Usia saya saat ini 23 menjelang 24 tahun. Masih muda dan saya punya banyak mimpi yang akan saya kejar. Tapi saya lebih memilih untuk menyeleksi mimpi-mimpi saya untuk diwujudkan. Awal tahun lalu saya sendiri, tanpa pasangan, dan sibuk menyelesaikan tugas akhir kuliah saya sambil mengajar kursus musik, berpikir untuk merencanakan kuliah pascasarjana lagi, belajar bahasa Jerman, mengambil kursus singkat di Jerman, mencari beasiswa lain, dan masih banyak lagi. Belum terlintas untuk.....mencari calon suami. Sampai pada akhirnya, dia datang dan 'menghancurkan' mimpi-mimpi saya. Dia pria biasa-biasa saja. Tidak terlalu tampan, tidak terlalu kaya raya, sederhana, tidak terlalu ingin tampil berlebihan, tapi dia pekerja, baik dan sayang keluarga. Kami berteman sudah lama, jika ditotal-total ya sudah hampir 6 tahun. Saya tidak pernah berpikir sebelumnya untuk memilih dia jadi pasangan saya jika saya melihat ke belakang--siapa saja yang pernah menjadi pacar saya. Tidak pernah sama sekali. Hanya saja kami 'tidak sengaja' saling mengontak, menanyakan kabar, yang diawali oleh dia menyuruh saya mencarikan dia pacar. Awalnya ingin jadi mak comblang, malah kami yang berpacaran. Saya tertarik dengan dia dan kami punya banyak kesamaan walaupun perbedaan diantara kami cukup membuat kami suka berantem-berantem kecil.
Sampai pada akhirnya kami memutuskan untuk menua bersama... Artinya, saya harus mulai menyeleksi mimpi saya dan mengutamakan keluarga yang (nantinya) akan kami bangun.
Mimpi saya? saya skip. Hanya sampai di kuliah pascasarjana dulu. Saya tidak jadi belajar bahasa Jerman dan mengambil pelatihan disana. Saya tidak jadi apply beasiswa musik gereja di Belanda. Saya tidak jadi ikut pertukaran mahasiswa walaupun saya sempat dapat jatah ke China.
Saya tidak ingin tampil cemerlang lebih dari dia.
.
.
.
.
.
Saya lebih memilih untuk mendandani diri saya dengan kebaikan-kebaikan diri., bukan dengan pakaian mahal, sepatu bagus, dan polesan make-up di wajah. Hal itu cukup sesekali saja. Saya belajar meredam emosi, menggunakan akal sehat saya, lebih sabar untuk menghindari konflik dan sebenarnya hal itu belum sempurna saya lakukan. LoL.
Saya ingin memajukan dia, menyemangati dia untuk memanjat tangga karirnya.
Sesederhana itu, saya hanya ingin jadi guru yang baik untuk murid saya dan untuk anak saya nantinya. Sesederhana itu, saya ingin mendukung pasangan saya untuk lebih maju dalam karir dan penampilannya di keluarga besar nanti. Saya tidak ingin bersaing di dalam hubungan. Saya akan tetap bekerja selepas menikah nanti, dia pun bekerja dan pastinya itu adalah tugas utama dia. Saya hanya ingin pikiran saya jalan dengan bekerja.
Saya ingin menghormati dia sebagai kepala keluarga (nanti). Yang saya tahu, pastinya dia ingin mengayomi saya dan bebas menikmati kebersamaan tanpa perasaan bersalah karena kami 'seimbang'.
Saya ingin menghormati dia sebagai kepala keluarga (nanti). Yang saya tahu, pastinya dia ingin mengayomi saya dan bebas menikmati kebersamaan tanpa perasaan bersalah karena kami 'seimbang'.
Yang terutama... saya mau dia merasa kalau dia memang berarti untuk saya.
Pagi ini, 08.34
GMIS Staff Room