Jumat, 05 Februari 2016

Sepenggal Kisah.........05022016

Pada tulisan ini aku bukannya ingin mengungkit masa laluku (baca : mantan). Hanya saja aku ingin menceritakan kisah bahwa sesungguhnya kita tidak benar-benar pernah tau siapa jodoh kita.
Ini bercerita tentang dia, orang yang pernah aku perjuangkan mati-matian.
Aku berkenalan dengannya di tahun 2010. Ketika itu aku menunggu sepupuku di kampus yang berada di wilayah Salemba, pukul 19.00 malam. Dia duduk didepanku, asik mengobrol dengan temannya. Sepintas aku melihat parasnya yang tampan, dengan wajah lonjong, kulit putih, dan alis yang sedikit tebal. Aku tidak terus-terusan memandanginya, aku lebih banyak memfokuskan mataku ke novel yang sedang aku pegang.
Dia menyapaku,
“Lo nunggu siapa?”
Aku melihatnya, memastikan kalau dia memang bertanya kepadaku. Dan memang benar...
“Nunggu abang gue. Satu mata kuliah lagi.”
Lalu kami berkenalan, bertukar nomor handphone dan akun facebook.
Kami saling dekat dan tidak jadian hingga bulan Agustus 2011, sepulang dari Bali aku bertemu dengannya di Seven Eleven Matraman. Kami mengobrol banyak hal. Dia bercerita baru saja putus dengan pacarnya yang ada di Medan (Ya, dia pernah punya pacar. Sebut saja namanya H. Mereka berpacaran jarak jauh dan hanya kenalan di facebook). Setelah pertemuan itu, aku dan dia makin sering berkomunikasi hingga menonton bioskop bareng.
Hanya dua minggu setelah pertemuan kami di Sevel, kami jadian. Sesimpel itu. Ternyata dia suka denganku sejak lama, hanya tidak berani mengungkapkannya.
Hubungan kami bukan berjalan mulus. Ganjalan datang dari mamaku. Setelah aku mengenalkannya, mamaku mati-matian menentang hubungan kami, hanya karena sub-etnis kami berbeda walaupun sama-sama Batak. Ada satu trauma besar di dalam diri mamaku terhadap sub-etnis ini, sehingga menyebabkan mama tidak suka memiliki kekerabatan dengan sub-etnis tersebut. Aku akui, aku berpikir pendek. Aku hanya tidak habis pikir mengapa sebegitu traumanya mama dan hal ini tidak masuk ke dalam akalku.
Mama memaksaku putus hingga ‘perang’ di rumah sering terjadi. Aku mati-matian mempertahankan orang ini dan akhirnya aku yang menyerah. Aku lelah dan ku akui aku pengecut saat itu.
Akhirnya, kami memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
Yang aku tahu, dia tidak pernah rela...
Yang aku tahu, dia bersikeras bertahan...
Yang pada akhirnya, dia pun menyerah...

Aku pun akhirnya tahu, H mengejarnya ke Jakarta dan mereka saling berpacaran lagi...

Sampai pada akhirnya dua hari yang lalu, seorang teman memberi tahu kalau mereka sudah menikah Desember 2015 lalu. Aku tercengang, bukan karena sakit hati, bukan karena hati ini ada rasa... Tapi aku mengakui kebesaran Tuhan dalam mempertemukan jodoh seseorang.

Sekuat apapun kita bertahan, jika Tuhan berkata ‘tidak’, kita tidak akan pernah ‘jadi’.
Sehebat apapun kita berjuang, jika Tuhan tidak mengizinkan, kita tidak akan mencapai garis finish.
Sejauh apapun jarak kita dengan jodoh kita, jika Tuhan menghendaki, maka kita akan bertemu.
Sesulit apapun menembus pertahanan seseorang, jika Tuhan mau kita bersama dengan orang itu pasti akan terjadi.

Konsep jodoh memang unik dan tidak bisa ditebak. Tuhan merancangnya di luar pikiran manusia. Kisah Hawa diambil dari tulang rusuk Adam ketika Adam tidur memang benar terjadi.
Mungkin dia masih tertidur ketika denganku
Lalu H datang membangunkannya dan mereka bersatu...

Tadinya aku ingin menghubunginya kembali dan meminta maaf atas apa yang telah terjadi di masa lalu. Atas sakit hati yang pernah ku buat terhadap dia. Aku mengurungkan niatku. Biarlah mereka berbahagia tanpa ada aku yang tiba-tiba datang hanya untuk meminta maaf.

































Selamat berbahagia, Phrans Boid Sihaloho,S.H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar