sehat-sehatlah selalu agar bisa mendampingi putrimu yang kepala batu ini. Tetaplah berjalan tegap hingga akhirnya bisa menyerahkanku kepada priaku di depan altar. Tetaplah mengokohkan tangan agar masih bisa menggendong cucumu nanti...

Terima kasih untuk tante dan sepupu saya Ricardo dan Lita yang tetap ada di  keadaan saya yang sakit maupun sehat, susah ataupun senang. Saya belum bisa jadi saudara yang menyenangkan, ada saja kelakuan saya yang mungkin menyakiti kalian ya. Saya cukup berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.

Teruntuk sahabat, Shintia Dewi...
Nothing to say, but..
I am really love our friendship.
Mendoakan ketika jauh. Saling menanyakan kabar walaupun dalam kemasan 'sat, jing,nyet' hahaha. Terima kasih untuk suara merdunya di instagram. Bali masih terus menanti langkah kita disana :)

Terakhir,
Kamu...
Terima kasih sudah mau mendampingiku selama ini, wanita menyebalkan, manja, dan posesif. Terima kasih untuk waktu dan tenagamu. Atas kejutan, hadiah, dan bunga yang kamu berikan ke tanganku di tengah malam hari ulang tahunku. Untuk pertama kalinya kamu berani mencium pipiku di depan orang tuaku. Terima kasih atas keseriusanmu. Terima kasih, pria menyebalkan!
Maybe you annoy me more than i ever thought, but i want to spend every irritating minutes with you.

Selamat datang, 24...

Sabtu, 07 November 2015

TIGA RATUS ENAM PULUH LIMA BERSAMA


Apa yang bisa diceritakan oleh satuan waktu? Sebuah transformasi, dari seorang yang sangat dikenal menjadi seorang yang begitu asing...
dan seorang asing yang tiba-tiba menjadi bagian hidup..


Tepat satu tahun lalu, ketika saya memutuskan untuk mengiyakan ajakan jalan seorang laki-laki yang  sudah mengenal saya sejak lebih dari 5 tahun lalu.. Tanpa ekspekstasi berlebih. Hanya sekedar mengisi hari Sabtu yang sama saja dengan minggu minggu sebelumnya--jalan dengan siapapun yang mengajak.

Ketika itu, hidup sedang stagnan-stagnannya. Ditinggal pergi cinta dan berusaha untuk menyukai seseorang tapi tak bisa.

Dengan setelan dress blouse lengan panjang berwarna oranye, converse buluk dan rambut tertata apa adanya kami memutuskan menghabiskan malam itu.

Entah apa yang menarik perhatian dari seorang laki-laki yang hanya mengenakan kaos berkerah, jeans dan sepatu sendal. Tapi semakin saya berbicara banyak dengan dirinya, semakin saya ingin mengenal orang ini lebih dalam.

Mungkin pintar.. Pun sopannya.

Apapun, kami memutuskan untuk menutup malam itu dengan menonton resital biola klasik di auditorium Institut Kesenian Jakarta. Sebuah keputusan dan sebuah pembuka bagi jalan berikutnya...

Suatu hari nanti, kami berencana...
kami akan berlutut didepan altar. Berjanji kepada Tuhan kami untuk sehidup semati membangun kehidupan mengatasnamakan ibadah.

Suatu hari nanti,
Saya masih tak terbayang jika hari itu, saya menerima ajakan yang lain.. atau menolak ajakan teman lama yang kaku dan super nyebelin itu. Mungkin ceritanya bukan seperti ini.









Selamat satu tahun,
Benny Alden Siregar ;)