Rabu, 13 Januari 2016
Menikah Ala Batak (Mahal, Rumit, Namun Indah)
Sedari usia remaja saya memimpikan menikah muda. Lulus kuliah lalu menikah. Sempit yah cita-citanya? No, maksud saya ya menikah muda itu agar saya tahu arus dompet saya mengalir kemana dan saya tidak ingin punya usia yang terpaut jauh dengan anak-anak saya kelak. Saya pengin banget dibilang mama gaul.
Masa kecil saya yang walaupun saya tomboy, tetapi masih saya habiskan dengan menonton koleksi film Disney Princess yang ceritanya selalu berakhir bahagia (baca : Sang Putri menikah dengan Pangeran). Mungkin itu adalah sebagian kecil alasan mengapa saya ingin menikah cepat dan yang saya pikirkan saat itu adalah ketika saya menikah, saya akan berjalan memakai gaun putih panjang dan menyusuri taman yang sudah disulap menjadi area pemberkatan sekaligus resepsi pernikahan saya. Yang saya rancang adalah saya memiliki pesta pernikahan di tengah kebun yang banyak bunga dan kain-kain tille putih dan pink untuk dekorasinya, dengan tamu undangan yang sedikit, dan saya berbaur di antara mereka. Ya... ala-ala bule gitulah.
Tapi, semakin saya beranjak dewasa dan sering menemani orang tua ke pesta adat Batak, perlahan saya menyingkirkan mimpi saya tentang pesta pernikahan. Yang saya hadapi adalah keharusan pesta pernikahan dengan adat Batak Toba, yang mempersiapkannya butuh waktu lama, dana ratusan juta, tamu ribuan, dan akan dilaksanakan seharian penuh.
Ya, pesta pernikahan adat Batak adalah salah satu pesta adat pernikahan yang rumit di antara pesta adat suku lainnya seperti Toraja, Minang, dan Bugis ( suku-suku ini termasuk rumit juga loh adatnya).
Dalam kehidupan sehari-hari, suku Batak memiliki keterkaitan hubungan antar individu yang satu dan yang lain, keluarga satu dengan yang lain, marga yang satu dengan yang lain. Adat sangat dijunjung oleh masyarakat Batak yang notabene adalah identitas suku tersebut. Dengan mengetahui tatanan adat Batak, orang Batak akan mudah memperkenalkan dirinya dengan orang Batak lainnya dengan menyebutkan marga, lalu terjadilah cara penyebutan dengan kerabatnya tersebut sesuai urutan marga dan nomor generasi, inilah yang disebut dengan partuturon .
Orang Batak tidak terlepas dari adat istiadat, baik itu acara kelahiran, kematian, memasuki rumah, hingga pernikahan.Adat kecil maupun adat besar pasti akan dilaksanakan oleh orang Batak.
Pernikahan Batak akan dipandang sah bila adat sudah dilaksanakan walaupun yang terutama adalah acara keagamaan (pamasu-masuon). Pengantin batak yang sudah melaksanakan adat pernikahan akan dipandang sah diakui dalam adat keluarga Batak.
Terdapat 7 tata cara pernikahan adat Batak yang dilaksanakan, yaitu :
1. Mangarisika ( Perkenalan)
Pada tahap ini pihak pria melakukan kunjungan tidak resmi ke rumah wanita untuk perkenalan pihak keluarga pria kepada orang tua si wanita
2. Marhori-hori Dinding
Ini adalah tahapan yang berisi pembicaraan antar kedua belah pihak yang melamar dan yang dilamar. Tahap ini masih terbatas dalam hubungan kerabat dekat dan belum diketahui oleh umum. Tahap ini merupakan kelanjutan dari mangarisika. Tapi akhir-akhir ini acara marhori-hori dinding sudah termasuk pembicaraan hal-hal pokok dari pesta pernikahan adat, seperti besarnya nilai mas kawin (sinamot) dan tempat pesta pernikahan.
3. Marhata Sinamot
Sinamot adalah tuhor ni boru. Dalam adat Batak, pihak pria 'membeli' wanita yang akan dijadikan istri. Jumlah sinamot yang akan dibayarkan dibicarakan dalam tahapan ini. Sebelumnya terlebih dahulu ada acara makan bersama yang dihadiri beberapa pihak keluarga. Dalam tahap ini ada beberapa hal pokok yang dibicarakan, yaitu sinamot, ulos, parjuhut dan jambar, jumlah undangan, tanggal dan tempat pesta, serta tata cara adat.
4. Martumpol
Martumpol adalah penandatanganan persetujuan pernikahan oleh orang tua kedua belah pihak atas rencana perkawinan anak-anak mereka dihadapan pejabat gereja. Martumpol dilakukan biasanya dua minggu sebelum pesta pernikahan. Dalam hal ini kedua pengantin ikut hadir bersama anggota keluarga ke gereja. Usai ibadah martumpol, warta pernikahan kedua mempelai akan dibacakan dua kali hari Minggu di gereja masing-masing mempelai. Setelah dua kali warta pernikahan, jika tidak ada gugatan dari pihak lain, baru dapat dilanjutkan dengan pemberkatan nikah.
