Catatan H-5
Hari ini dihabiskan dengan (masih) bekerja dan ikut konseling pranikah. Apa sih isi dari konseling pranikah terakhir kami?
Tentu saja, resume dari semua bahan konseling tentang membentuk keluarga Kristen yang penuh kasih dan menjadikan Kristus sebagai kepala keluarga. Artinya adalah kami berdua harus selalu mengandalkan Kristus sebagai pimpinan kami. Konseling pranikah pun gak jauh-jauh tentang "Istri harus menghormati suami dan suami harus mengasihi istri". Ya, walaupun kelihatannya klise, tapi hal ini harus ada demi keseimbangan rumah tangga. Amang pendeta mengingatkan Benny untuk mengasihi dan mencintai aku. Satu kalimat yang bikin aku senyum sendiri adalah waktu amang bilang ke Benny, "Kau tau kan dia anak tunggal? Cintai dia sepenuh hati, tapi jangan memanjakan dia." Eaa.. eaa.. Ku tak boleh dimanja :p .Amang pendetaku gak banyak bertele-tele tentang teori rumah tangga berdasarkan Alkitab. Beliau hanya mengatakan bahwa kehidupan rumah tangga sesungguhnya tidak berpatokan pada teori-teori yang ada di konseling pranikah. Kalian akan tau dan belajar sendiri, katanya.
Terus.. tadi juga belajar jalan dari pintu gereja menuju altar.. Bang Benny jalannya kecepetan terus -_-. Well, hari ini bener-bener oke sih.. God is great! Semoga Tuhan selalu melindungi kami dan keluarga besar kami dalam menyambut hari Sabtu nanti. Amin...
Senin, 18 September 2017
Minggu, 17 September 2017
H-6, Terima kasih :)
D-6 As A Single
Seharusnya saya menulis tentang 7 hari terakhir saya sebagai seorang lajang.. Tapi, berhubung segala persiapan menuju hari pernikahan ini sangat melelahkan maka saya akan menulisnya dimulai dari H-6.
Saya akan menuliskan tentang rasa terima kasih saya terhadap orang-orang yang pernah lalu lalang di hati saya sepanjang saya diizinkan berpacaran sejak kelas 3 SMA, hingga saya menemukan belahan jiwa saya.
.
.
Untuk kamu yang pernah singgah di hati saya, yang dulu saya kira itu cinta sejati saya tapi ternyata itu hanyalah cinta monyet.. Hahaha.. Terima kasih ya, sudah pernah ada dan membuat saya pernah punya pacar super posesif, yang gak ngebolehin saya pergi kemana-mana kecuali ke sekolah (lalu kampus) kemudian ke rumah. Kamu memberikan banyak pelajaran bagaimana bisa sabar menghadapi orang menjengkelkan seperti kamu di usia saya yang baru 17 tahun waktu itu..
.
.
Untuk Pak Dokter, terima kasih karena pernah membuat saya tau rasanya sakit diselingkuhi di depan mata saya sendiri. Bagaimana dengan tegarnya saya berbalik badan meninggalkan kamu setelah kita berbicara 6 mata dengan dia. Sukses untuk pendidikan spesialisnya!
.
.
Untuk kamu, yang saat ini sudah jauh di Nusa Tenggara. Terima kasih sudah pernah jatuh dan bangun bersama saya menghadapi stressnya skripsi, bagaimana kaca mobil dibobol dan laptopmu diambil yang pada akhirnya skripsimu molor 1 tahun, gimana sedihnya kamu waktu gak diterima di Krakatau Posco-salah satu tempat pekerjaan impianmu, gimana sedihnya cinta usia 20an yang kita miliki tanpa restu orang tua. Kamulah orang yang pernah membuat saya menjadi kuat memperjuangkan apapun..
.
.
Untuk orang yang pernah saya cintai diam-diam... Saya akui saya pernah sayang sama kamu tapi saya tidak pernah bisa mengungkapkannya. Beberapa kali kita pergi bersama tapi tidak satupun kata itu terucap dari bibirku.. Saya, orang yang jatuh cinta denganmu secara diam-diam hanya bisa mendoakan. Dulu saya cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh.. Saat ini pun saya doakan agar kamu lekas mempunyai pasangan. Hihihi..
