Jumat, 10 Juni 2016

Dicari, Cowok Setia ! (Co-pas : http://24hoursworship.com/dicari-cowok-setia/ )

“Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?”
kesetiaan


“Dicari, cowok setia”. Demikian status salah seorang teman di sebuah situs jejaring. Sebegitu sulitnyakah mencari cowok setia? Dari komentar-komentar yang ada ternyata ia baru saja putus karena pasangannya ketahuan selingkuh. Jika kita melihat perkembangan di jaman modern ini masalah kesetiaan memang menjadi barang yang semakin langka. Ketidaksetiaan semakin lama semakin dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Lewat berbagai lagu, film dan kejadian sehari-hari kita terus menemukan berbagai bentuk ketidaksetiaan sebagai sesuatu yang manusiawi dan lumrah. Tidak heran maka semakin lama semakin sulit saja menemukan sosok manusia yang bisa setia, baik dalam hubungan, pekerjaan dan sebagainya, termasuk tentunya pada Tuhan. Ada banyak alasan yang bisa dijadikan dasar untuk melegalkan ketidaksetiaan itu. Membesar-besarkan kekurangan pasangan, mencari-cari kejelekan misalnya, sampai kepada menyalahkan pihak ketiga. “Bukan saya yang mulai, tapi dia yang menggoda duluan..” itu contoh alasan klasik yang menyalahkan pihak ketiga, padahal setiap manusia punya pilihan apakah mau untuk tetap setia atau menyambut godaan itu.
Mencari orang baik mungkin mudah, tapi mencari orang yang setia sama sulitnya dengan mencari jarum ditumpukan jerami. Jika ini kita alami hari-hari ini, hal yang sama sebenarnya sudah terjadi sejak dahulu kala. Salomo menuliskan hal ini dalam salah satu Amsalnya. “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6). Mengaku teman itu mudah, namun menjadi sahabat yang setia baik dalam suka maupun duka susahnya minta ampun. Dari masa ke masa kita akan terus berhadapan dengan masalah ini, bahkan diantara kita sendiri pun mungkin sulit untuk setia. Padahal masalah kesetiaan ini merupakan salah satu kualitas utama yang diharapkan ada dalam diri orang percaya. Lihatlah apa pesan Paulus kepada Timotius. “…kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.” (1 Timotius 6:11). Sementara Salomo mengingatkan“Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong.”(Amsal 19:22).
Kepada Tuhan pun manusia seringkali sulit untuk setia. Sementara Tuhan memberikan kasih setiaNya yang begitu besar, untuk setia sedikit saja kita susah. Alasannya bisa bermacam-macam. Mulai dari merasa permintaan tidak didengarkan Tuhan, tidak kunjung lepas dari kesulitan, uang, jabatan bahkan jodoh. Tidak jarang kita melihat orang yang rela menyangkal imannya demi kekasih. Tuhan begitu mengasihi kita. Bahkan anakNya yang tunggal pun Dia berikan agar kita semua selamat. Kurang apa lagi? Kehadiran Yesus di dunia ini untuk menggenapkan kehendak Bapa pun sudah menunjukkan sesuatu yang seharusnya bisa kita teladani. Yesus membuktikan kesetiaanNya menanggung segala beban dosa kita sampai mati. Tanpa itu semua mustahil kita bisa menikmati hadirat Tuhan hari ini dan mendapat janji keselamatan setelah episode kehidupan di dunia ini. Kita mengaku sebagai anak Tuhan, tapi kita tidak kunjung bisa meneladaniNya. Disamping itu sering pula kita terus meminta perkara besar dalam doa-doa kita, sementara perkara kecil saja kita tidak bisa menunjukkan kesetiaan dan tanggung jawab. Apa yang dijanjikan Tuhan kepada orang setia sesungguhnya jauh lebih besar daripada berkat dalam kehidupan dunia yang sementara ini.“Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu 2:10c). Ada mahkota kehidupan yang siap dikaruniakan kepada semua orang yang mau taat dan setia sampai mati.
Dalam perumpamaan tentang talenta kita sudah melihat bagaimana Tuhan memandang kesetiaan. Ketika kita diberi perkara kecil, kita harus sanggup mempertanggungjawabkan itu dan melakukannya dengan baik. Lihat apa kata Tuhan kepada hamba yang mampu setia kepada perkara kecil yang dipercayakan Tuhan. “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21,23). Bagaimana reaksi Tuhan kepada orang yang tidak setia? Haruskah Tuhan mempercayakan sesuatu yang lebih besar kepada orang yang tidak sanggup bertanggungjawab dalam perkara kecil? Tentu tidak. “campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”(ay 30). Itu menjadi bagian dari orang yang tidak setia. Maka benarlah nasihat yang diberikan Lukas. “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10).
Mulailah setia dari perkara-perkara kecil. Ketika ada sesuatu yang dipercayakan Tuhan kepada kita, lakukanlah dengan benar dan dengan setia. Bersyukurlah senantiasa, meski apa yang ada saat ini mungkin kecil dibandingkan jerih payah kita, tapi ingatlah bahwa Tuhan pasti menghargai kesungguhan, kejujuran dan kesetiaan anda. Pada saatnya nanti, Dia akan mempercayakan sesuatu yang lebih besar. Menjadi baik saja tidak cukup, kita harus mampu pula meningkatkan kapasitas diri kita untuk menjadi pribadi yang setia, yang bisa dipercaya. Untuk menerima janji dan berkat Tuhan dibutuhkan usaha serius dan perjuangan kita untuk terus setia. Dan semua itu berawal dari hal yang kecil. Tuhan akan melihat sejauh mana kita bisa dipercaya untuk sesuatu yang lebih besar lagi. Tidaklah sulit bagi Tuhan untuk memberkati kita, tapi kita dituntut untuk membuktikan dulu sejauh mana kita mampu setia kepadaNya. Disamping itu, saya pun percaya bahwa lewat hal-hal yang kecilpun Tuhan mampu memberkati kita secara luar biasa. Apapun yang ada pada kita saat ini, bersyukurlah untuk itu, dan lakukan sebaik-baiknya dengan kesetiaan dan kejujuran. Tuhan mampu memberkati itu menjadi luar biasa, dan mempercayakan kita untuk hal-hal yang lebih besar lagi pada waktunya.

Rabu, 11 Mei 2016

Bimbang-Melly Goeslaw

Pertama kali aku tergugahDalam setiap kata yang kau ucapBila malam telah datangTerkadang ingin ku tulis semua perasaan
Kata orang rindu itu indahNamun bagiku ini menyiksaSejenak ku fikirkan untuk ku benci saja dirimuNamun sulit ku membenci
Pejamkan mata bila kuingin bernafas legaDalam anganku aku berada disatuPersimpangan jalan yang sulit kupilih
Ku peluk semua indah hidupkuHikmah yang ku rasa sangat tulusAda dan tiada cinta bagiku tak mengapaNamun ada yang hilang separuhDiriku

Rabu, 04 Mei 2016

Sekedar Menengok, Tidak Apa Kan?

Hari ini entah kenapa saya kangen sekali dengan dia...

Pacar? Bukan... Saya merasa bersalah sekali ketika saya mengingat dia--yang bukan pacar saya. Saya ingat mantan saya, yang pernah sama-sama berjuang selama hampir tiga tahun. Di masa kuliah kami yang sama-sama berat. Dia mahasiswa elektro, saya mahasiswi seni. Bertolak belakang bukan? Saya mendampingi dia dari skripsi hingga wisuda, sampai mencari kerja. Dia pun menemani saya, tapi tidak sampai wisuda. Saya keburu putus dengan dia...

Restu orang tua saya yang menjadi penghalangnya. Entah kenapa, mama saya tidak suka dengan dia. Dia orang baik, tapi menurut mama keluarganya tidak. Saya hanya ingin minta maaf dan memeluk dia untuk terakhir kalinya sebelum saya menikah. Saya ingin minta ampun atas kesalahan yang pernah saya buat, yang pernah menyakiti dia. Saya masih ingat, dia masih rajin mengantar saya kemana-mana walaupun kami tidak ada hubungan apa-apa lagi...


Mungkin kali ini saya hanya sekedar menengok kebelakang. Berkaca pada masa lalu, lalu kembali menatap ke depan.

Selasa, 15 Maret 2016

Curhat Soal Sistem Pendidikan

Sekedar menulis saja...

"Their houses are not larger than what they need in which to comfortably live.  They do not buy or over consume.  They live simply and humbly.  They don’t feel the need to have 300 types of cereal to choose from when 10 will do.  The women wear less make-up.  The men don’t have giant trucks (or any vehicles at all, really).  Instead of buying hundreds of cheap articles of clothing the Finns buy a few expensive items of high quality that will last for decades rather than months.  They truly believe and live by the mentality of less is more." (dikutip dari http://fillingmymap.com/2015/04/15/11-ways-finlands-education-system-shows-us-that-less-is-more/ )


Kehidupan di Finlandia, negara dengan sistem pendidikan terbaik yang menghasilkan putra-putri bangsa yang terbaik di dunia. Masyarakatnya memiliki  motto hidup 'less is more' Mereka tidak membangun rumah yang besar-besar tetapi hanya membangun rumah sesuai dengan kapasitas jumlah anggota keluarganya, tidak 'gila' terhadap mobil, Wanitanya berdandan secukupnya. Sangat berbeda dengan bangsa kita yang berpikir 'more is more'. Memiliki sesuatu yang lebih-entah lebih banyak, lebih mahal, atau lebih besar itu merupakan hal yang hebat.

Termasuk juga didalam sistem pendidikannya. Sekolah di Finlandia hanya berlangsung selama 5 jam dan setiap 45 menit selesai pelajaran mereka diberi istirahat selama 15 menit. Sekolah disana dimulai pada pukul 9.00 pagi. Guru juga jarang sekali memberikan PR dan tidak ada sistem ranking disana (berbeda dengan Indonesia yang selalu mendewakan sebuah angka di dalam nilai).

Anak yang belajar dengan tenang dan santai, lebih mampu menyerap pelajaran dibanding dengan anak yang belajar secara grasa-grusu hanya karena mengejar nilai yang dianggap sempurna oleh masyarakat. Takut nilai jelek, belum lagi dimarahi oleh orang tuanya, takut tidak lulus UN yang hanya berlangsung sekitar 4 hari, takut tidak lulus SNMPTN. Walaupun saya jarang menonton TV, tetapi saya tahu bahwa di beberapa daerah di Indonesia pasti ada berita tentang anak-anak sekolah yang menangis dan pingsan setelah mengerjakan UN, lebih parahnya ada juga yang mati bunuh diri karena tidak lulus.

Tulisan saya ini mungkin tidak terlalu bagus. Saya hanya mengungkapkan apa yang ada di pikiran saya saja.Saya berharap semoga suatu hari sistem pendidikan Indonesia bisa menjadi lebih baik.

Minggu, 07 Februari 2016

Make Over (First Step : Niat ! )

08022016
Wishlists :
Diet to lose 10 kg
Go to dermatologist to make the skin fair and flawless
Braces the teeth
Buy high heels
Hunting the newest fashion style and do it
Wear the fashionable outfit



See? I try to make over my self. Being the woman that (maybe) you want. Yes, I know. Everyday you critisizes me about my make up, my outfit, my shoes, and all that you can look with your eyes. I know the type of woman that you want phsycally. I just try the best yyah, dear.. Promise I never make you embarrassed or somethin like that.

Mungkin sudah saatnya aku berubah. Ninggalin jeans buluk kesayangan aku, ganti dengan rok yang lebih feminim. Nyingkirin semua too simple-flat shoes dan keds aku, ganti dengan kitten heels or high heels. Ganti kaos-kaos adem aku dengan blouse yang fashionable. It is oke if you are happy. Hehehehe...

Quotes tentang ‘be yourself’ semuanya gak ada yang kena di hati aku, apalagi hati kamu, kali....
Iya..iya... tenang aja.. Aku bakalan berubah kok :D



Jumat, 05 Februari 2016

Sepenggal Kisah.........05022016

Pada tulisan ini aku bukannya ingin mengungkit masa laluku (baca : mantan). Hanya saja aku ingin menceritakan kisah bahwa sesungguhnya kita tidak benar-benar pernah tau siapa jodoh kita.
Ini bercerita tentang dia, orang yang pernah aku perjuangkan mati-matian.
Aku berkenalan dengannya di tahun 2010. Ketika itu aku menunggu sepupuku di kampus yang berada di wilayah Salemba, pukul 19.00 malam. Dia duduk didepanku, asik mengobrol dengan temannya. Sepintas aku melihat parasnya yang tampan, dengan wajah lonjong, kulit putih, dan alis yang sedikit tebal. Aku tidak terus-terusan memandanginya, aku lebih banyak memfokuskan mataku ke novel yang sedang aku pegang.
Dia menyapaku,
“Lo nunggu siapa?”
Aku melihatnya, memastikan kalau dia memang bertanya kepadaku. Dan memang benar...
“Nunggu abang gue. Satu mata kuliah lagi.”
Lalu kami berkenalan, bertukar nomor handphone dan akun facebook.
Kami saling dekat dan tidak jadian hingga bulan Agustus 2011, sepulang dari Bali aku bertemu dengannya di Seven Eleven Matraman. Kami mengobrol banyak hal. Dia bercerita baru saja putus dengan pacarnya yang ada di Medan (Ya, dia pernah punya pacar. Sebut saja namanya H. Mereka berpacaran jarak jauh dan hanya kenalan di facebook). Setelah pertemuan itu, aku dan dia makin sering berkomunikasi hingga menonton bioskop bareng.
Hanya dua minggu setelah pertemuan kami di Sevel, kami jadian. Sesimpel itu. Ternyata dia suka denganku sejak lama, hanya tidak berani mengungkapkannya.
Hubungan kami bukan berjalan mulus. Ganjalan datang dari mamaku. Setelah aku mengenalkannya, mamaku mati-matian menentang hubungan kami, hanya karena sub-etnis kami berbeda walaupun sama-sama Batak. Ada satu trauma besar di dalam diri mamaku terhadap sub-etnis ini, sehingga menyebabkan mama tidak suka memiliki kekerabatan dengan sub-etnis tersebut. Aku akui, aku berpikir pendek. Aku hanya tidak habis pikir mengapa sebegitu traumanya mama dan hal ini tidak masuk ke dalam akalku.
Mama memaksaku putus hingga ‘perang’ di rumah sering terjadi. Aku mati-matian mempertahankan orang ini dan akhirnya aku yang menyerah. Aku lelah dan ku akui aku pengecut saat itu.
Akhirnya, kami memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
Yang aku tahu, dia tidak pernah rela...
Yang aku tahu, dia bersikeras bertahan...
Yang pada akhirnya, dia pun menyerah...

Aku pun akhirnya tahu, H mengejarnya ke Jakarta dan mereka saling berpacaran lagi...

Sampai pada akhirnya dua hari yang lalu, seorang teman memberi tahu kalau mereka sudah menikah Desember 2015 lalu. Aku tercengang, bukan karena sakit hati, bukan karena hati ini ada rasa... Tapi aku mengakui kebesaran Tuhan dalam mempertemukan jodoh seseorang.

Sekuat apapun kita bertahan, jika Tuhan berkata ‘tidak’, kita tidak akan pernah ‘jadi’.
Sehebat apapun kita berjuang, jika Tuhan tidak mengizinkan, kita tidak akan mencapai garis finish.
Sejauh apapun jarak kita dengan jodoh kita, jika Tuhan menghendaki, maka kita akan bertemu.
Sesulit apapun menembus pertahanan seseorang, jika Tuhan mau kita bersama dengan orang itu pasti akan terjadi.

Konsep jodoh memang unik dan tidak bisa ditebak. Tuhan merancangnya di luar pikiran manusia. Kisah Hawa diambil dari tulang rusuk Adam ketika Adam tidur memang benar terjadi.
Mungkin dia masih tertidur ketika denganku
Lalu H datang membangunkannya dan mereka bersatu...

Tadinya aku ingin menghubunginya kembali dan meminta maaf atas apa yang telah terjadi di masa lalu. Atas sakit hati yang pernah ku buat terhadap dia. Aku mengurungkan niatku. Biarlah mereka berbahagia tanpa ada aku yang tiba-tiba datang hanya untuk meminta maaf.

































Selamat berbahagia, Phrans Boid Sihaloho,S.H