5. Martonggo Raja (pihak pria) atau Maria Raja (pihak wanita)
Ini merupakan kegiatan pra pesta yang sifatnya seremonial untuk membicarakan kelengkapan pesta secara teknis dan non teknis
6. Pasu-pasu Parbagason (Pemberkatan Pernikahan)
Pemberkatan pernikahan kedua mempelai dilakukan di Gereja oleh pendeta. Ketika pemberkatan gereja telah selesai, maka kedua mempelai sudah sah sebagai pasangan suami-istri menurut gereja. Setelah pemberkatan dari gereja, maka kedua belah pihak mengikuti pesta adat.
7. Pesta Unjuk
Pesta ini adalah rangkaian adat dalam pernikahan Batak. Di dalam pesta ini terdapat pembagian jambar (jatah), uang, dan ulos kepada kerabat keluarga.
Demikianlah, sekelumit yang rumit dalam pesta adat pernikahan Batak. Mengingat rumit dan mahalnya rangkaian adat tersebut, maka jarang sekali pasangan Batak yang bercerai. Tadinya saya berpikir untuk tidak melaksanakan adat batak di pernikahan, tetapi semakin bertambahnya usia dan luasnya pergaulan saya dengan orang Batak, maka saya makin mencintai budaya suku sendiri dan ingin terjun di dalamnya.
HORAS !
18.37
Selasa, 12 Januari 2016
Hello 2016
Setiap orang pastinya punya resolusi di tahun yang baru dong. Udah di-list. Entah bakal dilakuin atau nggak. Yang penting punya tujuan dulu kan.
Seperti kebanyakan orang, gue pun punya beberapa resolusi di tahun baru ini, di antaranya melanjutkan resolusi 2015 yang belum kelar :p
Yang jelas, pertama-tama gue mau menyingkirkan beberapa benda kenangan yang semalam gue temukan di kotak di dalam lemari gue..
Dari SD gue punya 'box of memory'. Semua 'harta karun' gue, gue masukin kesitu.
And next year's words await another voice.”
Senin, 16 November 2015
Buzz the Day with 24
No, i dont want say the words that much. Aku cuma pengen berterima kasih saja kepada Tuhan atas karunia dan penyertaannya sepanjang hari sampai aku tetap bisa sehat, bernafas, dan terberkati hingga di usia 24 ini.
Terima kasih untuk seorang ibu yg melahirkan saya ke dunia 24 tahun lalu di usianya yang senja dan sempat terbaring koma ketika melahirkan saya. Mungkin saya selama ini merupakan anak yang menyebalkan, mungkin jalan pikir kita jauh berbeda, tetapi sehat-sehatlah selalu agar bisa mendampingi putrimu yang kepala batu ini. Tetaplah berjalan tegap hingga akhirnya bisa menyerahkanku kepada priaku di depan altar. Tetaplah mengokohkan tangan agar masih bisa menggendong cucumu nanti...
Terima kasih untuk tante dan sepupu saya Ricardo dan Lita yang tetap ada di keadaan saya yang sakit maupun sehat, susah ataupun senang. Saya belum bisa jadi saudara yang menyenangkan, ada saja kelakuan saya yang mungkin menyakiti kalian ya. Saya cukup berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.
Teruntuk sahabat, Shintia Dewi...
Nothing to say, but..
I am really love our friendship.
Mendoakan ketika jauh. Saling menanyakan kabar walaupun dalam kemasan 'sat, jing,nyet' hahaha. Terima kasih untuk suara merdunya di instagram. Bali masih terus menanti langkah kita disana :)
Terakhir,
Kamu...
Terima kasih sudah mau mendampingiku selama ini, wanita menyebalkan, manja, dan posesif. Terima kasih untuk waktu dan tenagamu. Atas kejutan, hadiah, dan bunga yang kamu berikan ke tanganku di tengah malam hari ulang tahunku. Untuk pertama kalinya kamu berani mencium pipiku di depan orang tuaku. Terima kasih atas keseriusanmu. Terima kasih, pria menyebalkan!
Maybe you annoy me more than i ever thought, but i want to spend every irritating minutes with you.
Selamat datang, 24...
Sabtu, 07 November 2015
TIGA RATUS ENAM PULUH LIMA BERSAMA
Rabu, 21 Oktober 2015
Sederhana Saja...
Saya ingin menghormati dia sebagai kepala keluarga (nanti). Yang saya tahu, pastinya dia ingin mengayomi saya dan bebas menikmati kebersamaan tanpa perasaan bersalah karena kami 'seimbang'.
Rabu, 14 Oktober 2015
Syarat Hidup
Ya... Biar Saja Begitu...