.
.
.
Dan kamu, orang terakhir dan selamanya akan lalu lalang di hati dan pikiran saya. Saya tidak menyangka kamulah yang akan menjadi pasangan hidup saya, orang yang dengan sabarnya mendengarkan cerita saya tentang 4 orang diatas. Orang yang selalu memberi semangat ketika saya pernah disakiti si orang nomor 2 yang saya ceritakan. Sekarang saya semakin siap mengarungi semuanya dengan kamu.. Terima kasih sudah menunggu saya selama ini..
Seharusnya saya menulis tentang 7 hari terakhir saya sebagai seorang lajang.. Tapi, berhubung segala persiapan menuju hari pernikahan ini sangat melelahkan maka saya akan menulisnya dimulai dari H-6.
Saya akan menuliskan tentang rasa terima kasih saya terhadap orang-orang yang pernah lalu lalang di hati saya sepanjang saya diizinkan berpacaran sejak kelas 3 SMA, hingga saya menemukan belahan jiwa saya.
.
.
Untuk kamu yang pernah singgah di hati saya, yang dulu saya kira itu cinta sejati saya tapi ternyata itu hanyalah cinta monyet.. Hahaha.. Terima kasih ya, sudah pernah ada dan membuat saya pernah punya pacar super posesif, yang gak ngebolehin saya pergi kemana-mana kecuali ke sekolah (lalu kampus) kemudian ke rumah. Kamu memberikan banyak pelajaran bagaimana bisa sabar menghadapi orang menjengkelkan seperti kamu di usia saya yang baru 17 tahun waktu itu..
.
.
Untuk Pak Dokter, terima kasih karena pernah membuat saya tau rasanya sakit diselingkuhi di depan mata saya sendiri. Bagaimana dengan tegarnya saya berbalik badan meninggalkan kamu setelah kita berbicara 6 mata dengan dia. Sukses untuk pendidikan spesialisnya!
.
.
Untuk kamu, yang saat ini sudah jauh di Nusa Tenggara. Terima kasih sudah pernah jatuh dan bangun bersama saya menghadapi stressnya skripsi, bagaimana kaca mobil dibobol dan laptopmu diambil yang pada akhirnya skripsimu molor 1 tahun, gimana sedihnya kamu waktu gak diterima di Krakatau Posco-salah satu tempat pekerjaan impianmu, gimana sedihnya cinta usia 20an yang kita miliki tanpa restu orang tua. Kamulah orang yang pernah membuat saya menjadi kuat memperjuangkan apapun..
.
.
Untuk orang yang pernah saya cintai diam-diam... Saya akui saya pernah sayang sama kamu tapi saya tidak pernah bisa mengungkapkannya. Beberapa kali kita pergi bersama tapi tidak satupun kata itu terucap dari bibirku.. Saya, orang yang jatuh cinta denganmu secara diam-diam hanya bisa mendoakan. Dulu saya cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh.. Saat ini pun saya doakan agar kamu lekas mempunyai pasangan. Hihihi..
.
.
.
Dan kamu, orang terakhir dan selamanya akan lalu lalang di hati dan pikiran saya. Saya tidak menyangka kamulah yang akan menjadi pasangan hidup saya, orang yang dengan sabarnya mendengarkan cerita saya tentang 4 orang diatas. Orang yang selalu memberi semangat ketika saya pernah disakiti si orang nomor 2 yang saya ceritakan. Sekarang saya semakin siap mengarungi semuanya dengan kamu.. Terima kasih sudah menunggu saya selama ini..
Senin, 17 April 2017
Marhusip Day : DONE
Hello..
Gue mau cerita tentang hari Marhusip gue yang sudah dilaksanakan di hari Sabtu, 15 April 2017 yang lalu. Apa sih itu Marhusip? Marhusip adalah salah satu proses menuju ke pesta pernikahan di dalam Adat Batak dan bisa juga disebut dengan lamaran. Dalam acara ini pihak keluarga besar calon pengantin laki-laki akan membawa makanan khasnya atau disebut dengan tudu-tudu sipanganon yaitu 1 ekor babi atau bisa digantikan oleh sapi ke kediaman pihak calon pengantin perempuan. Makanan tersebut disajikan di atas nampan dan sebagai balasan, pihak keluarga calon pengantin perempuan akan memberikan senampan ikan mas arsik.
