Fase hidup selanjutnya setelah aku lulus kuliah dan bekerja akan segera tiba dalam waktu tujuh bulan dari sekarang. Rasa deg-degan, khawatir, sedih, bahagia, semua bercampur jadi satu. Apakah aku bisa mempersiapkannya dengan baik? Apakah dana yang dibutuhkan bisa tercukupi? Dan apakah kehidupan setelah menjalankan hari besar itu bisa menjadi lebih baik?
Semua kutanyakan dalam hatiku. Pikiranku bercabang. Semerawut. Aku cuma bisa berusaha dan berdoa sama Tuhan agar semua bisa berjalan lancar. Semoga rezeki aku, dia, dan kedua belah pihak keluarga kami boleh dicukupkan oleh Tuhan. Sehingga semua boleh berbahagia bersama kami.
Untuk materi dan mental, aku hanya merasa semua belum terpenuhi 100%. Masih boros, manajemen keuanganku lumayan buruk. Masih sering ngambek, baperan, dll. Semoga aja semua bisa menjadi lebih baik dari hari ke hari, karena menikah bukan hanya karena cinta...
...
Yang aku tahu, menikah tidak hanya karena aku cinta sama dia, tapi juga memang butuh komitmen yang luar biasa erat. Aku berpedoman pada beberapa ayat yang tertulis di Alkitab, "...apa yang dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia.." dan "..Hendaklah kau setia sampai mati."
.
.
.
Menikah butuh usaha untuk membuat pasangan kita bahagia. Berlaku manis dan berkata hal-hal baik yang bisa menyemangati dan membahagiakan dia.
Menikah butuh kejujuran. Bersatu dengan orang yang tadinya asing, dan kita harus membagi rasa bersama, keluh kesah, masalah, apapun yang kita alami.
Menikah butuh kesabaran untuk paham dengan pasangan. Aku dan dia lahir dari latar belakang keluarga yang berbeda dan memiliki kebiasaan yang berbeda. Memahami sifatnya dan apa yang dia butuhkan kadang masih sulit untuk aku lakukan...
Menikah, bukan karena dua orang sempurna bersatu untuk bekerja sama membangun kehidupan, tapi dua orang yang jauh dari sempurna saling mendukung dalam perbedaan yang ada..
.
.
.
.
-Shinta-
13.05
Kamis, 09 Februari 2017
Selasa, 15 November 2016
My 25
My 25
Thanks to God, because of HIS blessings until this day. Segala
sesuatu (mungkin) dimulai di usia ini. Well, usia 25 bukan hanya sekedar
memikirkan anti-aging apa yang cocok untuk kulit saya, ke Pulau mana saya harus
berwisata sebelum... ehem.. saya dibawa orang...
25... berarti saya tidak bisa lagi bermain-main dengan
pekerjaan saya. Berbeda sekali ketika saya masih duduk di tingkat akhir-dimana
saya bisa bekerja sambilan atau masa-masa dimana saya bisa seenaknya pindah
tempat kerja hanya karena teman kerja saya kurang asik. Saya sadar, pengalaman
yang banyak dan mendalam sangat dibutuhkan untuk jenjang karir saya berikutnya. Saya sadar, usia 25
tidak lagi bisa seperti usia 20an awal. Dimana saya bisa dengan entengnya
membuang uang untuk sekedar ngopi-ngopi haha-hihi, yang akhirnya saya berpikir
40ribu-50ribu jika saya simpan secara rutin bisa membeli sesuatu yang jauh
lebih penting.
25... berarti tidak ada lagi sifat egois dan kekanak-kanakan ala
anak tunggal yang dulu kental saya miliki. Berbagi. Sepupu yang segudang,
keponakan yang bisa dibuat kesebelasan, dan orang-orang tua yang bisa saya ajak
mengobrol tentang kehidupan keluarga, membuat saya berpikir bahwa mengantarkan mama
saya arisan jangan hanya duduk dan bermain HP, tapi juga bersosial dengan
keluarga lainnya.
25... berarti tidak seenaknya FLING dengan orang lain selain
kekasih. Tidak bisa lagi bermain-main karena usia sudah banyak dan untuk ini semua butuh
keseriusan. Mempererat komitmen dengan dia yang selalu setia dengan keadaan
saya.
Yah.. Saya rasa hidup saya sudah cukup bermakna.Berkat Tuhan
yang tidak berhenti mengalir, Kebawelan ibu saya, ngambek-ngambeknya keponakan
saya kalau saya hanya mampir ke rumah mereka sebentar-hanya sekedar memeluk dan
mencium pipinya, rusuh dan lucunya abang-abang sepupu saya yang super excited mempersiapkan pernikahan saya sampai-sampai mereka mencoba mendesign kebaya saya (haduuuh..tepok jidat), support dari teman-teman
terdekat saya, bisa berkumpul dengan PAB 2017 komunitas baru saya, dan... mempersiapkan hari
besar dalam hidup saya dengan dia...
Terima kasih, Tuhan.. Pastinya berkat Tuhan selalu ada, saya-nya aja yang kurang bersyukur
Terima kasih, Mami..kalo gak dibawelin gak bakal jadi kayak gini
Terima kasih, Aju dan Lita... Supporter hidup saya yg rela-rela aja rumahnya saya jadikan tempat istirahat kalau sedang bolos
Terima kasih, Ito dan Eda..Yang selalu repot pengen saya kayak gini, kayak gitu untuk hari besar itu..
Terima kasih, kakak Tita, abang Teo, adek Tier buat kasih sayangnya ke Aunty Shintaaaa...
Terima kasih, Fidi...Yang selalu sabar dengan mood saya dari zaman kuliah
Terima kasih PAB 2017 yang super rempong, gosip sana sini, ejek2an sana sini, sharing vendor sana sini.. Plis, jangan suka baper kita yaaak..
Terima kasih, Cinta...
Senin, 07 November 2016
Selamat Merayakan Delapan Yang Ke-2
Merayakan delapan yang kedua
Tidak banyak yang bisa aku sampaikan. Cukup saja aku mengenang bagaimana proses kita bisa saling berbicara kembali setelah hampir lima tahun berpisah waktu itu. Bagaimana sesimple itu kita bisa kembali bertemu dengan jujur, tanpa embel-embel hanya ingin berteman saja-urusan pacaran belakangan saja-padahal ujung2nya pacaran juga. Tidak, semua mengalir begitu saja. Setelah terpisah selama itu, kita bisa dengan santainya menyapa,”Apa kabar?” dan “Masih ingat aku kan?”, kemudian terus saling berkomunikasi sampai pada akhirnya di titik delapan itu kita berkomitmen dengan seriusnya. Bersama-sama berperang melawan sakitnya masa lalu, terus berkomitmen menepis semua ketidakcocokan hanya dengan satu kalimat di dalam hati-yang selalu mengingatkan aku untuk tidak berpaling lagi. Kita terus mencoba bangkit ‘kan? Dari hari ke hari dengan segala amarah, tangis, dan tawa. Dari mulai kita saling berdiam karena canggung sampai sekarang kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak tertutupi lagi antara kita. Mulai dari rasa bingung ketika kamu marah dan yang tidak pernah aku mengerti kenapa kalau kamu marah pasti selalu diam dan berbicara seperlunya, sampai sudah mengerti kalau kamu makan sesuatu pasti selalu ada motto ‘save the best for the last’. Yah... kamu selalu menyisihkan lauk yang menurutmu paling enak untuk dimakan terakhir and see what? Kebiasaanmu yang satu itu sama sepertiku. Sepaham itu pula aku mengerti kalau kamu susah fokus untuk mendengarkan semua rentetan ceritaku setiap hari yang ujung-ujungnya aku akan selalu marah karena kamu tidak selalu menangkap apa isi curhatanku. Aku tidak selalu mengingat banyak hal yang sudah pernah kita lalui.Tentu kamu tahu kan kebiasaan pelupaku? Hahaha..
Well, semoga semakin hari kita semakin menjadi lebih baik. Semoga semua cita-cita kita bisa diberkati oleh Tuhan dan semua bisa terjadi oleh karena kehendak-Nya. Mungkin kita jarang untuk mengatakan ‘I Love You’, tapi kita tahu secuek apapun kita, kita akan tetap kembali ke ‘rumah’ dan itu ada di dalam hati kita. Selamat merayakan delapan yang kedua sayang.. I LOVE YOU
Tidak banyak yang bisa aku sampaikan. Cukup saja aku mengenang bagaimana proses kita bisa saling berbicara kembali setelah hampir lima tahun berpisah waktu itu. Bagaimana sesimple itu kita bisa kembali bertemu dengan jujur, tanpa embel-embel hanya ingin berteman saja-urusan pacaran belakangan saja-padahal ujung2nya pacaran juga. Tidak, semua mengalir begitu saja. Setelah terpisah selama itu, kita bisa dengan santainya menyapa,”Apa kabar?” dan “Masih ingat aku kan?”, kemudian terus saling berkomunikasi sampai pada akhirnya di titik delapan itu kita berkomitmen dengan seriusnya. Bersama-sama berperang melawan sakitnya masa lalu, terus berkomitmen menepis semua ketidakcocokan hanya dengan satu kalimat di dalam hati-yang selalu mengingatkan aku untuk tidak berpaling lagi. Kita terus mencoba bangkit ‘kan? Dari hari ke hari dengan segala amarah, tangis, dan tawa. Dari mulai kita saling berdiam karena canggung sampai sekarang kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak tertutupi lagi antara kita. Mulai dari rasa bingung ketika kamu marah dan yang tidak pernah aku mengerti kenapa kalau kamu marah pasti selalu diam dan berbicara seperlunya, sampai sudah mengerti kalau kamu makan sesuatu pasti selalu ada motto ‘save the best for the last’. Yah... kamu selalu menyisihkan lauk yang menurutmu paling enak untuk dimakan terakhir and see what? Kebiasaanmu yang satu itu sama sepertiku. Sepaham itu pula aku mengerti kalau kamu susah fokus untuk mendengarkan semua rentetan ceritaku setiap hari yang ujung-ujungnya aku akan selalu marah karena kamu tidak selalu menangkap apa isi curhatanku. Aku tidak selalu mengingat banyak hal yang sudah pernah kita lalui.Tentu kamu tahu kan kebiasaan pelupaku? Hahaha..
Well, semoga semakin hari kita semakin menjadi lebih baik. Semoga semua cita-cita kita bisa diberkati oleh Tuhan dan semua bisa terjadi oleh karena kehendak-Nya. Mungkin kita jarang untuk mengatakan ‘I Love You’, tapi kita tahu secuek apapun kita, kita akan tetap kembali ke ‘rumah’ dan itu ada di dalam hati kita. Selamat merayakan delapan yang kedua sayang.. I LOVE YOU
Senin, 29 Agustus 2016
29aug2016
dia... pria
paling sabar yang pernah saya temui. Berulang kali saya membuat dia kesal,
mungkin marah walau hanya dipendam dalam hati, dia tetap diam dan dengan senyum
terus menanggapi omelan-omelan saya. Hal ini terus berulang selama 1.5 tahun
lebih menjalin hubungan.
Tapi,
mungkin kali ini dia lelah
Lelah dengan
saya yang terus menerus mengomel tanpa ada sebab jelas
Lelah dengan
saya yang tidak pernah merasa puas dengan berat badan dan lekuk tubuh yang ada
Lelah dengan
saya yang selalu saja mengeluh tentang jerawat di wajah
Dia lelah
dan saya merasa sudah saatnya berhenti.
Terlalu
rumit untuk bercerita tentang kisah masa kecil saya yang membentuk diri saya
sampai tidak pernah bisa percaya diri lagi. Terlalu kompleks untuk diketahui
banyak teman dekat termasuk kekasih sendiri.
Saya gak mau
kehilangan dia, walaupun sekarang dia rela kehilangan saya.
Yang saya
tahu, saat ini saya tidak lagi cukup baik untuk kehidupannya. Apa yang harus
diperjuangkan lagi, jika dia sudah benci dengan saya, lengkap dengan hidup
saya.
Saya Cuma
bisa menerima dia apa adanya, tanpa berharap dia juga bisa menerima saya tanpa
syarat
saya Cuma
bisa sayang dengan dia sekuat ini, tanpa berharap rasa sayangnya kembali
seperti dulu...
Ketika dia
meminta saya pergi dari hidupnya, mungkin dia akan berjalan terus. tapi bagi
saya, dunia saya sudah berakhir...
Jumat, 10 Juni 2016
Dicari, Cowok Setia ! (Co-pas : http://24hoursworship.com/dicari-cowok-setia/ )
“Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?”
“Dicari, cowok setia”. Demikian status salah seorang teman di sebuah situs jejaring. Sebegitu sulitnyakah mencari cowok setia? Dari komentar-komentar yang ada ternyata ia baru saja putus karena pasangannya ketahuan selingkuh. Jika kita melihat perkembangan di jaman modern ini masalah kesetiaan memang menjadi barang yang semakin langka. Ketidaksetiaan semakin lama semakin dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Lewat berbagai lagu, film dan kejadian sehari-hari kita terus menemukan berbagai bentuk ketidaksetiaan sebagai sesuatu yang manusiawi dan lumrah. Tidak heran maka semakin lama semakin sulit saja menemukan sosok manusia yang bisa setia, baik dalam hubungan, pekerjaan dan sebagainya, termasuk tentunya pada Tuhan. Ada banyak alasan yang bisa dijadikan dasar untuk melegalkan ketidaksetiaan itu. Membesar-besarkan kekurangan pasangan, mencari-cari kejelekan misalnya, sampai kepada menyalahkan pihak ketiga. “Bukan saya yang mulai, tapi dia yang menggoda duluan..” itu contoh alasan klasik yang menyalahkan pihak ketiga, padahal setiap manusia punya pilihan apakah mau untuk tetap setia atau menyambut godaan itu.
Mencari orang baik mungkin mudah, tapi mencari orang yang setia sama sulitnya dengan mencari jarum ditumpukan jerami. Jika ini kita alami hari-hari ini, hal yang sama sebenarnya sudah terjadi sejak dahulu kala. Salomo menuliskan hal ini dalam salah satu Amsalnya. “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6). Mengaku teman itu mudah, namun menjadi sahabat yang setia baik dalam suka maupun duka susahnya minta ampun. Dari masa ke masa kita akan terus berhadapan dengan masalah ini, bahkan diantara kita sendiri pun mungkin sulit untuk setia. Padahal masalah kesetiaan ini merupakan salah satu kualitas utama yang diharapkan ada dalam diri orang percaya. Lihatlah apa pesan Paulus kepada Timotius. “…kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.” (1 Timotius 6:11). Sementara Salomo mengingatkan“Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong.”(Amsal 19:22).
Kepada Tuhan pun manusia seringkali sulit untuk setia. Sementara Tuhan memberikan kasih setiaNya yang begitu besar, untuk setia sedikit saja kita susah. Alasannya bisa bermacam-macam. Mulai dari merasa permintaan tidak didengarkan Tuhan, tidak kunjung lepas dari kesulitan, uang, jabatan bahkan jodoh. Tidak jarang kita melihat orang yang rela menyangkal imannya demi kekasih. Tuhan begitu mengasihi kita. Bahkan anakNya yang tunggal pun Dia berikan agar kita semua selamat. Kurang apa lagi? Kehadiran Yesus di dunia ini untuk menggenapkan kehendak Bapa pun sudah menunjukkan sesuatu yang seharusnya bisa kita teladani. Yesus membuktikan kesetiaanNya menanggung segala beban dosa kita sampai mati. Tanpa itu semua mustahil kita bisa menikmati hadirat Tuhan hari ini dan mendapat janji keselamatan setelah episode kehidupan di dunia ini. Kita mengaku sebagai anak Tuhan, tapi kita tidak kunjung bisa meneladaniNya. Disamping itu sering pula kita terus meminta perkara besar dalam doa-doa kita, sementara perkara kecil saja kita tidak bisa menunjukkan kesetiaan dan tanggung jawab. Apa yang dijanjikan Tuhan kepada orang setia sesungguhnya jauh lebih besar daripada berkat dalam kehidupan dunia yang sementara ini.“Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu 2:10c). Ada mahkota kehidupan yang siap dikaruniakan kepada semua orang yang mau taat dan setia sampai mati.
Dalam perumpamaan tentang talenta kita sudah melihat bagaimana Tuhan memandang kesetiaan. Ketika kita diberi perkara kecil, kita harus sanggup mempertanggungjawabkan itu dan melakukannya dengan baik. Lihat apa kata Tuhan kepada hamba yang mampu setia kepada perkara kecil yang dipercayakan Tuhan. “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21,23). Bagaimana reaksi Tuhan kepada orang yang tidak setia? Haruskah Tuhan mempercayakan sesuatu yang lebih besar kepada orang yang tidak sanggup bertanggungjawab dalam perkara kecil? Tentu tidak. “campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”(ay 30). Itu menjadi bagian dari orang yang tidak setia. Maka benarlah nasihat yang diberikan Lukas. “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10).
Mulailah setia dari perkara-perkara kecil. Ketika ada sesuatu yang dipercayakan Tuhan kepada kita, lakukanlah dengan benar dan dengan setia. Bersyukurlah senantiasa, meski apa yang ada saat ini mungkin kecil dibandingkan jerih payah kita, tapi ingatlah bahwa Tuhan pasti menghargai kesungguhan, kejujuran dan kesetiaan anda. Pada saatnya nanti, Dia akan mempercayakan sesuatu yang lebih besar. Menjadi baik saja tidak cukup, kita harus mampu pula meningkatkan kapasitas diri kita untuk menjadi pribadi yang setia, yang bisa dipercaya. Untuk menerima janji dan berkat Tuhan dibutuhkan usaha serius dan perjuangan kita untuk terus setia. Dan semua itu berawal dari hal yang kecil. Tuhan akan melihat sejauh mana kita bisa dipercaya untuk sesuatu yang lebih besar lagi. Tidaklah sulit bagi Tuhan untuk memberkati kita, tapi kita dituntut untuk membuktikan dulu sejauh mana kita mampu setia kepadaNya. Disamping itu, saya pun percaya bahwa lewat hal-hal yang kecilpun Tuhan mampu memberkati kita secara luar biasa. Apapun yang ada pada kita saat ini, bersyukurlah untuk itu, dan lakukan sebaik-baiknya dengan kesetiaan dan kejujuran. Tuhan mampu memberkati itu menjadi luar biasa, dan mempercayakan kita untuk hal-hal yang lebih besar lagi pada waktunya.
Rabu, 11 Mei 2016
Bimbang-Melly Goeslaw
Pertama kali aku tergugahDalam setiap kata yang kau ucapBila malam telah datangTerkadang ingin ku tulis semua perasaan
Kata orang rindu itu indahNamun bagiku ini menyiksaSejenak ku fikirkan untuk ku benci saja dirimuNamun sulit ku membenci
Pejamkan mata bila kuingin bernafas legaDalam anganku aku berada disatuPersimpangan jalan yang sulit kupilih
Ku peluk semua indah hidupkuHikmah yang ku rasa sangat tulusAda dan tiada cinta bagiku tak mengapaNamun ada yang hilang separuhDiriku
Kata orang rindu itu indahNamun bagiku ini menyiksaSejenak ku fikirkan untuk ku benci saja dirimuNamun sulit ku membenci
Pejamkan mata bila kuingin bernafas legaDalam anganku aku berada disatuPersimpangan jalan yang sulit kupilih
Ku peluk semua indah hidupkuHikmah yang ku rasa sangat tulusAda dan tiada cinta bagiku tak mengapaNamun ada yang hilang separuhDiriku
Rabu, 04 Mei 2016
Sekedar Menengok, Tidak Apa Kan?
Hari ini entah kenapa saya kangen sekali dengan dia...
Pacar? Bukan... Saya merasa bersalah sekali ketika saya mengingat dia--yang bukan pacar saya. Saya ingat mantan saya, yang pernah sama-sama berjuang selama hampir tiga tahun. Di masa kuliah kami yang sama-sama berat. Dia mahasiswa elektro, saya mahasiswi seni. Bertolak belakang bukan? Saya mendampingi dia dari skripsi hingga wisuda, sampai mencari kerja. Dia pun menemani saya, tapi tidak sampai wisuda. Saya keburu putus dengan dia...
Restu orang tua saya yang menjadi penghalangnya. Entah kenapa, mama saya tidak suka dengan dia. Dia orang baik, tapi menurut mama keluarganya tidak. Saya hanya ingin minta maaf dan memeluk dia untuk terakhir kalinya sebelum saya menikah. Saya ingin minta ampun atas kesalahan yang pernah saya buat, yang pernah menyakiti dia. Saya masih ingat, dia masih rajin mengantar saya kemana-mana walaupun kami tidak ada hubungan apa-apa lagi...
Mungkin kali ini saya hanya sekedar menengok kebelakang. Berkaca pada masa lalu, lalu kembali menatap ke depan.
Pacar? Bukan... Saya merasa bersalah sekali ketika saya mengingat dia--yang bukan pacar saya. Saya ingat mantan saya, yang pernah sama-sama berjuang selama hampir tiga tahun. Di masa kuliah kami yang sama-sama berat. Dia mahasiswa elektro, saya mahasiswi seni. Bertolak belakang bukan? Saya mendampingi dia dari skripsi hingga wisuda, sampai mencari kerja. Dia pun menemani saya, tapi tidak sampai wisuda. Saya keburu putus dengan dia...
Restu orang tua saya yang menjadi penghalangnya. Entah kenapa, mama saya tidak suka dengan dia. Dia orang baik, tapi menurut mama keluarganya tidak. Saya hanya ingin minta maaf dan memeluk dia untuk terakhir kalinya sebelum saya menikah. Saya ingin minta ampun atas kesalahan yang pernah saya buat, yang pernah menyakiti dia. Saya masih ingat, dia masih rajin mengantar saya kemana-mana walaupun kami tidak ada hubungan apa-apa lagi...
Mungkin kali ini saya hanya sekedar menengok kebelakang. Berkaca pada masa lalu, lalu kembali menatap ke depan.
Langganan:
Postingan (Atom)








