Senin, 17 April 2017

Marhusip Day : DONE

Hello..
Gue mau cerita tentang hari Marhusip gue yang sudah dilaksanakan di hari Sabtu, 15 April 2017 yang lalu. Apa sih itu Marhusip? Marhusip adalah salah satu proses menuju ke pesta pernikahan di dalam Adat Batak dan bisa juga disebut dengan lamaran. Dalam acara ini pihak keluarga besar calon pengantin laki-laki akan membawa makanan khasnya atau disebut dengan tudu-tudu sipanganon yaitu 1 ekor babi atau bisa digantikan oleh sapi ke kediaman pihak calon pengantin perempuan. Makanan tersebut disajikan di atas nampan dan sebagai balasan, pihak keluarga calon pengantin perempuan akan memberikan senampan ikan mas arsik.

Daging babi yang diberikan ke pihak keluarga perempuan

Ikan mas yang diberikan kembali ke pihak laki-laki




Para Raja Hata (Pembawa Acara) baik dari pihak calon pengantin laki-laki maupun calon pengantin perempuan akan berbalasan pantun dan selanjutnya akan diadakan rapat untuk membahas keperluan pesta seperti tanggal pemberkatan, gereja tempat pemberkatan, ulos yang diberikan, dan lain-lain. Pada saat rapat tersebut, calon pengantin akan 'disembunyikan' dan baru dipersilakan keluar ketika rapat keluarga besar sudah selesai dan diberikan uang ingot-ingot sebagai simbol pengingat pesta yang akan datang..


With Uang Ingot-Ingot

Raja Parhata Saling Memberikan Uang Ingot-Ingot

Suasana Marhusip 01

Suasana Marhusip 02




How did I feel when I was in these moment? Yang pasti deg-degan, grogi karena akan diperkenalkan ke keluarga besar Siregar alias keluarga besar calon suami gue. Berkali-kali liat cermin apakah dandanan sudah oke. Yeah, obviously okay cause my best friend, Raisa did a very good make up on me. Satu hal yang bikin gue bete cuma baju gue yang kegedean. Entah nyokap gue yang jahitnya kebesaran apa emang gue udah mengecil dengan sempurna? Tsah! Tapi apapun itu, gue bersukacita karena hari Sabtu kemarin adalah the good day for us. Semua lancar di hari itu, gak ada ngotot-ngototan. Memang, kalo suatu acara berjalan dengan tulus hati di masing-masing orang yang menghadirinya, semua akan berjalan lancar. Yang terpenting adalah berdoa dan berserah kepada Tuhan soal acara-acara seperti ini. Nah sekarang, sudah mulai makin mempersiapkan untuk hari H. Semoga semua lancar!




Thanks to :
1. MUA : Raisa Piscessa br Siahaan ( IG : @thesisters_MUA)
2. Decoration : Roemah Hantar Wulan (IG : @wulanmustika), detail price : 5 Flower Papers @20.000, Bunting Flag around Rp 100.000,- +Background tiles Rp 16.000,-
3. Photographer : Rian Samosir ( IG : @samosir_voyages)
4. Catering : By Family
5. Songket : De'Majestic Ps Mayestik Kebayoran Baru
6. Yellow Kebaya : Made by Mom

Selasa, 07 Maret 2017

Walk Down The Aisle with 'Angles Brought Me Here'




Enam bulan lagi gue akan melangkah bersama pilihan gue, orang yang selama ini adalah teman baik gue, musuh terbaik gue, sekaligus ayah dan abang gue.. Well, setelah perjalanan panjang penuh krikil, lumpur, api, segala macemnya, dan mungkin akan ada beberapa rintangan lagi menuju hari H. Gue cuma bisa berdoa agar gue dan dia, terutama orang tua kami diberi kekuatan lebih, dan kebijaksanaan lebih untuk menghadapi semuanya menuju hari H.

Waktu kecil, gue gak pernah memimpikan seperti apa konsep pernikahan gue, terutama ketika pemberkatan di gereja. Gue cuma tau pengantin akan melangkah pelan menuju altar, jemaat bernyanyi, Pendeta menumpangkan tangan di atas kepala pengantin, selesai ibadah kemudian ke gedung. Sampai pada akhirnya gue beranjak remaja hingga seumur gini, gue sadar... pemilihan lagu untuk melangkah menuju altar itu juga penting. Karena setiap lagu mempunyai suasana tersendiri, apalagi kalo kita mengerti liriknya.