Para Raja Hata (Pembawa Acara) baik dari pihak calon pengantin laki-laki maupun calon pengantin perempuan akan berbalasan pantun dan selanjutnya akan diadakan rapat untuk membahas keperluan pesta seperti tanggal pemberkatan, gereja tempat pemberkatan, ulos yang diberikan, dan lain-lain. Pada saat rapat tersebut, calon pengantin akan 'disembunyikan' dan baru dipersilakan keluar ketika rapat keluarga besar sudah selesai dan diberikan uang ingot-ingot sebagai simbol pengingat pesta yang akan datang..
How did I feel when I was in these moment? Yang pasti deg-degan, grogi karena akan diperkenalkan ke keluarga besar Siregar alias keluarga besar calon suami gue. Berkali-kali liat cermin apakah dandanan sudah oke. Yeah, obviously okay cause my best friend, Raisa did a very good make up on me. Satu hal yang bikin gue bete cuma baju gue yang kegedean. Entah nyokap gue yang jahitnya kebesaran apa emang gue udah mengecil dengan sempurna? Tsah! Tapi apapun itu, gue bersukacita karena hari Sabtu kemarin adalah the good day for us. Semua lancar di hari itu, gak ada ngotot-ngototan. Memang, kalo suatu acara berjalan dengan tulus hati di masing-masing orang yang menghadirinya, semua akan berjalan lancar. Yang terpenting adalah berdoa dan berserah kepada Tuhan soal acara-acara seperti ini. Nah sekarang, sudah mulai makin mempersiapkan untuk hari H. Semoga semua lancar!
Thanks to :
1. MUA : Raisa Piscessa br Siahaan ( IG : @thesisters_MUA)
2. Decoration : Roemah Hantar Wulan (IG : @wulanmustika), detail price : 5 Flower Papers @20.000, Bunting Flag around Rp 100.000,- +Background tiles Rp 16.000,-
3. Photographer : Rian Samosir ( IG : @samosir_voyages)
4. Catering : By Family
5. Songket : De'Majestic Ps Mayestik Kebayoran Baru
6. Yellow Kebaya : Made by Mom
Gue mau cerita tentang hari Marhusip gue yang sudah dilaksanakan di hari Sabtu, 15 April 2017 yang lalu. Apa sih itu Marhusip? Marhusip adalah salah satu proses menuju ke pesta pernikahan di dalam Adat Batak dan bisa juga disebut dengan lamaran. Dalam acara ini pihak keluarga besar calon pengantin laki-laki akan membawa makanan khasnya atau disebut dengan tudu-tudu sipanganon yaitu 1 ekor babi atau bisa digantikan oleh sapi ke kediaman pihak calon pengantin perempuan. Makanan tersebut disajikan di atas nampan dan sebagai balasan, pihak keluarga calon pengantin perempuan akan memberikan senampan ikan mas arsik.
| Daging babi yang diberikan ke pihak keluarga perempuan |
| Ikan mas yang diberikan kembali ke pihak laki-laki |
Para Raja Hata (Pembawa Acara) baik dari pihak calon pengantin laki-laki maupun calon pengantin perempuan akan berbalasan pantun dan selanjutnya akan diadakan rapat untuk membahas keperluan pesta seperti tanggal pemberkatan, gereja tempat pemberkatan, ulos yang diberikan, dan lain-lain. Pada saat rapat tersebut, calon pengantin akan 'disembunyikan' dan baru dipersilakan keluar ketika rapat keluarga besar sudah selesai dan diberikan uang ingot-ingot sebagai simbol pengingat pesta yang akan datang..
| With Uang Ingot-Ingot |
| Raja Parhata Saling Memberikan Uang Ingot-Ingot |
| Suasana Marhusip 01 |
| Suasana Marhusip 02 |
How did I feel when I was in these moment? Yang pasti deg-degan, grogi karena akan diperkenalkan ke keluarga besar Siregar alias keluarga besar calon suami gue. Berkali-kali liat cermin apakah dandanan sudah oke. Yeah, obviously okay cause my best friend, Raisa did a very good make up on me. Satu hal yang bikin gue bete cuma baju gue yang kegedean. Entah nyokap gue yang jahitnya kebesaran apa emang gue udah mengecil dengan sempurna? Tsah! Tapi apapun itu, gue bersukacita karena hari Sabtu kemarin adalah the good day for us. Semua lancar di hari itu, gak ada ngotot-ngototan. Memang, kalo suatu acara berjalan dengan tulus hati di masing-masing orang yang menghadirinya, semua akan berjalan lancar. Yang terpenting adalah berdoa dan berserah kepada Tuhan soal acara-acara seperti ini. Nah sekarang, sudah mulai makin mempersiapkan untuk hari H. Semoga semua lancar!
Thanks to :
1. MUA : Raisa Piscessa br Siahaan ( IG : @thesisters_MUA)
2. Decoration : Roemah Hantar Wulan (IG : @wulanmustika), detail price : 5 Flower Papers @20.000, Bunting Flag around Rp 100.000,- +Background tiles Rp 16.000,-
3. Photographer : Rian Samosir ( IG : @samosir_voyages)
4. Catering : By Family
5. Songket : De'Majestic Ps Mayestik Kebayoran Baru
6. Yellow Kebaya : Made by Mom
Selasa, 07 Maret 2017
Walk Down The Aisle with 'Angles Brought Me Here'
Enam bulan lagi gue akan melangkah bersama pilihan gue, orang yang selama ini adalah teman baik gue, musuh terbaik gue, sekaligus ayah dan abang gue.. Well, setelah perjalanan panjang penuh krikil, lumpur, api, segala macemnya, dan mungkin akan ada beberapa rintangan lagi menuju hari H. Gue cuma bisa berdoa agar gue dan dia, terutama orang tua kami diberi kekuatan lebih, dan kebijaksanaan lebih untuk menghadapi semuanya menuju hari H.
Waktu kecil, gue gak pernah memimpikan seperti apa konsep pernikahan gue, terutama ketika pemberkatan di gereja. Gue cuma tau pengantin akan melangkah pelan menuju altar, jemaat bernyanyi, Pendeta menumpangkan tangan di atas kepala pengantin, selesai ibadah kemudian ke gedung. Sampai pada akhirnya gue beranjak remaja hingga seumur gini, gue sadar... pemilihan lagu untuk melangkah menuju altar itu juga penting. Karena setiap lagu mempunyai suasana tersendiri, apalagi kalo kita mengerti liriknya.
Mengingat dia adalah teman lama gue yang sangat baik, rela mendengarkan curhatan ga jelas gue yang panjang lebar itu, dan kita udah melewati segalanya bersama. Dari mulai sayang-sayangan, cuek-cuekan, marah-marahan, sampai ketawa-ketawa lagi, Gue memilih 'Angels Brought Me Here' untuk lagu pengantar gue dan dia melangkah ke altar nanti. (Dalam hati berdoa semoga wedding singer gue bisa nyanyiin ini,secara tone nya naik turun pake modulasi :D ).
Buat yang belum tau lagunya bisa di-search di Youtube. Gue hanya menuliskan beberapa bait lirik disini :
It's been a long and winding journey,But I'm finally here tonight
Picking up the pieces, And walking back into the light
Into the sunset of your glory, Where my heart and future lies
There's nothing like that feeling, When I look into your eyes
My dreams came true, When I found you
I found you...My miracle
If you could see what I see, That you're the answer to my prayers
And if you could feel the tenderness I feel, You would know
It would be clear, That angels brought me here
It's been a long and winding journey.....Bener banget.. Semua hal yang gue lewati sama dia demi menuju kehidupan berumah-tangga gini bener-bener panjang dan banyak hal-hal yang hampir bikin kami 'gila'. Tapi, Tuhan selalu beri kekuatan buat menghadapinya dan gue yakin dia lah yang punya tulang rusuk ini... Hal lainnya yang bikin gue yakin adalah dia selalu bisa tahu apa yang gue rasakan...If you could see what I see, That you're the answer to my prayers...
Sampai bertemu di altar dengan lagu ini...
Shinta,
08.03.2017/ 09.18
Kamis, 09 Februari 2017
Tujuh Bulan Lagi :)
Fase hidup selanjutnya setelah aku lulus kuliah dan bekerja akan segera tiba dalam waktu tujuh bulan dari sekarang. Rasa deg-degan, khawatir, sedih, bahagia, semua bercampur jadi satu. Apakah aku bisa mempersiapkannya dengan baik? Apakah dana yang dibutuhkan bisa tercukupi? Dan apakah kehidupan setelah menjalankan hari besar itu bisa menjadi lebih baik?
Semua kutanyakan dalam hatiku. Pikiranku bercabang. Semerawut. Aku cuma bisa berusaha dan berdoa sama Tuhan agar semua bisa berjalan lancar. Semoga rezeki aku, dia, dan kedua belah pihak keluarga kami boleh dicukupkan oleh Tuhan. Sehingga semua boleh berbahagia bersama kami.
Untuk materi dan mental, aku hanya merasa semua belum terpenuhi 100%. Masih boros, manajemen keuanganku lumayan buruk. Masih sering ngambek, baperan, dll. Semoga aja semua bisa menjadi lebih baik dari hari ke hari, karena menikah bukan hanya karena cinta...
...
Yang aku tahu, menikah tidak hanya karena aku cinta sama dia, tapi juga memang butuh komitmen yang luar biasa erat. Aku berpedoman pada beberapa ayat yang tertulis di Alkitab, "...apa yang dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia.." dan "..Hendaklah kau setia sampai mati."
.
.
.
Menikah butuh usaha untuk membuat pasangan kita bahagia. Berlaku manis dan berkata hal-hal baik yang bisa menyemangati dan membahagiakan dia.
Menikah butuh kejujuran. Bersatu dengan orang yang tadinya asing, dan kita harus membagi rasa bersama, keluh kesah, masalah, apapun yang kita alami.
Menikah butuh kesabaran untuk paham dengan pasangan. Aku dan dia lahir dari latar belakang keluarga yang berbeda dan memiliki kebiasaan yang berbeda. Memahami sifatnya dan apa yang dia butuhkan kadang masih sulit untuk aku lakukan...
Menikah, bukan karena dua orang sempurna bersatu untuk bekerja sama membangun kehidupan, tapi dua orang yang jauh dari sempurna saling mendukung dalam perbedaan yang ada..
.
.
.
.
-Shinta-
13.05
Semua kutanyakan dalam hatiku. Pikiranku bercabang. Semerawut. Aku cuma bisa berusaha dan berdoa sama Tuhan agar semua bisa berjalan lancar. Semoga rezeki aku, dia, dan kedua belah pihak keluarga kami boleh dicukupkan oleh Tuhan. Sehingga semua boleh berbahagia bersama kami.
Untuk materi dan mental, aku hanya merasa semua belum terpenuhi 100%. Masih boros, manajemen keuanganku lumayan buruk. Masih sering ngambek, baperan, dll. Semoga aja semua bisa menjadi lebih baik dari hari ke hari, karena menikah bukan hanya karena cinta...
...
Yang aku tahu, menikah tidak hanya karena aku cinta sama dia, tapi juga memang butuh komitmen yang luar biasa erat. Aku berpedoman pada beberapa ayat yang tertulis di Alkitab, "...apa yang dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia.." dan "..Hendaklah kau setia sampai mati."
.
.
.
Menikah butuh usaha untuk membuat pasangan kita bahagia. Berlaku manis dan berkata hal-hal baik yang bisa menyemangati dan membahagiakan dia.
Menikah butuh kejujuran. Bersatu dengan orang yang tadinya asing, dan kita harus membagi rasa bersama, keluh kesah, masalah, apapun yang kita alami.
Menikah butuh kesabaran untuk paham dengan pasangan. Aku dan dia lahir dari latar belakang keluarga yang berbeda dan memiliki kebiasaan yang berbeda. Memahami sifatnya dan apa yang dia butuhkan kadang masih sulit untuk aku lakukan...
Menikah, bukan karena dua orang sempurna bersatu untuk bekerja sama membangun kehidupan, tapi dua orang yang jauh dari sempurna saling mendukung dalam perbedaan yang ada..
.
.
.
.
-Shinta-
13.05
Selasa, 15 November 2016
My 25
My 25
Thanks to God, because of HIS blessings until this day. Segala
sesuatu (mungkin) dimulai di usia ini. Well, usia 25 bukan hanya sekedar
memikirkan anti-aging apa yang cocok untuk kulit saya, ke Pulau mana saya harus
berwisata sebelum... ehem.. saya dibawa orang...
25... berarti saya tidak bisa lagi bermain-main dengan
pekerjaan saya. Berbeda sekali ketika saya masih duduk di tingkat akhir-dimana
saya bisa bekerja sambilan atau masa-masa dimana saya bisa seenaknya pindah
tempat kerja hanya karena teman kerja saya kurang asik. Saya sadar, pengalaman
yang banyak dan mendalam sangat dibutuhkan untuk jenjang karir saya berikutnya. Saya sadar, usia 25
tidak lagi bisa seperti usia 20an awal. Dimana saya bisa dengan entengnya
membuang uang untuk sekedar ngopi-ngopi haha-hihi, yang akhirnya saya berpikir
40ribu-50ribu jika saya simpan secara rutin bisa membeli sesuatu yang jauh
lebih penting.
25... berarti tidak ada lagi sifat egois dan kekanak-kanakan ala
anak tunggal yang dulu kental saya miliki. Berbagi. Sepupu yang segudang,
keponakan yang bisa dibuat kesebelasan, dan orang-orang tua yang bisa saya ajak
mengobrol tentang kehidupan keluarga, membuat saya berpikir bahwa mengantarkan mama
saya arisan jangan hanya duduk dan bermain HP, tapi juga bersosial dengan
keluarga lainnya.
25... berarti tidak seenaknya FLING dengan orang lain selain
kekasih. Tidak bisa lagi bermain-main karena usia sudah banyak dan untuk ini semua butuh
keseriusan. Mempererat komitmen dengan dia yang selalu setia dengan keadaan
saya.
Yah.. Saya rasa hidup saya sudah cukup bermakna.Berkat Tuhan
yang tidak berhenti mengalir, Kebawelan ibu saya, ngambek-ngambeknya keponakan
saya kalau saya hanya mampir ke rumah mereka sebentar-hanya sekedar memeluk dan
mencium pipinya, rusuh dan lucunya abang-abang sepupu saya yang super excited mempersiapkan pernikahan saya sampai-sampai mereka mencoba mendesign kebaya saya (haduuuh..tepok jidat), support dari teman-teman
terdekat saya, bisa berkumpul dengan PAB 2017 komunitas baru saya, dan... mempersiapkan hari
besar dalam hidup saya dengan dia...
Terima kasih, Tuhan.. Pastinya berkat Tuhan selalu ada, saya-nya aja yang kurang bersyukur
Terima kasih, Mami..kalo gak dibawelin gak bakal jadi kayak gini
Terima kasih, Aju dan Lita... Supporter hidup saya yg rela-rela aja rumahnya saya jadikan tempat istirahat kalau sedang bolos
Terima kasih, Ito dan Eda..Yang selalu repot pengen saya kayak gini, kayak gitu untuk hari besar itu..
Terima kasih, kakak Tita, abang Teo, adek Tier buat kasih sayangnya ke Aunty Shintaaaa...
Terima kasih, Fidi...Yang selalu sabar dengan mood saya dari zaman kuliah
Terima kasih PAB 2017 yang super rempong, gosip sana sini, ejek2an sana sini, sharing vendor sana sini.. Plis, jangan suka baper kita yaaak..
Terima kasih, Cinta...
Senin, 07 November 2016
Selamat Merayakan Delapan Yang Ke-2
Merayakan delapan yang kedua
Tidak banyak yang bisa aku sampaikan. Cukup saja aku mengenang bagaimana proses kita bisa saling berbicara kembali setelah hampir lima tahun berpisah waktu itu. Bagaimana sesimple itu kita bisa kembali bertemu dengan jujur, tanpa embel-embel hanya ingin berteman saja-urusan pacaran belakangan saja-padahal ujung2nya pacaran juga. Tidak, semua mengalir begitu saja. Setelah terpisah selama itu, kita bisa dengan santainya menyapa,”Apa kabar?” dan “Masih ingat aku kan?”, kemudian terus saling berkomunikasi sampai pada akhirnya di titik delapan itu kita berkomitmen dengan seriusnya. Bersama-sama berperang melawan sakitnya masa lalu, terus berkomitmen menepis semua ketidakcocokan hanya dengan satu kalimat di dalam hati-yang selalu mengingatkan aku untuk tidak berpaling lagi. Kita terus mencoba bangkit ‘kan? Dari hari ke hari dengan segala amarah, tangis, dan tawa. Dari mulai kita saling berdiam karena canggung sampai sekarang kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak tertutupi lagi antara kita. Mulai dari rasa bingung ketika kamu marah dan yang tidak pernah aku mengerti kenapa kalau kamu marah pasti selalu diam dan berbicara seperlunya, sampai sudah mengerti kalau kamu makan sesuatu pasti selalu ada motto ‘save the best for the last’. Yah... kamu selalu menyisihkan lauk yang menurutmu paling enak untuk dimakan terakhir and see what? Kebiasaanmu yang satu itu sama sepertiku. Sepaham itu pula aku mengerti kalau kamu susah fokus untuk mendengarkan semua rentetan ceritaku setiap hari yang ujung-ujungnya aku akan selalu marah karena kamu tidak selalu menangkap apa isi curhatanku. Aku tidak selalu mengingat banyak hal yang sudah pernah kita lalui.Tentu kamu tahu kan kebiasaan pelupaku? Hahaha..
Well, semoga semakin hari kita semakin menjadi lebih baik. Semoga semua cita-cita kita bisa diberkati oleh Tuhan dan semua bisa terjadi oleh karena kehendak-Nya. Mungkin kita jarang untuk mengatakan ‘I Love You’, tapi kita tahu secuek apapun kita, kita akan tetap kembali ke ‘rumah’ dan itu ada di dalam hati kita. Selamat merayakan delapan yang kedua sayang.. I LOVE YOU
Tidak banyak yang bisa aku sampaikan. Cukup saja aku mengenang bagaimana proses kita bisa saling berbicara kembali setelah hampir lima tahun berpisah waktu itu. Bagaimana sesimple itu kita bisa kembali bertemu dengan jujur, tanpa embel-embel hanya ingin berteman saja-urusan pacaran belakangan saja-padahal ujung2nya pacaran juga. Tidak, semua mengalir begitu saja. Setelah terpisah selama itu, kita bisa dengan santainya menyapa,”Apa kabar?” dan “Masih ingat aku kan?”, kemudian terus saling berkomunikasi sampai pada akhirnya di titik delapan itu kita berkomitmen dengan seriusnya. Bersama-sama berperang melawan sakitnya masa lalu, terus berkomitmen menepis semua ketidakcocokan hanya dengan satu kalimat di dalam hati-yang selalu mengingatkan aku untuk tidak berpaling lagi. Kita terus mencoba bangkit ‘kan? Dari hari ke hari dengan segala amarah, tangis, dan tawa. Dari mulai kita saling berdiam karena canggung sampai sekarang kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak tertutupi lagi antara kita. Mulai dari rasa bingung ketika kamu marah dan yang tidak pernah aku mengerti kenapa kalau kamu marah pasti selalu diam dan berbicara seperlunya, sampai sudah mengerti kalau kamu makan sesuatu pasti selalu ada motto ‘save the best for the last’. Yah... kamu selalu menyisihkan lauk yang menurutmu paling enak untuk dimakan terakhir and see what? Kebiasaanmu yang satu itu sama sepertiku. Sepaham itu pula aku mengerti kalau kamu susah fokus untuk mendengarkan semua rentetan ceritaku setiap hari yang ujung-ujungnya aku akan selalu marah karena kamu tidak selalu menangkap apa isi curhatanku. Aku tidak selalu mengingat banyak hal yang sudah pernah kita lalui.Tentu kamu tahu kan kebiasaan pelupaku? Hahaha..
Well, semoga semakin hari kita semakin menjadi lebih baik. Semoga semua cita-cita kita bisa diberkati oleh Tuhan dan semua bisa terjadi oleh karena kehendak-Nya. Mungkin kita jarang untuk mengatakan ‘I Love You’, tapi kita tahu secuek apapun kita, kita akan tetap kembali ke ‘rumah’ dan itu ada di dalam hati kita. Selamat merayakan delapan yang kedua sayang.. I LOVE YOU
Langganan:
Postingan (Atom)