Beberapa orang lainnya ditakdirkan untuk mengisi hati tapi tidak untuk mengisi hidup.
Sebagian lainnya bersemayam dalam ingatan tapi sudah terkubur dalam hati.
Nah, post ini mau bercerita sedikit tentang mantan-mantan pacar.
Sebagai seorang Scorpio sejati, sudah lumrah bila tidak punya mantan.
.
.
.
.
.
.
.
oke saya bohong.
Saya punya sekitar 5 mantan (sejauh yang bisa saya ingat dan saya anggap), nah hubungan saya dengan semuanya ini sekarang bisa dibilang baik-baik saja ya.
Sebut saja Wortel, mantan terakhir saya. Dia paling lama berpacaran dengan saya. Hampir 3 tahun (jika ditambah dengan hubungan tanpa status). Saya menjalani hampir semua naik-turun emosi dengan dia. Dari mulai stres kuliah, bolos kuliah bareng, cemburu dengan teman satu laboratoriumnya, pacaran jarak jauh karena dia ditempatkan di luar pulau waktu magang, mendampingi dia sidang-wisuda, bertemu dan berpergian dengan keluarga besarnya, sampai menemani dia tes kerja sana-sini. Pada akhirnya harus berakhir karena restu orang tua saya. Ibu saya tidak menyukai keluarganya yang –kata ibu saya- penuh dengan hedonisme. Loncat dari kafe yang satu ke kafe lainnya, gila terhadap barang branded, dan sebagainya. Sekarang dia tetap sendiri, fokus pada karirnya di perusahaan listrik milik negara. Katanya sih sempat dikenalkan dengan polwan oleh ayahnya, tapi dia menolak. Saya tahu dia tidak secepat itu bisa move on dari saya walaupun dia tidak pernah menghubungi saya lagi.
Lalu ada Mas yang satu lagi. Mas ini udah mau married dengan perempuan berparas meneduhkan. Kami tidak temenan di hampir semua sosial media karena sempat saling remove setelah putus. Sempat tidak sengaja bertemu beberapa kali di mall. Hanya menegur seadanya, lalu pergi.
Selanjutnya, ada Mas Dokter. Saya berpacaran dengannya sewaktu dia masih di tingkat akhir Fakultas Kedokteran, dan juga Fakultas Hukum. Ya, dia mengambil dua jurusan dalam satu kampus. Saya mengenal patah hati terdahsyat dari dia. Saya belajar untuk meluangkan waktu saya ketika saya sadar dia pergi karena saya tidak pernah ada untuk dia. Dia mahasiswa tante saya. Kami bertemu di koridor rumah sakit, berteman, sampai pada akhirnya memutuskan untuk pacaran walaupun beda suku. Saya sibuk kuliah karena baru awal semester satu dan tidak terlalu fokus pacaran. Saya tidak tahu dulu itu saya sayang dia atau tidak, tapi perlakuannya membuat saya hampir tidak percaya dengan lelaki lagi.
Tapi tidak dengan mantan saya yang satu ini ya,
Sejak berpisah memang kami sama-sama memutuskan untuk tidak saling komunikasi. Bukan karena bermaksud apa-apa, tapi kami lebih nyaman seperti itu. Walau akun twitter kami masih saling mengikuti, tapi komunikasi antara kami bisa dibilang nihil. Walau nomor whatsapp masih tersimpan dengan nama jelasnya, tapi hampir tak ada pesan tertinggal di situ.
Bukan, bukan karena antara kami masih ada rasa,
Tapi ntah kenapa, kami lebih baik begini.
Bukan pula karena kami menjaga perasaan pasangan masing-masing, karena kebetulan kami memiliki pasangan yang sama sekali tidak melarang komunikasi.
Kami hanya...
ya lebih nyaman seperti ini.
Memperhatikan dari jauh, bertukar kabar dari orang lain, saling mendoakan yang terbaik.
Ntahlah, saya tidak tau bagaimana mendeskripsikannya, tapi yang jelas, getaran hangat ketika namanya disebut itu pasti akan terus ada,
kembali lagi bukan karena kami masih ada rasa,
kami hanya bertahun terbiasa. :)
Yaah...Keputusan mengenai mengakhiri hubungan bukan perkara mudah. Akan terus terbawa bahkan hingga ke depannya kelak. Masa lalu seseorang itu ada, tiap manusia memiliki cerita hangatnya masing-masing. Senyum yang terkembang karena nostalgia, doa yang terpanjat tanpa sadar.
Tapi masa lalu ya masa lalu, ia terletak jauh di belakang,
ia tersimpan rapi di ingatan tapi tak berbekas di hati.
Ia menjadikan kita yang hari ini,
yang bisa dengan ikhlas melepaskan cerita yang dulu pernah indah,
yang bisa bersyukur bahwa hari ini kita bisa sama-sama bahagia,
walau tak lagi bersama.