Mengingat dia adalah teman lama gue yang sangat baik, rela mendengarkan curhatan ga jelas gue yang panjang lebar itu, dan kita udah melewati segalanya bersama. Dari mulai sayang-sayangan, cuek-cuekan, marah-marahan, sampai ketawa-ketawa lagi, Gue memilih 'Angels Brought Me Here' untuk lagu pengantar gue dan dia melangkah ke altar nanti. (Dalam hati berdoa semoga wedding singer gue bisa nyanyiin ini,secara tone nya naik turun pake modulasi :D ).


Buat yang belum tau lagunya bisa di-search di Youtube. Gue hanya menuliskan beberapa bait lirik disini :

It's been a long and winding journey,But I'm finally here tonight
Picking up the pieces, And walking back into the light
Into the sunset of your glory, Where my heart and future lies
There's nothing like that feeling, When I look into your eyes

My dreams came true, When I found you
I found you...My miracle

If you could see what I see, That you're the answer to my prayers
And if you could feel the tenderness I feel, You would know
It would be clear, That angels brought me here




It's been a long and winding journey.....Bener banget.. Semua hal yang gue lewati sama dia demi menuju kehidupan berumah-tangga gini bener-bener panjang dan banyak hal-hal yang hampir bikin kami 'gila'. Tapi, Tuhan selalu beri kekuatan buat menghadapinya dan gue yakin dia lah yang punya tulang rusuk ini... Hal lainnya yang bikin gue yakin adalah dia selalu bisa tahu apa yang gue rasakan...If you could see what I see, That you're the answer to my prayers...

Sampai bertemu di altar dengan lagu ini...






Shinta,
08.03.2017/ 09.18






Kamis, 09 Februari 2017

Tujuh Bulan Lagi :)

Fase hidup selanjutnya setelah aku lulus kuliah dan bekerja akan segera tiba dalam waktu tujuh bulan dari sekarang. Rasa deg-degan, khawatir, sedih, bahagia, semua bercampur jadi satu. Apakah aku bisa mempersiapkannya dengan baik? Apakah dana yang dibutuhkan bisa tercukupi? Dan apakah kehidupan setelah menjalankan hari besar itu bisa menjadi lebih baik?
Semua kutanyakan dalam hatiku. Pikiranku bercabang. Semerawut. Aku cuma bisa berusaha dan berdoa sama Tuhan agar semua bisa berjalan lancar. Semoga rezeki aku, dia, dan kedua belah pihak keluarga kami boleh dicukupkan oleh Tuhan. Sehingga semua boleh berbahagia bersama kami.
Untuk materi dan mental, aku hanya merasa semua belum terpenuhi 100%. Masih boros, manajemen keuanganku lumayan buruk. Masih sering ngambek, baperan, dll. Semoga aja semua bisa menjadi lebih baik dari hari ke hari, karena menikah bukan hanya karena cinta...

...

Yang aku tahu, menikah tidak hanya karena aku cinta sama dia, tapi juga memang butuh komitmen yang luar biasa erat. Aku berpedoman pada beberapa ayat yang tertulis di Alkitab, "...apa yang dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia.." dan "..Hendaklah kau setia sampai mati."
.
.
.
Menikah butuh usaha untuk membuat pasangan kita bahagia. Berlaku manis dan berkata hal-hal baik yang bisa menyemangati dan membahagiakan dia.
Menikah butuh kejujuran. Bersatu dengan orang yang tadinya asing, dan kita harus membagi rasa bersama, keluh kesah, masalah, apapun yang kita alami.
Menikah butuh kesabaran untuk paham dengan pasangan. Aku dan dia lahir dari latar belakang keluarga yang berbeda dan memiliki kebiasaan yang berbeda. Memahami sifatnya dan apa yang dia butuhkan kadang masih sulit untuk aku lakukan...

Menikah, bukan karena dua orang sempurna bersatu untuk bekerja sama membangun kehidupan, tapi dua orang yang jauh dari sempurna saling mendukung dalam perbedaan yang ada..
.
.
.
.
-Shinta-
13.05

Selasa, 15 November 2016

My 25

My 25

Thanks to God, because of HIS blessings until this day. Segala sesuatu (mungkin) dimulai di usia ini. Well, usia 25 bukan hanya sekedar memikirkan anti-aging apa yang cocok untuk kulit saya, ke Pulau mana saya harus berwisata sebelum... ehem.. saya dibawa orang...
25... berarti saya tidak bisa lagi bermain-main dengan pekerjaan saya. Berbeda sekali ketika saya masih duduk di tingkat akhir-dimana saya bisa bekerja sambilan atau masa-masa dimana saya bisa seenaknya pindah tempat kerja hanya karena teman kerja saya kurang asik. Saya sadar, pengalaman yang banyak dan mendalam sangat dibutuhkan untuk jenjang karir saya berikutnya. Saya sadar, usia 25 tidak lagi bisa seperti usia 20an awal. Dimana saya bisa dengan entengnya membuang uang untuk sekedar ngopi-ngopi haha-hihi, yang akhirnya saya berpikir 40ribu-50ribu jika saya simpan secara rutin bisa membeli sesuatu yang jauh lebih penting.

25... berarti tidak ada lagi sifat egois dan kekanak-kanakan ala anak tunggal yang dulu kental saya miliki. Berbagi. Sepupu yang segudang, keponakan yang bisa dibuat kesebelasan, dan orang-orang tua yang bisa saya ajak mengobrol tentang kehidupan keluarga, membuat saya berpikir bahwa mengantarkan mama saya arisan jangan hanya duduk dan bermain HP, tapi juga bersosial dengan keluarga lainnya.

25... berarti tidak seenaknya FLING dengan orang lain selain kekasih. Tidak bisa lagi bermain-main karena usia sudah banyak dan untuk ini semua butuh keseriusan. Mempererat komitmen dengan dia yang selalu setia dengan keadaan saya.

Yah.. Saya rasa hidup saya sudah cukup bermakna.Berkat Tuhan yang tidak berhenti mengalir, Kebawelan ibu saya, ngambek-ngambeknya keponakan saya kalau saya hanya mampir ke rumah mereka sebentar-hanya sekedar memeluk dan mencium pipinya, rusuh dan lucunya abang-abang sepupu saya yang super excited mempersiapkan pernikahan saya sampai-sampai mereka mencoba mendesign kebaya saya (haduuuh..tepok jidat), support dari teman-teman terdekat saya, bisa berkumpul dengan PAB 2017 komunitas baru saya, dan... mempersiapkan hari besar dalam hidup saya dengan dia...

Terima kasih, Tuhan.. Pastinya berkat Tuhan selalu ada, saya-nya aja yang kurang bersyukur




Terima kasih, Mami..kalo gak dibawelin gak bakal jadi kayak gini



Terima kasih, Aju dan Lita... Supporter hidup saya yg rela-rela aja rumahnya saya jadikan tempat istirahat kalau sedang bolos




 Terima kasih, Ito dan Eda..Yang selalu repot pengen saya kayak gini, kayak gitu untuk hari besar itu..




Terima kasih, kakak Tita, abang Teo, adek Tier buat kasih sayangnya ke Aunty Shintaaaa... 






Terima kasih, Fidi...Yang selalu sabar dengan mood saya dari zaman kuliah

Terima kasih PAB 2017 yang super rempong, gosip sana sini, ejek2an sana sini, sharing vendor sana sini.. Plis, jangan suka baper kita yaaak..

nb : foto editan mak Duma Hutabarat-arteiis batak PAB 2017


Terima kasih, Cinta... 













Senin, 07 November 2016

Selamat Merayakan Delapan Yang Ke-2

Merayakan delapan yang kedua

Tidak banyak yang bisa aku sampaikan. Cukup saja aku mengenang bagaimana proses kita bisa saling berbicara kembali setelah hampir lima tahun berpisah waktu itu. Bagaimana sesimple itu kita bisa kembali bertemu dengan jujur, tanpa embel-embel hanya ingin berteman saja-urusan pacaran belakangan saja-padahal ujung2nya pacaran juga. Tidak, semua mengalir begitu saja. Setelah terpisah selama itu, kita bisa dengan santainya menyapa,”Apa kabar?” dan “Masih ingat aku kan?”, kemudian terus saling berkomunikasi sampai pada akhirnya di titik delapan itu kita berkomitmen dengan seriusnya. Bersama-sama berperang melawan sakitnya masa lalu, terus berkomitmen menepis semua ketidakcocokan hanya dengan satu kalimat di dalam hati-yang selalu mengingatkan aku untuk tidak berpaling lagi. Kita terus mencoba bangkit ‘kan? Dari hari ke hari dengan segala amarah, tangis, dan tawa. Dari mulai kita saling berdiam karena canggung sampai sekarang kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak tertutupi lagi antara kita. Mulai dari rasa bingung ketika kamu marah dan yang tidak pernah aku mengerti kenapa kalau kamu marah pasti selalu diam dan berbicara seperlunya, sampai sudah mengerti kalau kamu makan sesuatu pasti selalu ada motto ‘save the best for the last’. Yah... kamu selalu menyisihkan lauk yang menurutmu paling enak untuk dimakan terakhir and see what? Kebiasaanmu yang satu itu sama sepertiku. Sepaham itu pula aku mengerti kalau kamu susah fokus untuk mendengarkan semua rentetan ceritaku setiap hari yang ujung-ujungnya aku akan selalu marah karena kamu tidak selalu menangkap apa isi curhatanku. Aku tidak selalu mengingat banyak hal yang sudah pernah kita lalui.Tentu kamu tahu kan kebiasaan pelupaku? Hahaha..

Well, semoga semakin hari kita semakin menjadi lebih baik. Semoga semua cita-cita kita bisa diberkati oleh Tuhan dan semua bisa terjadi oleh karena kehendak-Nya. Mungkin kita jarang untuk mengatakan ‘I Love You’, tapi kita tahu secuek apapun kita, kita akan tetap kembali ke ‘rumah’ dan itu ada di dalam hati kita. Selamat merayakan delapan yang kedua sayang.. I LOVE YOU

Senin, 29 Agustus 2016

29aug2016

dia... pria paling sabar yang pernah saya temui. Berulang kali saya membuat dia kesal, mungkin marah walau hanya dipendam dalam hati, dia tetap diam dan dengan senyum terus menanggapi omelan-omelan saya. Hal ini terus berulang selama 1.5 tahun lebih menjalin hubungan.
Tapi, mungkin kali ini dia lelah
Lelah dengan saya yang terus menerus mengomel tanpa ada sebab jelas
Lelah dengan saya yang tidak pernah merasa puas dengan berat badan dan lekuk tubuh yang ada
Lelah dengan saya yang selalu saja mengeluh tentang jerawat di wajah
Dia lelah dan saya merasa sudah saatnya berhenti.
Terlalu rumit untuk bercerita tentang kisah masa kecil saya yang membentuk diri saya sampai tidak pernah bisa percaya diri lagi. Terlalu kompleks untuk diketahui banyak teman dekat termasuk kekasih sendiri.
Saya gak mau kehilangan dia, walaupun sekarang dia rela kehilangan saya.
Yang saya tahu, saat ini saya tidak lagi cukup baik untuk kehidupannya. Apa yang harus diperjuangkan lagi, jika dia sudah benci dengan saya, lengkap dengan hidup saya.
Saya Cuma bisa menerima dia apa adanya, tanpa berharap dia juga bisa menerima saya tanpa syarat
saya Cuma bisa sayang dengan dia sekuat ini, tanpa berharap rasa sayangnya kembali seperti dulu...

Ketika dia meminta saya pergi dari hidupnya, mungkin dia akan berjalan terus. tapi bagi saya, dunia saya sudah berakhir...

Jumat, 10 Juni 2016

Dicari, Cowok Setia ! (Co-pas : http://24hoursworship.com/dicari-cowok-setia/ )

“Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?”
kesetiaan


“Dicari, cowok setia”. Demikian status salah seorang teman di sebuah situs jejaring. Sebegitu sulitnyakah mencari cowok setia? Dari komentar-komentar yang ada ternyata ia baru saja putus karena pasangannya ketahuan selingkuh. Jika kita melihat perkembangan di jaman modern ini masalah kesetiaan memang menjadi barang yang semakin langka. Ketidaksetiaan semakin lama semakin dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Lewat berbagai lagu, film dan kejadian sehari-hari kita terus menemukan berbagai bentuk ketidaksetiaan sebagai sesuatu yang manusiawi dan lumrah. Tidak heran maka semakin lama semakin sulit saja menemukan sosok manusia yang bisa setia, baik dalam hubungan, pekerjaan dan sebagainya, termasuk tentunya pada Tuhan. Ada banyak alasan yang bisa dijadikan dasar untuk melegalkan ketidaksetiaan itu. Membesar-besarkan kekurangan pasangan, mencari-cari kejelekan misalnya, sampai kepada menyalahkan pihak ketiga. “Bukan saya yang mulai, tapi dia yang menggoda duluan..” itu contoh alasan klasik yang menyalahkan pihak ketiga, padahal setiap manusia punya pilihan apakah mau untuk tetap setia atau menyambut godaan itu.
Mencari orang baik mungkin mudah, tapi mencari orang yang setia sama sulitnya dengan mencari jarum ditumpukan jerami. Jika ini kita alami hari-hari ini, hal yang sama sebenarnya sudah terjadi sejak dahulu kala. Salomo menuliskan hal ini dalam salah satu Amsalnya. “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6). Mengaku teman itu mudah, namun menjadi sahabat yang setia baik dalam suka maupun duka susahnya minta ampun. Dari masa ke masa kita akan terus berhadapan dengan masalah ini, bahkan diantara kita sendiri pun mungkin sulit untuk setia. Padahal masalah kesetiaan ini merupakan salah satu kualitas utama yang diharapkan ada dalam diri orang percaya. Lihatlah apa pesan Paulus kepada Timotius. “…kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.” (1 Timotius 6:11). Sementara Salomo mengingatkan“Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong.”(Amsal 19:22).
Kepada Tuhan pun manusia seringkali sulit untuk setia. Sementara Tuhan memberikan kasih setiaNya yang begitu besar, untuk setia sedikit saja kita susah. Alasannya bisa bermacam-macam. Mulai dari merasa permintaan tidak didengarkan Tuhan, tidak kunjung lepas dari kesulitan, uang, jabatan bahkan jodoh. Tidak jarang kita melihat orang yang rela menyangkal imannya demi kekasih. Tuhan begitu mengasihi kita. Bahkan anakNya yang tunggal pun Dia berikan agar kita semua selamat. Kurang apa lagi? Kehadiran Yesus di dunia ini untuk menggenapkan kehendak Bapa pun sudah menunjukkan sesuatu yang seharusnya bisa kita teladani. Yesus membuktikan kesetiaanNya menanggung segala beban dosa kita sampai mati. Tanpa itu semua mustahil kita bisa menikmati hadirat Tuhan hari ini dan mendapat janji keselamatan setelah episode kehidupan di dunia ini. Kita mengaku sebagai anak Tuhan, tapi kita tidak kunjung bisa meneladaniNya. Disamping itu sering pula kita terus meminta perkara besar dalam doa-doa kita, sementara perkara kecil saja kita tidak bisa menunjukkan kesetiaan dan tanggung jawab. Apa yang dijanjikan Tuhan kepada orang setia sesungguhnya jauh lebih besar daripada berkat dalam kehidupan dunia yang sementara ini.“Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu 2:10c). Ada mahkota kehidupan yang siap dikaruniakan kepada semua orang yang mau taat dan setia sampai mati.
Dalam perumpamaan tentang talenta kita sudah melihat bagaimana Tuhan memandang kesetiaan. Ketika kita diberi perkara kecil, kita harus sanggup mempertanggungjawabkan itu dan melakukannya dengan baik. Lihat apa kata Tuhan kepada hamba yang mampu setia kepada perkara kecil yang dipercayakan Tuhan. “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21,23). Bagaimana reaksi Tuhan kepada orang yang tidak setia? Haruskah Tuhan mempercayakan sesuatu yang lebih besar kepada orang yang tidak sanggup bertanggungjawab dalam perkara kecil? Tentu tidak. “campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”(ay 30). Itu menjadi bagian dari orang yang tidak setia. Maka benarlah nasihat yang diberikan Lukas. “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10).
Mulailah setia dari perkara-perkara kecil. Ketika ada sesuatu yang dipercayakan Tuhan kepada kita, lakukanlah dengan benar dan dengan setia. Bersyukurlah senantiasa, meski apa yang ada saat ini mungkin kecil dibandingkan jerih payah kita, tapi ingatlah bahwa Tuhan pasti menghargai kesungguhan, kejujuran dan kesetiaan anda. Pada saatnya nanti, Dia akan mempercayakan sesuatu yang lebih besar. Menjadi baik saja tidak cukup, kita harus mampu pula meningkatkan kapasitas diri kita untuk menjadi pribadi yang setia, yang bisa dipercaya. Untuk menerima janji dan berkat Tuhan dibutuhkan usaha serius dan perjuangan kita untuk terus setia. Dan semua itu berawal dari hal yang kecil. Tuhan akan melihat sejauh mana kita bisa dipercaya untuk sesuatu yang lebih besar lagi. Tidaklah sulit bagi Tuhan untuk memberkati kita, tapi kita dituntut untuk membuktikan dulu sejauh mana kita mampu setia kepadaNya. Disamping itu, saya pun percaya bahwa lewat hal-hal yang kecilpun Tuhan mampu memberkati kita secara luar biasa. Apapun yang ada pada kita saat ini, bersyukurlah untuk itu, dan lakukan sebaik-baiknya dengan kesetiaan dan kejujuran. Tuhan mampu memberkati itu menjadi luar biasa, dan mempercayakan kita untuk hal-hal yang lebih besar lagi pada waktunya.