Senin, 03 Agustus 2015

Alasan Untuk Bersama

Pada suatu siang ketika anak-anak didik kami sudah pulang ke rumah mereka masing-masing, seorang teman sejawat menghampiri saya yang sedang duduk  menelungkupkan kepala di atas meja. Teman saya menjawil lengan saya agar saya bangun dan menoleh ke hadapannya. Lantas saya membenarkan posisi saya, seakan-akan sudah mengerti ada hal yang mengganggu pikiran teman saya ini.

“Gue butuh istri.” Ujarnya
“Lah, tiba-tiba ngomong gitu. Angin apa?” tanyaku dengan keheranan
“Ya udah pengen diurusin sih. Udah bosen tinggal sendiri, udah bosen bikin makan sendiri. Udah pengen ada yang nemenin.”
“Yeh. Kalau alasannya itu mah lo hire pembokat aja.” Jawabku dengan sewotnya
....
Alasan untuk bersama.
Mungkin untuk beberapa orang, mengucapkan janji sakral di depan Tuhan dan umatnya itu sesimpel dilandasi oleh rasa ingin tak mau lagi sendirian meratapi hidup dan dunia yang begitu kejam. Beberapa lainnya mungkin beralasan macam-macam, ada yang karena dituntut keluarga, ada juga yang memilih karena memang sudah tak ingin lagi mencari.

Untuk saya, pernikahan itu setinggi-tingginya keputusan manusia. Ada seseorang yang kita putuskan untuk berbagi dosa, bertanggung jawab di akhirat kelak. Jadi orangnya ya ga bisa sembarangan. Menikah bukan hanya tentang perkara ada yang menemani, atau karena ada yang ngurusin atau melipatkan baju. Menikah adalah tentang keputusan hidup bersama, bagaimana dua orang yang sebelumnya tak ada hubungan darah menjadi sah dipersatukan atas nama Tuhan.

Pernikahan yang hanya karena ‘sudah tidak ingin sendiri’ adalah pelecehan kesakralan arti janji depan Tuhan.
Lalu kapan waktu yang tepat untuk menikah?

Untuk saya...

Menikahlah dengan orang  yang diawali oleh rasa jatuh cinta.
Menikah itu hal mudah, bisa dibuat murah (tapi kayaknya nggak deh buat orang Batak).Pondasi awal pernikahan adalah rasa saling cinta, bukan sekedar materi berlimpah. Karena hanya cinta yang bisa membuat manusia bertahan ketika hidup sedang berat-beratnya, bagaimana cinta membuat sepasang manusia tetap tertawa ketika cobaan sedang ramai menghinggapi.

Pernikahan bukan jalan pintas, teman. Bukan juga sesuatu yang harus dilakukan secepat-cepatnya. Pernikahan itu proses, akhir dari awal yang baru. Pernikahan bukan tujuan hidup, bukan pula check list tanda sudah sukses.


Bayangin aja kalau kita menikah tanpa diawali jatuh cinta, apa gak takut di tengah pernikahan mendadak merasakan kupu-kupu di dalam perut dan senyum melengkung karena orang lain? :p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar